Minggu, 19 May 2019
radarjombang
icon featured
Hukum

Cabuli Siswi di Gudang Musala, Eko Agriawan Dituntut 15 Tahun Penjara

05 April 2019, 10: 27: 21 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Ilustrasi; vonis hakim

Ilustrasi; vonis hakim (Dok/Jawa Pos Radar Jombang)

JOMBANG - Eko Agriawan, terdakwa Kasus dugaan persetubuhan terhadap siswi SMP di Jombang terancam hukuman berat. Itu setelah jaksa menuntut hukuman pidana 15 tahun perjara terhadap oknum guru PNS ini. Atas tuntutan jaksa, terdakwa langsung mengajukan keberatan.

“Terhadap terdakwa kita ajukan tuntutan hukuman pidana penjara 15 tahun,” Terang Kasipidum Kejaksaan Negeri (Kejari) Jombang Tedhy Widodo melalui jaksa penuntut umum  Masusanto, kemarin.

Atas tuntutan JPU, lanjut Tedhy, pihak terdakwa langsung mengajukan pledoi (keberatan). “Sidang ditunda dua pekan ke depan,” imbuhnya. Dalam persidangan terungkap, perbuatan amoral pelaku dilakukan di lingkungan sekolah. “Awalnya korban hanya dicabuli saja,” bebernya.

Saat itu bersamaan kegiatan masa orientasi siswa (MOS) di sekolah sekitar Juni 2017. Korban Bunga, 13, (nama samaran) tercatat sebagai siswi baru. Dalam menjalankan aksinya, pelaku memperdayai korban dengan iming-iming jasa rukyah (metode pengobatan). “Ternyata itu akal-akalan pelaku saja. Dalam praktiknya justru korban diperlakukan cabul,” bebernya.

Setelah kejadian tersebut, bukannya insaf, justru perbuatan korban semakin manjadi-jadi. Selang beberapa bulan setelahnya, sekolah mengadakan kegiatan kemah sekitar Nopember 2017. Kesempatan itu tidak disia-siakan pelaku. Bertindak sebagai salah satu guru pembina pramuka, pelaku cukup leluasa mendekati korban. Lagi-lagi pelaku memperdayai korbannya dengan jasa rukyah. Dengan cerdiknya, pelaku berhasil menggiring korban ke musala. 

Setelah korban terperdaya, pelaku lantas menggiringnya menuju gudang musala. “Di dalam gudang musala, korban disetubuhi,” imbuhnya. Karena merasa ketakutan, korban pun tak berani menceritakan perbuatan bejat oknum gurunya tersebut. Hingga kasusnya terbongkar setelah sejumlah siswa lainnya melaporkan perbuatan pelaku ke pihak sekolah yang selanjutnya diteruskan ke kepolisian. (*)

(jo/naz/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia