Selasa, 17 Sep 2019
radarjombang
icon featured
Politik & Pemerintahan

Meski Coblosan Bukan Kewajiban, Gus Sholah Minta Masyarakat Tak Golput

18 Maret 2019, 12: 56: 16 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah)

Pengasuh Pesantren Tebuireng KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) (Anggi Fridianto/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG – Coblosan tinggal satu bulan lagi, pengasuh Pesantren Tebuireng, KH Salahuddin Wahid (Gus Sholah) berharap masyarakat menggunakan hak pilihnya saat coblosan nanti. Sebab, satu suara mereka sangat menentukan nasib bangsa Indonesia ke depan. Disisi lain, Gus Sholah juga mengimbau masyarakat tak terpengaruh dengan politik uang. 

Kepada sejumlah wartawan, Gus Sholah menyampaikan coblosan semakin dekat. Dia mengimbau masyarakat menggunakan hak pilihnya. ”Gunakan lah hak pilih. Walaupun itu hak bukan kewajiban, tapi gunakan,” ujar dia kemarin. 

Gus Sholah menyebut, jika masyarakat tidak bisa memilih salah satu pasangan calon capres/cawapres, maka pilihlah kedua calon tersebut. Itu lebih baik daripada tidak memilih sama sekali alias golput. ”Karena kalau kita tidak memilih. Akan ada potensi surat suara kita akan dipakai oleh orang lain. Dan ini sangat berbahaya,” tambah dia. 

Untuk itu, dia meminta masyarakat bijak menggunakan hak pilih. ”Sehingga saya berharap jangan sampai golput,” tegasnya. 

Disamping itu, adik kandung Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid (gus Dur)  ini juga angkat bicara soal potensi adanya plolitik uang. Menurut dia, politik uang sangat merugikan dan membuat cacat pesta demokrasi ini. Sebagai gambaran, jika masyarakat mencoblos karena pemberian uang tentu yang rugi adalah masyarakat sendiri karena yang dipilih bukan sesuai hati nurani mereka. 

”Oleh sebab itu, kalau ada yang memberi uang terimalah tapi jangan dipilih, calon tersebut,” singgungnya. 

Menurut dia, jika ada oknum, pasangan calon, atau tim pemenangan memberikan uang dan masyarakat tersebut ikut mencoblos, maka akan merugi. Pertama dari sisi agama, tentu akan berdosa kedua calon pemimpin dan masyarakat tersebut sudah terikat kontrak suap menyuap. ”Tapi kalau uangnya kita terima dan calon tersebut tidak kita pilih. Maka judulnya dia sadaqah ke kita, itu tidak masalah,” tandasnya

Bahkan Gus Sholah juga tidak mempermasalahkan semisal ada tim dari kedua pemenangan capres/cawapres datang dan memberikan uang ke masyarakat. ”Ya tidak apa-apa, terima saja dua-duanya kan itu sadaqah,” tegasnya. (*)

(jo/ang/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia