Senin, 26 Aug 2019
radarjombang
icon featured
Berita Daerah

Melihat Jasa Cuci Karung Bekas di Jabon yang Bergantung Air Sungai

05 April 2019, 09: 31: 34 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Kondisi rumah warga yang penuh dengan karung bekas.

Kondisi rumah warga yang penuh dengan karung bekas. (Achmad RW/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG - Menjadi buruh cuci karung bekas ternyata juga bisa memberikan penghasilan yang lumayan. Seperti yang dilakukan beberapa warga di Dusun Caruk Kulon, Desa Jabon, Kecamatan/Kabupaten Jombang ini.

YA, penghasilan mereka dari pekerjaan ini ternyata bisa mencapai ratusan ribu rupiah per hari, tergantung kondisi air sungai. Makin banyak mencuci, makin banyak bayaran yang diterima.

Kemarin, sejumlah tumpukan karung putih terlihat bertebaran di pinggir Sungai Gude ini. Diletakkan berjajar di tanggul sungai, benda ini nampak dikeringkan, beberapa bahkan nampak basah.

Tak jauh dari sungai ini, beberapa rumah warga juga terlihat berhias karung-karung putih ini. Di halaman rumah, karung masih terlihat kusut tak beraturan dengan warna yang juga kusam. Sementara di bagian depan dan pelataran rumah, sejumlah karung terlihat sudah tertata dengan rapi. Beberapa memang hanya ditumpuk, namun kebanyakan telah digulung rapi.

“Yang di pinggir sungai itu baru selesai dicuci mas, sedang dijemur. Lha yang di halaman ini masih kotor besok mau dicuci, kalau yang gulungan itu yang sudah bersih,” ucap Karomah, 47 pemilik rumah.

Ya, beberapa warga di dusun ini adalah orang-orang yang pekerjaannya membersihkan karung. Karung-karung kotor setiap hari datang dari beberapa pengepul untuk dijasakan kepada warga. “Di sini ada tiga  usaha semacam ini, dan usahanya juga sudah lama. Saya saja sudah dua puluh tahun,” lanjutnya.

Karomah bercerita, setiap harinya karung-karung ini biasanya datang dengan jumlah ribuan. Setiap pagi hingga siang hari, warga akan turun sungai untuk membersihkan satu per satu karung ini. Alatnya pun sederhana, hanya tangan jika kotoran tidak terlaku tebalm dan sikat jika kotoran terhitung membandel.

’’Kerjanya memang lebih banyak pagi, nanti siang selesai terus dijemur sampai sore. Kalau sudah kering digulung, satu gulungan berisi 50 karung biasanya. Kalau macam-macam karungnya yang paling umum memang karung bekas pupuk sama bekasnya bekatul. Dua itu yang paling banyak,” imbuhnya.

Jika dikerjakan sendiri, Karomah mengaku setiap harinya mampu membersihkan 1.000-1.500 karung. Jumlah ini bisa berlipat ganda ketika suaminya juga ikut membantu. Upah yang diterimanya pun lumayan, ia bisa mendapat uang  lebih dari Rp 100 ribu per hari. 

’’Kita kan jasa pembersihan ya, jadi upahnya itu Rp 100 ribu per 1.000 karung bersih. Tapi itu tergantung kondisi juga, pas ada karung yang ditaruh sini atau tidak. Kedua kondisi sungai juga sangat berpengaruh,” tambah ibu tiga anak ini.

Ya, aliran Sungai Gude di dekat rumahnya ini memang disebutnya cukup vital untuk bisnis ini. Lantaran warga memang menggantungkan satu-satunya alat pembersih untuk karung-karung ini adalah dengan aliran air sungai. “Jadi kalau airnya ada ya kita bisa nyuci, kalau pas kering begitu ya kita terpaksa harus libur,” pungkasnya.

Karung-karung kotor itu cukup dimasukkan ke dalam air sambil diucek-ucek, kotoran langsung larut terbawa air sungai. ’’Kalau air sungai lumayan deras, karungnya cepat bersih,’’ ujarnya. (*)

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia