Kamis, 18 Jul 2019
radarjombang
icon featured
Tokoh

Mengenal KH Abdul Hamid Hasbullah, Kiai Rakyat Kecil Tambakberas

22 Maret 2019, 15: 42: 54 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

KH Abdul Hamid Hasbullah

KH Abdul Hamid Hasbullah (Google Image)

Share this      

JOMBANG - Kiai satu ini memiliki peran cukup sentral dalam perkembangan Pondok pesantren Bahrul Ulum Tambakberas Jombang, hingga kedekatannya dengan masyarakat sekitar, sangat layak jadi inspirasi. Ia adalah putra kedua KH Hasbullah Said yang juga adik kandung KH Wahab Hasbullah, yakni KH Abdul Hamid Hasbullah. Tak ada data pasti menyebut kapan tahun kelahirannya.

Namun dalam buku Tambakberas Menelisik Sejarah Memetik Uswah disebutkan, jika dia memang kelahiran asli Dusun Tambakberas, Desa Tambakrejo dan merupakan anak kedua dari delapan bersudara KH Hasbullah Said dengan Nyai Lathifah.

Sebagai anak kiai, Kiai Hamid begitu ia biasa dipanggil seperti saudaranya Kiai Wahab. Ia juga harus menempuh pendidikan di banyak pondok pesantren. Mulai pesantren Bangkalan Madura di bawah asuhan Mbah Kholil, Pesantren Langitan Tuban, Tebuireng, Pesantren Krapyak Jogjakarta hingga berguru ke Mekah.

Makam KH Abdul Hamid Hasbullah di Tambakberas

Makam KH Abdul Hamid Hasbullah di Tambakberas (Achmad RW/Jawa Pos Radar Jombang)

“Bahkan ketika di Tebuireng memang beliau berguru bareng sama Kiai Wahab. Keduanya memang sangat dekat,” jelas KH Irfan Sholeh, cucu Kiai hamid kepada Jawa Pos Radar Jombang.

Sepanjang hidupnya, Kiai Hamid memang dikenal sebagai salah satu orang yang tekun beribadah dan tak banyak muncul ke ranah publik untuk hal di luar urusan agama. Bahkan, saat mulai dewasa dan mulai bergelut kepengurusan pesantren, Kiai Hamid, Kiai Wahab dan Kiai Abdurrokhim berbagi tugas.  “Mbah Wahab konsentrasi di luar untuk membesarkan NU dan terlibat perpolitikan hingga pergerakan nasional, sedangkan Mbah Abdurrokhim mengurusi perkembangan madrasah, dan Mbah Hamid mengurusi pengajian pondok dan salat lima waktu,” tulis Gus Syifa dalam buku Tambakberas Menelisik Sejarah Memetik Uswah.

Hal ini dikuatkan dengan pengakuan cucunya, Gus Irfan menyebut, kakeknya tersebut memang sosok kiai yang lebih banyak mengurusi ibadah kesufian dan ahli tirakat. Bahkan, untuk masyarakat kampung kala itu Kiai Hamid lebih dekat dengan masyarakat daripada Kiai Wahab. 

“Karena memang beliau ini punya banyak pengajian di kampung-kampung, perannya di pondok yang cukup sentral juga membuatnya sangat dekat dengan masyarakat kampung ketimbang Mbah Wahab yang memang kiprahnya lebih banyak di organisasi dan level nasional,” lanjutnya.

Bahkan, kecintaan dan kedekatannya kepada masyarakat tercermin jelas dengan wasiatnya sesaat sebelum meninggal. Kiai Hamid terbukti lebih memilih dimakamkan di makam kidul atau makam umum masyarakat daripada makam keluarga di Dusun Gedang, atau lebih dikenal sebagai makam lor untuk masyarakat sekitar. “Dulu saat wafat dan sebelum dikubur, Mbah Wahab sempat tidak memperbolehkan Mbah Hamid dimakamkan di selatan. Namun akhirnya bisa diterima dengan syarat tanah untuk pemakaman Mbah Hamid dibeli Mbah Wahab, yang akhirnya sekarang sudah dibangun itu,” lanjutnya.

Kiai Hamid Hasbullah, diketahui meninggal pada tanggal 15 April 1956. Saat meninggal, ia telah dikaruniai 9 orang putra putri dari tiga kali perhikahan. Masing-masing satu putra dari pernikahan pertama dengan Nyai Zaenab dari Sepanjang Sidoarjo. Lima putra dari pernikahan kedua dengan Nyai Khodijah dari Cepoko Nganjuk, serta tiga putra dari pernikahan ketiga dengan Nyai Mu’minah dari Sambong Jombang.

Sebagai adik dari Kiai Wahab, hubungan kedua anak kiai ini ternyata tak saja sebatas saudara kandung. Dalam berbagai hal, keduanya sering disebut pasangan yang saling mendukung dan melengkapi. 

“Mbah Wahab memang lebih banyak berperan di luar dan Mbah Hamid dengan kemampuannya, baik agama maupun metafisik menopang Mbah Wahab dari belakang. Begitu memang jalannya adik kakak ini,” terang Gus Irfan kembali.

Dalam berbagai kesempatan, keduanya disebut cukup dekat. Dalam berbagai tugaspun keduanya bisa saling membagi. Bahkan bisa dikatakan, Kiai Hamid merupakan tangan kanan Kiai Wahab. “Ya bisa dibilang tangan kanan karena dalam banyak kegiatan Mbah Wahab, biasanya Mbah Hamid pasti ada, tapi beliau bukan orang yang suka muncul ke ranah publik, sebagai seorang sufi, beliau lebih suka berjalan di balik layar demi mendorong kakaknya,” lanjutnya.

Hal ini menyangkut kemampuan yang berkebalikan. Kiai Wahab, memang dikenal sebagai orang yang pandai berorasi dan organisatoris. Berbeda dengan adiknya yang cenderung suka hidup sufi dan sederhana. “Beliau itu bukan orator, kata Gus Dur bicaranya nggroyo (tidak jelas, Red) tapi beliau orang yang kuat secara metafisik,” sambungnya.

Dalam kehidupan sehari-hari, Kiai Hamid juga dikenal sangat sederhana. Jika Kiai Wahab terbiasa dengan hidup nyaman semenjak muda, Kiai Hamid lebih memilih hidup seadanya. 

“Beliau memang tidak bekerja aktif, hidupnya memang bergantung pada pohon kelapa yang dulu banyak di sekitar pondok. Jadi kalau ada kelapa jatuh, blarak (pelepah kepala, Red) jatuh, atau dari usaha membuat bata merah. Tentu sangat berbeda dengan Mbah Wahab yang sejak muda tidak pernah kehabisan duit,” lontar Gus Irfan.

Saking menikmati kehidupan sufinya, Kiai Hamid tidak pernah punya rumah hingga akhir hayat. Ia hanya menempati dalem kasepuhan peninggalan ayahandanya Kiai Hasbullah Said. “Kiai Wahab sudah membangun sendiri di bagian barat itu, akhirnya Mbah Hamid yaang menempati sampai sekarang masih berdiri ini. Sampai berangkat haji juga yang memberangkatkan Mbah Wahab,” ungkapnya.

Karena itu hubungan keduanya disebut Gus Irfan menyentuh hubungan guru dan murid. Ini dibuktikan dengan Mbah Hamid yang sejak muda selalu menjaga tata krama dan bahasanya ketika berhadapan dengan Kiai Wahab. “Kalau bicara sama Mbah Wahab pasti boso (bertata rama halus, Red) tingkahnya juga sangat dijaga. Seperti guru dan murid, bukan kayak kakak adik lagi,” jelasnya.

Meski demikian di lain sisi, ketika Kiai Wahab membutuhkan bantuan dari sisi metafisik dan kemampuan supranatural hingga doa-doa, pasti rujukannya adalah adik kandungnya tersebut. “Seperti saat wafatnya Kiai Hasyim, karena tidak ada yang berani menyalati, Mbah wahab menunjuk Kiai Hamid. Begitu juga ketika Kiai Wahid Hasyim sowan untuk minta petunjuk mimpi, Mbah Wahab minta penjelasan ke Mbah Hamid karena merasa untuk urusan seperti itu adalah wilayah adiknya,” pungkasnya. 

Sebagai pemuka agama, Kiai Hamid memang dikenal sebagai orang yang paling menonjol dalam urusan ilmu metafisika. Tak jarang orang menyebutnya sakti, karena seringkali ia menunjukkan kemampuan yang di luar nalar.

Cerita yang paling terkenal, sulitnya mencari foto Kiai Hamid Hasbullah. Ya, banyak orang meyakini, Kiai Hamid merupakan salah satu orang yang tidak bisa difoto karena kemampuan mistisnya. “Sampai saat ini memang tidak ada foto yang bisa menggambarkan jelas wajah beliau, satu foto yang berhasil kami temukan hanya ini dan memang bentuknya sendiri blur,” jelas KH Abdul Rozaq Soleh, cucu Kiai Hamid yang lain. 

Beberapa kesaksian santri lain juga menyatakan hal ini. Upaya memoto Kiai Hamid hanya berbuah kegagalan. “Banyak yang menyebut akan blur, ada juga bahkan yang sampai bilang terbakar fotonya,” lanjutnya. 

Hingga kini, upaya keluarga untuk membuat sketsa foto berupa lukisan juga disebutnya terbatas. “Ini lukisan yang ada sekarang, tapi juga ini masih terus ditashihkan (dicocokkan),” sambungnya.

Kemampuan lain, berhubungan dengan mengendalikan hujan. Kiai Hamid dikenal memiliki rutinan pengajian di Pondok Sambong setiap Selasa. Pada suatu hari, hujan sangat deras. “Tapi dengan izin Allah, Mbah Hamid menggunakan selembar daun untuk menutupi kepalanya seperti payung dan berjalan ke Sambong. Sampai di Pondok Sambong, tidak ada satupun titik air yang menyentuh tubuhnya,” lanjutnya.

Yang paling monumental dan masih bisa disaksikan hingga kini, peninggalan menara Masjid Bahrul Ulum. Menara ini memang hasil pembangunan Kiai Hamid sendiri. Bahkan dalam pembuatannya, menara ini dibangun terpisah dari masjid utama. “Dulunya memang dibangun terpisah, menara di timur, masjid di barat. Tapi saat beliau ditanya, jawabannya  nanti akan menyambung sendiri, dan ternyata sekarang memang menyambung penuh,” cerita pengasuh Ribath Al Muhajirin 1 ini.

Dan yang paling dikenal, tentu saja tulisan huruf Ha Ro Ta dan Mim di menara masjid. Tulisan tersebut diceritakan ditulis Kiai Hamid semasa belum merdeka dan dititipkan kepada santri kesayanganya, yakni KH Chudlori Ma’shum. “Saat beliau sudah meninggal, Kiai Chudlori ini ditanyai Kiai Wahab dan memang itu tulisan beliau dan bunyinya Hurun Taamun yang artinya kemerdekaan yang sepenuhnya,” kembali KH Irfan Soleh menuturkan.

Bagi dia, kakeknya tersebut memang salah satu ulama yang dikenal memiliki kemampuan lebih dalam hal metafisika. Bahkan tak jarang, banyak orang menyebut wali karena memang tak ada yang aneh jika menelisik kehidupan spiritualnya.  “Untuk orang yang berjuang di jalan sufi dan tasawuf tinggi, hal seperti itu bisa saja terjadi sebagai bentuk kedekatannya dengan Allah. Beliau orang yang tidak pernah meninggalkan ibadah dengan kondisi apapun dan ini yang seharusnya jadi contoh untuk kita yang masih hidup sekarang,” pungkas Gus Irfan. (*)

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia