Kamis, 19 Sep 2019
radarjombang
icon featured
Tokoh

Badri, Sang Penjaga Kesenian Kentrung Jatimenok

22 Maret 2019, 16: 04: 27 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Badri, sang penjaga kesenian kentrung Jatimenok

Badri, sang penjaga kesenian kentrung Jatimenok (Achmad RW/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG - Badri, seniman asli Jombang kelahiran tahun 1938 ini adalah satu-satunya pelaku kesenian kentrung yang hingga kini masih bertahan di Jombang. Di rumahnya di Dusun Jatimenok, Desa Rejosopinggir, Kecamatan Tembelang Jombang, ia masih menyimpan benda bersejarah yang pernah jadi ujung tombak perekonomian keluarganya tersebut.

Tak ada nama khusus untuk keseniannya ini, namun dirinya seringkali menyebut kelompoknya sebagai kentrung muda. “Kentrung muda ini saya sesuaikan dengan kondisi saya waktu itu, saat pertama memegang kesenian ini, usia saya masih belum sampai 20 tahun, setelah bapak saya meninggal dunia,” jelas Badri saat ditemui di kediamannya kemarin.

Menurutnya, kesenian ini sebenarnya berasal dari bapaknya yang bernama Sanawi yang sebelumnya memimpin kelompok kentrung ini. Ayahnya sendiri mendapatkan kemampuan melakonkan kesenian ini setelah beberapa tahun ikut dalam kelompok kesenian sejenis di luar kota. “Bapak saya ini kan memang dulu ada masalah dengan penglihatannya, tapi saat mendengar kesenian ini main pertama kali di sini, akhirnya beliau tertarik dan kemudian belajar dengan cara ikut nyantrik (belajar dengan mengabdi ke guru) kentrung asal Nganjuk,” lanjut pria berusia 80 tahun ini.

Awalnya kesenian ini dijajakan dengan mengamen dari satu daerah ke daerah lain. Daerah yang dipilih menurutnya tergantung musim panen dan wilayah yang dianggap ramai pengunjung. “Dulunya ya ngamen mas, kadang-kadang sampai Sidoarjo juga sana, tapi kemudian kita lama-lama terbiasa dengan undangan karena sudah mulai punya nama. Namun sekarang tidak pernah main sama sekali,” imbuh bapak lima orang anak ini. 

Sedangkan untuk personel, biasanya kesenian ini dilakukan empat sampai lima orang dengan tugas yang berbeda-beda. “Empat orang, atau kadang-kadang juga lima, saya di bagian kendang besar sekaligus dalangnya, yang lain biasanya wanita bagiannya memukul rebana dan alat pukul lainnya, bahkan salah satu pemukul rebananya juga istri saya sendiri,” sambung Badri.

Meski cukup sederhana, Badri menyebut pertunjukan ini juga bisa berlangsung semalam suntuk. Meski di akhir-akhir pementasan kini, pertunjukan biasanya hanya berlangsung setengan malam. “Dulunya memang semalam suntuk kayak wayang begitu, tapi lama kelamaan memang makin pendek, kan cerintanya juga bisa dipanjangkan bisa juga dipotong sebenarnya, jadi kita bisa saja menyesuaikan,” ujarnya.

Kentrung sendiri merupakjan sebuah kesenian yang berpaku mada musik dan cerita. Sepanjang pertunjukan, pemain kendang yang biasanya juga berlaku sebagai dalang akan menceritakan kisah-kisah baik kisah bernuansa Islam, cerita tradisional hingga cerita panji. “Memang kesenian ini sebenarnya unik, meski bentuknya pertunjukan yang menyajikan cerita lakon, namun tak seperti pada ludruk, wayang topeng hingga teater, semua cerita hanya diucapkan dalang tanpa satu pun alat peraga baik berupa wayang atau apapun,” sambung Nasrul Illah Budayawan Jombang dalam suatu sesi wawancara dengan Jawa Pos Radar Jombang. 

Dalam pertunjukannya, kesenian ini biasanya digunakan untuk melayani hiburan dalam beberapa hajatan. Selain itu, di beberapa kegiatan lain seperti ritual wiwit ( memulai masa tanam, Red) hingga pemenuhan nazar, kesenian ini juga seringkali dipentaskan. Sedangkan, cerita yang dipentaskan, biasanyajuga menyesuaikan dengan jenis pentas yang sedang berlangsung.

“Biasanya cerita juga akan menyesuaikan penanggapnya, kalau memang sedang wiwit akan pakai cerita Dewi Sri, atau mungkin acara lain pakai cerita panji kadang-kadang dan yang paling sering biasanya memang cerita nabi atau juga detita Angling Darma dan Aji Saka,” lanjutnya.

Meski kini Badri  sangat menguasai pertunjukan kentrung yang telah dimainkannya lebih dari 50 tahun dalam hidupnya,  ternyata Badri malah belajar banyak dari sang istri Sarmini tentang bagaimana bermain pertunjukan kentrung dengan benar. 

“Bapak itu dulu malah awalnya tidak bisa apa-apa, meski memang sudah bisa menabuh kendang sejak kecil, namun saat pertama memegang kenrtung ini dia tidak bisa jadi dalang, ceritanya saja tidak hafal,” ucap Sarmini saat menemani suaminya di rumahnya.

Maklum saja, Sarmini memang terhitung lebih lama ikut kesenian kentrung ketimbang Badri. Semenjak kesenian ini dipegang bapaknya Badri, Sarmini memang telah berposisi sebagai penabuh rebana. “Jadi memang dulu saya yang lebih hafal caranya bertutur dan bercerita karena memang saya kan ikut lebih dulu, saat masih dipegang Pak Sanawi saya sudah jadi panjak (penabuh,Red),” lanjut.

Hal inipun diakui Badri, dirinya kemudian bercerita bagaimana awalnya dirinya bisa memimpin kesenian ini. Awalnya, kesenian ini memang dijalankan sendiri oleh bapaknya. Namun  setelah bapaknya meninggal dunia, praktis tak ada lagi yang bisa meneruskan kesenian ini selain dirinya. “Saat itu saya beru tamat sekolah SMP, ya memang mau tidak mau saya harus bisa, beruntung saya sudah bisa main kendang, itu modalnya awal,” ucapnya.

Saat pertama kali tanggapan dirinya masih ingat betul bagaimana kondisinya. Ia mengaku kala itu sedang tak siap untuk bermain, namun keadaan sangat memaksa mengingat Sanawi sudah terlanjur mengiyakan untuk tampil dalam sebuah acara nadzar, namun dirinya meninggal beberapa hari sebelum pementasan dilakukan. 

“Itu di Tembelang tanggapan pertamanya, untung saja yang nanggap ini mengerti dan hanya ngomong: gowo en ae bekakasmu nang omah nak, pokok e awakmu teko, soale wes kadung ujar (bawa saja alatnya kerumah saya nak, yang penting kamu datang saya sudah terlanjur bernadzar),” ucap Badri menirukan penanggap keseniannya.

Setelah pertunjukan pertama itu, disebutnya dirinya harus berlatih keras. Beberapa cerita yang diwariskan ayahnya pun harus pelan-pelan ia pelajari. “Bahkan karena dulu saya masih belum hafal, masih harus menulis dan membaca teksnya,” lanjutnya.

Namun, setelah dirinya menguasai kesenian ini, dirinya juga tak terlalu saklek menjalankannya, Badri mengaku seringkali harus melakukan penyesuaian-penyesuaian dalam pertunjukannya agar penonton tak jenuh. “Misalnya tentu dengan lawakan yang tetap segar, selain itu juga beberapa adat saklek seperti ritual sebelum pertunjukan serta uba rampe (sesajen, Red) juga kita akhirnya pasrah, tidak harus ada, dan terserah yang punya hajat saja,” lontarnya.

Alat berdebu, berbunyi tak nyaring serta beberapa bagian utama yang terbuat dari kulit telah terlihat menjamur. Itulah pandangan saat Jawa Pos Radar Jombang mendatangi rumah Badri untuk memintanya memainkan kembali alat musiknya.

Badri menyebut, hal ini sangat wajar mengingat alat musikya ini memang telah bertahun-tahun   tak pernah lagi dimainkan. Sudah sejak sewindu lalu, Badri berharap ada undangan pementasan keseniannya ini namun tak juga bersambut baik. “Terakhir pentas sudah delapan tahun lalu mungkin mMas, terakhir juga di nazaran warga di desa sini juga kok,” ucapnya.

Kondisi ini tenu berbanding terbalik dengan 20 hingga 30 tahun lalu, saat kesenian miliknya ini masih jadi primadona. Badri menyebut, saat itu dirinya bahkan tak sempat pulang karena banyaknya undangan pementasan yang ia terima. “Kalau di tahun 65-70an dulu, saya sendiri satu bulan bisa sampai 15 kali pentas di banyak tempat Mas. Waktu itu sudah kayak nggak mau tampil lagi saking capeknya karena pertunjukannya kan semalam suntuk,” sambungnya.

Belum lagi dengan banyaknya sambutan dari pemerintahan saat itu, Badri memang di era keemasannya seringkali diundang untuk sekedar mementaskan keseniannya ini di kawasan kota. “Di pendopo pernah, di Pasar Legi juga pernah, bahkan pernah diajak ikut festival juga di Banyuwangi dan Madiun dan banyak tempat lah. Itu saat zamannya pak Hudan Dardiri  bupatinya,” lontarnya sembari mencoba mengingat.

Namun  kini, minimnya undangan memaksanya menyimpan rapat-rapat alat yang sempat membawa namanya moncer hampir seantero Jawa Timur ini. Beberapa alatnya pun kini juga kondisinya sangat berdebu, saat ditunjukkan kepada wartawan koran ini, bahkan kendang milik Badri yang jadi musik utama pun harus terlebih dahulu mendapatkan sentuhan sebelum akhirnya bisa dipakai kembali. “Harus dikencangi dulu mas, kalau gitu tidak bisa dipakai, suaranya jelek,” lanjutnya.

Selain minimnya perhatian dari pemerintah kini hingga tanggapan dari masyarakat yang telah tak ada, yang lebih dipusingkannya tentu saja regenerasi. Sebagai satu-satunya kesenian kentrung yang kini bertahan di Jombang, Badri memang tak memiliki penerus dalam hal bermusik kentrung. “Sampai sekarang tidak ada penerusnya, anak-anak saya juga memilih bekerja di luar semua. Jadi kalau saya meninggal mungkin kesenian ini jua akan punah,” ucapnya.

Karena itu, meski mengakui terkuburnya kentrung sebagai hal yang wajar dengan gempuran kebudayaan modern. Dirinya tetap berharap ada anak-anak muda kini yang mau belajar mengenal kesenian ini. “Ya tentu kepingin sekali ada yang belajar, paling tidak, ada yang mengenal lagi dan bisa memainkan, ini kan budaya kita sendiri tentu akan sangat sayang kalau punah begitu saja,” pungkasnya. (*)

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia