Senin, 26 Aug 2019
radarjombang
icon featured
Hukum

Dua Pemuda Peterongan Anggota Sindikat Peredaran Uang Palsu Dibekuk

05 April 2019, 10: 29: 03 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Dua tersangka saat digelandang ke sel tahanan Mapolres Jombang.

Dua tersangka saat digelandang ke sel tahanan Mapolres Jombang. (M.Nasikhuddin/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG –  Dua pemuda asal Kecamatan Peterongan diringkus polisi. Keduanya diduga terlibat dalam peredaran uang palsu (upal) di Jombang. Dari penangkapan ini, polisi menyita puluhan lembar uang palsu pecahan Rp 50 ribu.

Kedua pelaku, Defit Sujianto, 26, asal Dusun Kalangan, Desa Keplaksari, Kecamatan Peterongan dan Dwiky Muddasir, 22, asal Desa/Kecamatan Peterongan. ”Keduanya sudah kita amankan, masih kita periksa intensif,” terang Kasatreskrim Polres Jombang AKP Azi Pratas Guspitu, kemarin.

Penangkapan pelaku bermula informasi peredaran upal di wilayah Jombang, tepatnya di Jalan Pahlawan. Polisi lantas bergerak menelusuri dan mengendus identitas Defit. 

Polisi terus mempelajari gerak gerik pemuda pengangguran tersebut. Upaya petugas membuahkan hasil. Pelaku terlihat muncul di salah satu warung kopi di wilayah Peterongan. Yakin dengan buruannya tersebut, petugas segera menyergap.

Meski sempat mengelak, namun setelah petugas menggeledah, di dalam dompetnya terdapat sejumlah lembaran uang pecahan Rp 50 ribu diduga palsu. ”Dari dompet pelaku kita temukan sembilan lembar,” bebernya.

Tak berhenti di situ, petugas selanjutnya menggelandang pelaku ke rumahnya dan menemukan sejumlah barang bukti lembaran uang diduga palsu. ”Kita geledah rumahnya, ternyata kita temukan ada 35 lembar upal pecahan Rp 50 ribu. Kita cek nomor seri sama semua. Sebagian sudah diedarkan,” imbuhnya.

Setelah dicecar pertanyaan petugas, pelaku mengaku mencetak upal di salah satu warnet di wilayah Peterongan. Petugas segera bergerak menelusuri dan berhasil mengamankan Dwiky Muddasir, 22, penjaga warnet.

Selain itu, petugas menyita barang bukti seperangkat komputer yang digunakan pelaku mencetak upal. ”Jadi pelaku DF waktu itu datang ke warnet, terus men-download gambar uang Rp 50 ribu, kemudian minta ke penjaga warnet untuk dicetak. Karena, hasilnya tidak bagus, akhirnya Df minta DM untuk mengedit sekaligus mencetak lembaran upal, biaya cetal per lembar di kertas HVS Rp 1.000 sesuai tarif biasa,” imbuhnya.

Sampai dengan saat ini, polisi masih terus mendalami pemeriksaan terhadap keduanya. ”Pengakuannya mereka tidak saling kenal, masih kita dalami penyidikan,” imbuhnya. Atas perbuatannya, polisi menjerat Defin Sujianto pasal 36 ayat (1), (2) dan (3) UU RI nomor 7 tahun 2011 tentang mata uang. Ancaman pidana penjara paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp 50 miliar.

Adapun terhadap oknum penjaga warnet, polisi menjerat pasal 36 ayat (1) UU RI nomor 7 tahun 2011 lantaran perbuatannya diduga memalsu mata uang rupiah. ”Keduanya sudah kita lakukan penahanan, masih kita dalami,” singkat Pratas. (*)

(jo/naz/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia