Senin, 18 Nov 2019
radarjombang
icon featured
Berita Daerah

Keluh Kesah Petani Usai Panen Raya, Hasil Minim dan Anjloknya Harga

04 April 2019, 12: 49: 53 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Petani di wilayah Mojoagung yang melakukan proses tanam di sawah.

Petani di wilayah Mojoagung yang melakukan proses tanam di sawah. (M.Nasikhuddin/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG - Musim panen kali ini, para petani tak bisa sumringah. Harga jual gabah  anjlok. Meski begitu, petani tak punya banyak pilihan kecuali segera melepas hasil panen ke tengkulak, lantaran butuh modal untuk kembali bisa bercocok tanam.

”Musim panen kali ini, petani remuk mas. Harga gabah anjlok, untung minim, sudah begitu biaya tanam mahal, obat-obatan dan pupuk juga mahal, petani susah sekarang mas,” ungkap Khoiri, 45, salah satu petani di wilayah Mojoagung.

Lebih lanjut dirinya merinci biaya yang dikeluarkan untuk tanam padi. Dari luasan lahan sebahu (7.000 m2) yang dirinya garap musim kemarin, setidaknya mengeluarkan biaya sekitar Rp 5 juta.

Salah satunya biaya yang dikeluarkan menjelang tanam. Tahap ini, dirinya harus mengeluarkan uang untuk biaya pembelian benih. ”Harga benih tergantung merek, kalau dirata-rata perkilogram benih sekitar Rp 15 ribu, dengan luasan sebahu, butuh kisaran 40 kilogram benih,” bebernya.

Selanjutnya, dirinya harus mengeluarkan tenaga untuk kegiatan pembedengan. ”Ini butuh waktu setidaknya 17 – 20 hari, batang padi siap ditanam,” bebernya. Sambil menunggu benih siap ditanam, dirinya harus mulai menyiapkan biaya untuk sewa hand traktor serta honor operatornya guna mengolah lahan. ”Kalau dulu biaya sekitar Rp 750 ribu, sekarang naik menjadi Rp 800 ribu,” imbuhnya.

Jadi lanjut Khoiri, sebelum siap ditanami, dirinya harus terlebih dulu merobohkan batang padi sisa panen. Bahkan, tidak jarang untuk mempercepat pembusukan jerami, sejumlah petani mengeluarkan biaya untuk pembelian obat. ”Untuk percepatan pembusukan, kadang-kadang juga dikasih obat,” bebernya.

Setelah menunggu sekitar lima hari, tanah yang sudah diolah mulai siap ditanami. Lagi-lagi dirinya harus merogoh kocek untuk membayar upah pekerja. ”Untuk menanam, bisa menggunakan mesin, bisa juga manual. Kebetulan saya tanam manual, bukan mesin,” bebernya.

Terkait besaran biaya, dirinya tak bisa menyebutkan secara pasti, sebab selain biaya untuk upah buruh tanam, dirinya juga harus mengeluarkan uang untuk akomodasi pekerja. ”Kan selain upah, kita juga sediakan sarapan, minuman untuk pekerja tanam. Kalau ditaksir bisa mencapai sekitar Rp 1,8 juta, untuk biaya sewa hand tractor termasuk upah pekerja, biasanya sistemnya satu paket,” bebernya.

Setelah proses tanam rampung, sepekan kemudian, dirinya harus kembali mengeluarkan biaya guna tahap pemupukan tahap pertama. ”Ini masing-masing petani kadang berbeda, umumnya menggunakan tiga macam, Urea, SP 36 dan phonska. Sebahu butuh sekitaran 2,5 kuintal pupuk, ini juga menyesuaikan kondisi cuaca, tentunya keluar uang banyak untuk beli pupuk,” imbuhnya.

Setelah tahap ini, dirinya mulai bisa istirahat sejenak, sambil menyiapkan uang untuk kegiatan pemupukan tahap kedua. ”Jedanya antara pemupukan tahap pertama dan kedua, sekitar 1,5 bulan, kadang ada juga petani yang lebih singkat,” bebernya.

Lagi-lagi Khoiri harus merogoh kocek guna membeli stok pupuk. Untungnya, di tahap pemupukan kedua, pupuk yang dibutuhkan tidak sebanyak pemupukan tahap pertama. ”Kalau di tahap kedua pemupukan butuh kisaran 1,5 kuintal saja. Seringkali mencarinya susah, untung sementara ini tidak sampai terjadi kelangkaan,” bebernya.

Setelah pemupukan tahap kedua rampung, bukan berarti dirinya bisa duduk tenang menunggu masa panen, sebab Khoiri mengaku rutin mengecek tanaman, salah satunya ancaman hama. ”Jadi kita cek terus, misal ada indikasi serangan hama, kita harus tanggap, harus cepat dicarikan obatnya, sebab kalau terlambat penanganannya risikonya bisa gagal panen. ”Kalau untuk padi, yang ditakuti petani serangan wereng, juga tikus, otomatis kalau menanggulangi hama, keluar biaya lagi,” imbuhnya.

Di luar itu, masih ada biaya yang harus dirinya sediakan untuk upah pekerja. ”Penyulangan atau istilah lainnya dadak. Jadi, membersihkan rumput dari lahan, bisa manual, bisa juga dengan memberinya obat-obatan,” bebernya.

Di luar itu, dirinya pun masih harus menyiapkan uang, salah satunya terkait irigasi. ”Kebetulan di wilayah Betek, irigasinya baik, tapi tetap kita harus siapkan biaya untuk irigasi. Kalau dikalkulasi, mungkin biaya garap lahan sebahu bisa mencapai sekitar Rp 5 juta,” bebernya. 

Ditanya masa panen, umumnya ketika usia padi sudah mencapai 105 hari, baru siap dipanen. ”Memang kalau terlalu dini di panen kurang bagus, atau sebaliknya terlalu lama juga pengaruh ke hasil panen. Tapi kebanyakan kalau sudah deal harga dengan tengkulak, sudah kita lepas, terserah tengkulak memanen kapan,” bebernya.

Kebetulan tahun ini, kebanyakan petani mengeluh harga gabah yang anjlok, khususnya bersamaan panen raya. ”Kalau standar Rp 3.700, ini malah yang panen tahap terakhir dihargai Rp 3.300 per kilogramnya. Kemarin padi garapan saya sebahu laku Rp 7 juta, dibeli tengkulak. Sementara biaya operasional habis sekitar Rp 5 juta. Kalau dihitung kerja, rugi.  Apalagi kalau lahannya sewa, malah lebih kasihan lagi,” imbuhnya.

Ditanya alternatif menjual gabah ke Bulog, dirinya mengaku tak pernah bersinggungan dengan Bulog. ”Saya juga belum pernah. Sebab, selama ini juga sepertinya belum turun. Belakangan setelah saya dengar padi sudah hampir habis diborong tengkulak, infonya Bulog baru turun, entah seperti apa cara kerjanya Bulog. Mestinya bisa diharapkan menampung hasil panen petani, tentunya dengan harga yang bagus,” bebernya. (*)

(jo/naz/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia