Senin, 17 Jun 2019
radarjombang
icon featured
Peristiwa

Cabuli Murid SD, Guru Honorer Asal Kalikejambon Tembelang Ditangkap

27 Maret 2019, 08: 39: 19 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Ilustrasi; pencabulan

Ilustrasi; pencabulan (Google Image)

JOMBANG - Gaguk Wahyudi, 30, warga Desa Kalikejambon, Kecamatan Tembelang harus mendekam di sel tahanan. Honorer di salah satu sekolah dasar nekat mencabuli I, 12, pelajar asal Kecamatan Jombang. Kasusnya ditangani Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Jombang.

“Pelaku statusnya honorer di sekolah. Masih kita  periksa intensif,” terang Kasatreskrim Polres Jombang AKP Azi Pratas Guspitu (26/3) kemarin. Kasus pencabulan bermula perkenalan korban dengan pelaku. Dalam kesehariannya di sekolah, pelaku sering merayu korban dengan kata-kata manis. “Yang katanya, korban cantik, manis, pelaku sayang korban dan lain-lain,” bebernya.

Rupanya bukan hanya di sekolah, tepatnya Selasa (19/3) sekitar pukul 13.00, pelaku berhasil memperdayai korban dengan iming-iming jalan-jalan. Tak sadar niat jahat pelaku, korban pun mengiyakan ajakan pelaku bertemu di salah satu minimarket. “Korban pamit ke neneknya mau membeli peralatan untuk praktek sekolah,” bebernya.

Singkatnya, pelaku akhirnya menjemput korban dan mengajaknya ke rumahnya di wilayah Kecamatan Tembelang. Sesampainya di rumah, pelaku menggiring korban masuk ke salah satu kamar, sementara pelaku beranjak ke dapur.

Tak lama, pelaku menyusul korban ke kamar dan mulai menjalankan aksinya. “Korban ditidurkan, lalu pelaku mengeksploitasi tubuh korban layaknya suami istri,” bebernya.

Puas melampiaskan nafsunya, pelaku selanjutnya pergi ke belakang. Korban pun segera mengenakan pakaiannya kembali dan meminta diantar pulang, namun pelaku tak segera menuruti. “Katanya masih hujan, nunggu sampai hujan reda,” bebernya.

Setelah menunggu lama, lagi-lagi korban merengek meminta diantar pulang. “Akhirnya korban diantar pulang, namun di turunkan di depan tambal ban dekat rumah korban,” bebernya.

Melihat anaknya pulang dalam kondisi awut-awutan, orang tua korban pun curiga. Setelah dicecar pertanyaan, akhirnya korban menceritakan perbuatan pelaku. Tak terima anaknya diperlakukan seperti itu, keluarga korban pun melapor polisi.

Setelah mendengar keterangan korban serta hasil visum, sejumlah petugas langsung bergerak melakukan penangkapan. Polisi juga mengamankan sejumlah barang bukti, diantaranya, 1 buah kaos lengan pendek warna merah, 1 buah celana training warna hitam, 1 buah HP merek Acer warna putih, 1 unit sepeda motor Honda Supra nopol S 3970 SMX, 1 lembar sprei motif bunga mawar warna merah dan motif warna merah muda, 1 buah HP merek Oppo warna putih, 1 buah celana panjang warna hitam, 1 buah kaos panjang warna merah muda ada gambar mini mouse bagian depan, 1 buah celana training warna abu-abu, 1 buah kaos lengan pendek warna putih, 1 buah jaket motif garis warna merah dan putih, 1 buah miniset warna hijau, 1 buah celana dalam warna merah.

Atas perbuatannya, pelaku dijerat pasal 81 UU RI nomor 35 tahun 2014 tentang perubahan atas UU RI nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak. “Ancaman penjara minimal 5 tahun, maksimal 15 tahun dan denda paling banyak Rp 5 miliar,” ujar Pratas. (*)

(jo/naz/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia