Kamis, 19 Sep 2019
radarjombang
icon featured
Jombang Banget

Kampung Pande Besi di Pucangsimo, Puluhan Tahun Fokus Produksi Sabit

18 Maret 2019, 13: 21: 47 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Sentra pande besi tradisional di Desa Pucangsimo, Kecamatan Bandarkedungmulyo masih setia membuat alat pertanian dari bahan besi.

Sentra pande besi tradisional di Desa Pucangsimo, Kecamatan Bandarkedungmulyo masih setia membuat alat pertanian dari bahan besi. (Achmad RW/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG - Sentra pande besi tradisional di Desa Pucangsimo, Kecamatan Bandarkedungmulyo masih setia membuat alat pertanian dari bahan besi. Tak heran jika kampung ini disebut ’kampung arit’.

Suara dentuman palu dan besi terasa sangat nyaring saat Jawa Pos Radar Jombang mengunjungi salah satu sudut Dusun/Desa Pucangsimo kemarin. Lokasi dusun ini berada di ujung barat Kabupaten Jombang, pabrik-pabrik ini berada di jalan desa yang manghubungkan Pucangsimo dan Desa Brangkal.

Salah satu pande besi yang masih beroperasi saat Jawa Pos Radar Jombang mengunjungi dusun ini adalah pande besi milik Jumali 51. Siang itu, ia tengah sibuk bersama tiga pekerjanya yang lain. Mulai mencincang besi, memanaskan, mengisinya dengan baja hingga kemudian menempanya hingga berbentuk.

“Ini sedang membuat sabit, karena di bengkel saya ini memang produksinya cuma sabit. Untuk alat lain cuma kalau ada pesanan saja,” terang Jumali mengawali pembicaraan.

Di dusun ini, memang perajin sabit jumlahnya puluhan. Produksinya pun sudah berlangsung puluhan tahun silam. Kendati demikian, semua produsen disebut Jumali memang mayoritas hanya memproduksi sabit. “Kalau sekarang mungkin ada 20 orang yang membuat. Saya sendiri sudah 22 tahun produksi,” lanjutnya.

Semua bagian sabit dibuat di bangkelnya ini. Mulai gagang, penahan gagang, mata sabit, semua dikerjakannya secara manual bersama beberapa karyawannya. Untuk jenis sabit yang diproduksi, Jumali menyebut hal ini memang seringkali sesuai pesanan. Namun yang paling sering diproduksi, adalah jenis Jatenan dan gorang-gareng. “Bedanya, kalau jatenan bentuknya lebih gepeng dan kecil, kalau yang satunya itu lebih besar bentuknya,” imbuhnya.

Setiap harinya, ditemani tiga pekerjanya ia ampu memproduksi hingga puluhan sabit yang pasarnya sudah menembus hampir seluruh pulau jawa ini. “Kalau saya kirimnya ke Ngoro biasanya, cuma dari sana biasanya dikirim ke Jawa Tengah, Jawa Barat bahkan Sulawesi juga,” tambah Jumali. (*)

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia