Minggu, 15 Dec 2019
radarjombang
icon featured
Berita Daerah

‘Metik’, Tradisi Turun Temurun Petani Wonosalam Jelang Panen Padi

28 Maret 2019, 09: 05: 42 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Petani di Desa Galengdowo, Kecamatan Wonosalam,  sedang menaruh sesajen sebelum memulai panen.

Petani di Desa Galengdowo, Kecamatan Wonosalam, sedang menaruh sesajen sebelum memulai panen. (Anggi Fridianto/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG - Seiring berkembangnya zaman, sulit sekali melihat tradisi ’metik’ secara langsung. Namun di daerah pinggiran seperti Wonosalam, tradisi ini masih tetap terjaga dan masih dilakukan petani menjelang panen padi.

Fajar mulai menyingsing, Rabu (27/3) kemarin. Kira kira waktu masih sekitar 06.30. Udara dingin tak menyurutkan langkah Pujiaman, 52, menuju sawahnya yang terletak di ujung desa, tepatnya di Dusun/Desa Galengdowo, Kecamatan Wonosalam.

Dengan istrinya yang membawa bekal makanan, Pujiaman tampak ribet membawa peralatan tanam. Mulai cangkul, sabit dan beberapa peralatan lain. didalam tasnya, dia juga membawa sesajen atau yang lebih umum disebut cok bakal.

Ya, Pujiaman berangkat pagi-pagi ke sawah untuk melakukan tradisi metik. Tradisi yang dilakukan para petani untuk menyambut masa panen. ”Yang saya siapkan hanya ini sesajen dan kemenyan,” celetuk Pujiaman dengan membawa sesajen di tangannya. Awalnya Pujiaman duduk di pojokan sawah dengan membakar kemenyan.

Dia juga menaruh beberapa sesajen di pinggir ladang. Sekitar lima menit, bapak dua anak ini kemudian membacakan lantunan doa hingga kemenyan tersebut habis. ”Doa yang saya panjatkan ditujukan kepada Tuhan Yang Maha Esa (YME) atas berkah dan segala karunia-Nya di musim panen ini,” papar dia.

Sebelum memanen padi, Pujiaman kemudian mengambil beberapa dahan padi dan menyimpannya di tas menggunakan belati kecil. ”Ini nanti dibawa pulang dan diletakkan di dinding sebelah dapur,” papar dia.

Kepada Jawa Pos Radar Jombang, dia menjelaskan jika tujuan dari tradisi metik tersebut adalah untuk keselamatan. ”Kita berdoa agar kita diberikan keselamatan saat menanam padi, membajak sawah maupun memanen, serta tidak ada halangan apapun,” ungkap dia. 

Selain meminta keselamatan, tradisi metik juga dilakukan atas ungkapan rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Esa. ”Supaya hasil yang kami dapat melimpah ruah dan bebas dari serangan hama,” tambah dia. 

Ditambahkan, padinya itu sudah menguning sejak beberapa hari lalu. Padi siap panen kala sudah memasuki usia empat bulan. ”Ini sudah siap panen. Umurnya sudah empat bulan,” tegasnya.

Menurutnya, tradisi metik tersebut masih terjaga turun temurun. Petani setempat masih melakukan metik setiap menjelang panen. ”Kalau di sini masih terjaga. Tapi, memang sudah jarang ditemui di daerah lain, karena kebanyakan panen mereka dijual borongan sehingga pembeli tidak perlu metik,” jelas dia. 

Petani  di Desa Galengdowo, merasa bersyukur karena selama ini tidak pernah kesulitan irigasi air untuk pertanian. Ketersediaan air selalu mencukupi setiap musim tanam. ”Kalau air Alhamdulilah aman,” pungkasnya. (*)

(jo/ang/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia