Senin, 18 Nov 2019
radarjombang
icon featured
Peristiwa

Tujuh Desa di Kabupaten Jombang Masih Belum Terjangkau Sinyal Seluler

02 April 2019, 10: 54: 25 WIB | editor : M Nur Kholis

Tower yang sudah berdiri di Dusun/Desa Klitih, Kecamatan Plandaan.

Tower yang sudah berdiri di Dusun/Desa Klitih, Kecamatan Plandaan. (Mardiansyah Triraharjo/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG – Di Kabupaten Jombang, masih terdapat tujuh desa yang tak terjangkau sinyal seluler. Tiga Desa masuk  Kecamatan Ngusikan, dua desa di Kecamatan Plandaan dan dua desa di Kecamatan Kabuh.

Data Jawa Pos Radar Jombang,  tiga desa itu adalah  Desa Asem Gede, Cupak, dan Kromong. Wilayah yang tidak terjangkau sinyal sama sekali, ada yang terjadi di seluruh dusun. Namun ada juga yang hanya dialami satu hingga dua dusun saja.

Seperti di Desa Cupak misalnya, tingkat kesulitan mendapat sinyal paling parah terjadi di Dusun Munggut. Sementara di Desa Kromong, terjadi di Dusun Banyuasin. “Di Kromong, sinyal mudah didapat kalau naik ke bukit Pucangan,” ungkap Syafii, salah satu pengunjung wisata religi Gunung Pucangan. 

Dirinya mengatakan, tidak ada tower BTS di wilayah utara Kecamatan Ngusikan atau di sekitar Gunung Pucangan. ’’Tower hanya ada di selatan. Sinyal tak bisa masuk ke utara Pucangan karena terhalang gunung,” lanjutnya. 

Pihaknya menyebut, kebutuhan jaringan seluler yang lebih memadai untuk warga sangat mendesak. “Warga sangat mendukung jika ada pembangunan tower BTS,” imbuhnya.  

Di lokasi lain, desa yang tak terjangkau sinyal  Desa Klitih dan Jipurapah di Kecamatan Plandaan. Di Desa Klitih, terdapat dua dusun diantaranya Dusun Nampu dan Dusun Rapahombo. Sedangkan di Desa Jipurapah berada di Dusun Jipurapah dan Dusun Kedungdendeng. Sedangkan di wilayah Kecamatan Kabuh, desa yang tak terjangkau sinyal berada di Desa Marmoyo, dan Dusun Ngapus, Desa Sumberaji. Hampir seluruhnya, wilayah yang tak terjangkau sinyal ini berada di balik bukit.

Kalangan kepala desa sendiri mengaku sangat mendukung jika ada pembangunan tower di wilayah pelosok. “Kami hanya bisa menggunakan HP kalau keluar desa, ketika sudah berada di rumah HP tidak bisa digunakan,” ungkap Lastinah, Kepala Desa Asem Gede. Ia menyebut sinyal bisa didapat namun dengan usaha yang cukup ekstra.

Warga harus mendatangi tempat tertentu untuk bisa mendapat sinyal. Misalnya dibawah pipa antena televisi, hingga naik ke atas bukit. ’’Kalau pun ada sinyal, sangat sedikit dan cepat hilang,” tambahnya. (*)

(jo/mar/nk/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia