Minggu, 15 Dec 2019
radarjombang
icon featured
Berita Daerah

Ditanam di Ketinggian 600 Mdpl, Buah Naga Wonosalam Punya Rasa Khas

18 Maret 2019, 10: 30: 10 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Pekerja sedang memanen buah naga yang siap petik. Ada sekitar 700 pohon buah naga yang ditanam.

Pekerja sedang memanen buah naga yang siap petik. Ada sekitar 700 pohon buah naga yang ditanam. (Anggi Fridianto/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG - Buah naga bisa ditanam dimana saja. Namun buah naga yang ditanam dengan ketinggian 600 meter di atas permukaan air laut seperti di Kecamatan Wonosalam ternyata sedikit berbeda. Rasanya cenderung asam bercampur manis khas buah naga.

Saat Jawa Pos Radar Jombang berkunjung Sabtu (17/3) pagi, udara terasa sejuk di area PDP Panglungan Kecamatan Wonosalam. Burung burung berkicau riang dan terdengar obrolan ringan yang dilakukan sejumlah pekerja di sudut kebun buah naga. Ya, setiap pagi dalam minggu ini mereka memetik buah naga yang siap panen.

Mengenakan gunting, para pekerja ini tampak cekatan memotong serta memilah buah naga yang matang. Beberapa buah naga yang belum masak pohon, dibiarkan untuk dipanen esok harinya. Terletak di kaki dan lereng Gunung Anjasmoro dengan ketinggian rata-rata 500-600 mdpl, buah naga yang ditanam ternyata menghasilkan buah dengan rasa khas.

Jika buah naga di daerah lain cenderung manis. Buah naga di Kecamatan Wonosalam ini cenderung asam. ”Ya biasanya semakin tinggi tempat penanamn buah naga maka rasanya cenderung agak asam. Makanya di Wonosalam rasanya agak unik yaknis manis bercampur asam,” ujar Karliyan, pegawai PDP Panglungan kemarin.

Di area PDP Panglungan, terdapat sedikitnya 700 pohon buah naga yang ditaman di atas lahan kurang lebih satu hektare. Jumlah panen tahun ini memang melimpah, namun diakui tidak sebanyak tahun lalu. ”Hasil panen memang bagus. Namun kalau dibandingkan tahun lalu masih banyak tahun lalu,” jelas dia.

Penyebabnya, karena cabang pohon buah naga sudah agak menua. Sehingga mempengaruhi tingkat produksi buah. Jika pada tahun lalu satu pohon bisa menghasilkan lima buah dalam sekali panen. Kini maksimal satu pohon hanya menghasilkan tiga buah saja. ”Karena bunganya berkurang,” jelas dia.

Selain kendala itu, kadang serangan kutu pohon juga dapat mempengaruhi hasil panen. Namun para petani mengaku bisa membasmi hama dengan cepat. ”Kalau serangan hama paling cuma kutu. Itupun disemprot langsung hilang,” jelas dia.

Untuk perawatan buah naga cukup gampang. Hanya membersihkan rumput liar yang mudah tumbuh sepanjang musim hujan. ”Diberi pupuk dan cukup dirawat bila ada cabang yang mati,” terangnya sembari mengatakan intensitas hujan tidak begitu berpengaruh pada hasil produksi.

Untuk sekilo buah naga, harganya berbeda beda. Buah dengan ukuran besar dihargai Rp 7 ribu/kilogram, ukurang sedang Rp 6 ribu dan paling kecil Rp 4 ribu perkilo. ”Untuk penjualan biasanya pembeli datang sendiri ke sini. Kami sengaja tidak menjual di pasar, karena harganya bisa hancur,” papar dia. (*)

(jo/ang/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia