Senin, 18 Nov 2019
radarjombang
icon featured
Berita Daerah

Melihat Peternakan Kambing Boer Asal Afrika di Desa Ngrimbi Jombang

17 Maret 2019, 17: 42: 00 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Sejumlah Kambing Boer diberi makan di peternakan Desa Ngrimbi, Kecamatan Bareng.

Sejumlah Kambing Boer diberi makan di peternakan Desa Ngrimbi, Kecamatan Bareng. (Anggi Fridianto/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG - Tak hanya kambing jenis etawa atau peranakan etawa (PE), maupun merino yang dikembangbiakan di Kabupaten Jombang. Baru baru ini, kambing jenis boer juga mulai diminati.

Saat Jawa Pos Radar Jombang berkunjung ke Desa Ngrimbi, Kecamatan Bareng, beberapa waktu lalu, sejumlah warga tampak sibuk mengangkut rumput yang didapat dari hutan. Di ujung desa, terdengar lolongan anjing bersamaan suara kambing yang mengembik.

Tepat di ujung selatan Desa Ngrimbi yang berbatasan dengan Kecamatan Wonosalam ini terdapat peternakan kambing boer. Kambing yang berasal dari Afrika Selatan ini memang mulai digemari para peternak di kawasan Wonosalam dan sekitarnya.

Salah satunya, Angelo, 44, yang sudah mengembangbiakan kambing boer selama empat tahun. Warga pindahan NTT ini tertarik dengan kambing boer karena harga jualnya menguntungkan. Satu kilogram daging kambing ini dihargai Rp 80 ribu. Untuk kambing pejantan usia 2-3 tahun bisa mencapai 150 kg. ”Ini merupakan kambing jenis boer yang diminati sejumlah peternak,” ujar dia kemarin.

Kambing jenis ini, kata dia, memang posturnya tidak bisa tinggi seperti kambing jenis PE maupun etawa. Namun keunikan lain kambing ini adalah postur badan yang memanjang, bahkan untuk kambing pejantan berat bisa mencapai 100 kg lebih. ”Memang ini adalah jenis pedaging, seekor pejantang dewasa bisa mencapai 1,5 kuintal,” tandasnya.

Apalagi, jika asupan nutrisi dan makanan kambing ditambah. Peternak bisa meraup untung hingga puluhan juta perbulan. ”Per ekor kambing boer harga di pasaran Rp 80 ribu/kg. jadi hitungan penjualan bukan per ekor, tapi perkilo. Sehingga meskipun kambing baru setahun tapi kalau bobot 60 kg ya tinggal mengalikan saja,” papar dia.

Untuk mempercpat proses penggemukan, Angelo memberi makan binatang piaraannya hingga empat kali dalam sehari yakni pagi siang, sore dan malam. Selain diberi makanan rumput hijau. Dia juga memberi sentrat pabrikan. ”Sentrat pabrikan memang untuk nambah supaya cepat gemuk,” papar dia.

Perawatan kambing boer menurutnya juga susah-susah gampang. Pada awal merintis dia mengaku kesulitan dengan kambing jenis boer yang tak begitu tahan hawa dingin seperti di Ngrimbi dan Wonosalam. Namun kini kambing tersebut sudah beradaptasi. Bahkan di kandangnya jumlah mencapai ratusan.

”Perawatannya hanya butuh ketelatenan. Kalau kuku mulai tumbuh kita gunting, itu saja. Sebab kalau tidak digunting akan mudah patah kakinya, karena bobot kambing rata rata berat,” jelas dia.

Kambing-kambing tersebut tidak hanya dipasarkan di pasaran lokal. Melainkan di luar Jombang mulai Surabaya dan sekitarnya. ”Pemasaran kami hanya menggunakan facebook dan online saja, karena lebih cepat dan menguntungkan,” pungkasnya. (*)

(jo/ang/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia