Senin, 18 Nov 2019
radarjombang
icon featured
Jombang Banget

Bangunan SDN Banyuarang 1, Saksi Sejarah Perjuangan Brimob di Jombang

01 April 2019, 14: 25: 10 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Bangunan SDN Banyuarang 1 yang sebelumnya adalah markas Brimob dalam masa perang mempertahankan kemerdekaan.

Bangunan SDN Banyuarang 1 yang sebelumnya adalah markas Brimob dalam masa perang mempertahankan kemerdekaan. (Achmad RW/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG - Meski terletak di ujung desa, siapa sangka bangunan sekolah ini pernah jadi markas perjuangan Brimob dalam masa-masa perang mempertahankan kemerdekaan. Bangunan ini adalah SDN Banyuarang I.  

Lokasi sekolah ini berada di Dusun Plemahan, Desa Banyuarang, Kecamatan Ngoro, sekitar satu kilometer arah barat Kantor Desa Banyuarang. Sekolah ini mudah dikenali dengan sebuah monumen polisi menenteng senjata terpampang di depan pintu gerbang. Di bawahnya tertulis beberapa pesan perjuangan polisi dan janji-janjinya.

Memasuki kompleks sekolah, suasana klasik langsung menyambut pengunjung yang datang. Bangunan beratap rendah nan miring khas bangunan era lama bisa dilihat jelas. Pintu dua bukaan, jendela besar hingga tiang penyangga dan struktur kayu menghiasi seluruh bangunan ini. Bertembok struktur batu bata yang terlihat kokoh, ciri klasik bangunan ini juga terlihat dari struktur pondasi dan tembok bawah yang berupa susunan batu.

Berdiri di areal seluas 7.000 meter persegi ini, bangunan ini berbentuk persegi dengan dua bangunan utama, lapangan dan satu bangunan yang biasa disebut aula di bagian ujung selatan. Dua bangunan besar membujur dari utara ke selatan dan saling berhadapan. Bangunan sisi barat, memiliki tiga ruangan utama dan satu ruangan tanpa sekat lebih kecil di bagian selatan. Sementara pada bangunan sisi timur, terdapat tiga ruangan besar dan dua ruangan kecil di sisi utara.

Di antara kedua bangunan ini, terdapat sebuah ruangan beratap genteng dengan struktur kayu yang cukup luas. Sementara lorong-lorong dengan bentuk klasik terpantau dibangun untuk menghubungkan masing-masing bangunan ini. Areal yang lebih luas yang ada di tengah ketiga bangunan ini berupa tanah lapang yang ditanami sejumlah pohon.

”Sekolah ini dulunya hadiah dari Brimob untuk warga Plemahan karena tempat ini dijadikan markas Brimob untuk mengatur siasat untuk mengusir Belanda pada saat agresi militer Belanda tahun 1949,” ujar Sudarsono, Kepala Dusun Plemahan.

Brimob memberi dua pilihan bangunan kepada masyarakat Dusun Plemahan kala itu. Bisa dibangun sebuah pasar atau pendidikan. “Akhirnya masyarakat memilih sekolahan, hingga pada tahun 1965 akhirnya sekolah ini dibangun dan satu tahun kemudian sekolah tersebut mulai ada aktivitas belajar mengajar,” imbuh pria yang juga  komite SDN Banyuarang 1 tersebut.

Sebuah situs bahkan bisa ditemukan tak jauh dari sekolahan ini. Berupa prasasti yang dibuat 1993, untuk markas brimob lain yang kini sudah dirobohkan. “Jadi SD ini markas utamanya, terus ada pos lagi di sebelah selatan, dulu ada dua rumahnya, sekarang sudah tidak ada dan hanya tinggal prasastinya itu,” pungkasnya.

Sebagai situs yang bernilai sejarah bagi Brimob, SDN Banyuarang 1 berusaha untuk tetap berada pada bentuknya yang asli. Suasana klasik dan kuno ini bahkan membuat sekolah ini seringkali jadi pilihan untuk berbagai macam acara warga hingga pemerintahan.

Menurut Kepala SDN Banyuarang 1, Slamet Riyadi, sejak awal bangunan memang sudah berdiri seperti ini. Sekolahnya ini jadi sekolah yang punya nilai sejarah tersendiri.

“Belum ada perubahan, masih asli semua. Renovasi yang pernah dilakukan hanya menambah tinggi atap saja, itupun hanya menambah bata, karena kayu yang dipakai atap tetap kayu lama,” terangnya.

Alasannya, meski statusnya bangunan ini adalah bangunan sekolah, namun nilai sejarah dari bangunan lama disebutnya membuat hingga kini tetap dipertahankan. “Ya, dan kami juga memang berusaha menjaga warisan ini. Kan dulu juga dari kepolisian sempat juga meminta agar tidak dilakukan perubahan, selain dari warga dan sesepuh desa,” lanjutnya.

Bahkan karena keasliannya ini, sekolah yang dipimpinnya ini tak saja berfungsi sebagai sekolah. Beberapa warga seringkali menggunakan sekolah ini sebagai ajang rapat desa hingga kegiatan lain. “Kebetulan untuk aula terbuka itu kan memang nyaman ditempati, jadi sering memang orang desa rapat di sini. Suasananya enak katanya,” imbuhnya.

Selain itu, sekolahan ini juga jadi salah satu tempat wajib untuk napak tilas perjuangan Brimob tiap tahunnya. “Kalau pas November, ulang tahunnya Brimob ya pasti di sini dulu. Seperti tahun kemarin kan ada longmarch juga, sejak dulu pasti kalau yang ulang tahun itu,” pungkasnya. (*)

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia