Selasa, 24 Sep 2019
radarjombang
icon featured
Peristiwa

29 Siswa SMK di Kabupaten Jombang Terdata Tidak Ikut UNBK 2019

29 Maret 2019, 10: 13: 06 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Pelaksanaan UNBK 2019 di salah satu SMK.

Pelaksanaan UNBK 2019 di salah satu SMK. (Azmy Endiyana/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG – Hari terakhir  ujian nasional berbasis kompeter (UNBK) jenjang SMK kemarin (28/3), masih diwarnai siswa yang absen alias tidak hadir. Setelah diakumulasi, tercatat ada 29 siswa. Selain 23 siswa dilaporkan meninggal dunia, 3 siswa DO dan 3 siswa ijin sehingga harus mengikuti ujian susulan.

”Alhamdullilah UNBK semuanya lancar,” ujar Fatkhurrohman, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur wilayah Jombang, kemarin. Dari data yang dia punya, tercatat ada 9.478 siswa yang menjadi peserta unas. Dari jumlah itu hingga hari terakhir unas, tiga siswa yang tidak mengikuti unas karena ijin sakit. Mereka berasal dari SMKN Mojoagung, SMK Sultan Agung Tebuireng dan SMK Satria Bareng. 

Jika diakumulasi semua yang tidak hadir sejak hari pertama unas, total ada 29 siswa. ”Yang tidak mengikuti UNBK ada 23 siswa karena meninggal dunia dan 3 siswa drop out,” paparnya. Sayang, dia tidak merinci banyaknya siswa SMK yang dilaporkan meninggal dunia tersebut. Apakah karena kecelakaan saat mengikuti unas, atau karena sakit dan penyebab yang lain.

Menurut Fathur, pelaksanaan UNBK kali ini tidak ada kendala berarti. Sempat terjadi pemadaman listrik selama hampir setengah jam di Kecamatan Diwek, bisa diatasi cepat dengan kesiapan genset di masing-masing sekolah. Hanya memang, tahun ini masih ada enam sekolah SMK swasta yang UNBK menggabung ke sekolah lain. ”Untuk SMK negeri sudah semua,” tuturnya. 

Dia menyebut, sekolah yang menggabung UNBK itu diantaranya SMK AL-Asyari mengikuti unas di SMKN 1 Jombang, SMK Gajah Mada menumpang di SMKN 3 Jombang, SMK Dwi Dharma menumpang di SMK Dwija Bhakti 1 Jombang, SMK Darussalam menumpang di SMKN 3 Jombang dan terakhir SMK Ar-Rahmah menumpang di SMK Telkom Darul Ulum.

Kondisi tersebut dikarenakan sekolah tersebut belum memiliki sarana dan prasarana (sarpras) yang memadai bila menggelar UNBK sendiri. Salah satunya, jumlah piranti canggih komputer yang dimiliki sekolah belum bisa memenuhi kuota peserta ujian. Mau tidak mau, sekolah tersebut harus menggabung ujian di sekolah lain yang perangkat komputernya mencukupi.

Kendati demikian, dia berharap tahun depan hal tersebut tidak terlihat lagi, dan masing-masing lembaga sudah memiliki perlengkapan komputer sendiri. Pada unas hari terakhir kemarin, semua siswa mengerjakan mapel kejuruan masing-masing baik Tehnik, Bismen maupun Pariwisata. “Berbeda dengan tiga hari sebelumnya, mereka menyelesaikan mapel Bahasa Indonesia hari pertama, Matematika hari kedua dan Bahasa Inggris hari ketiga,” pungkas Fathur. (*)

(jo/yan/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia