Jumat, 15 Nov 2019
radarjombang
icon featured
Tokoh

Mengenal Cucuk Espe, Seniman dan Sastrawan Muda Kabupaten Jombang

15 Maret 2019, 14: 53: 08 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Cucuk Espe, seniman dan sastrawan Jombang.

Cucuk Espe, seniman dan sastrawan Jombang. (Achmad RW/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG - Seniman asal Jombang ini masih berusia muda. Ia adalah seorang penyair, esais, cerpenis dan penulis naskah drama, juga aktor Indonesia yang dikenal sangat produktif menulis di berbagai media cetak nasional. 

Serta beberapa jurnal seni di luar negeri. Keteguhannya dalam berkesenian juga diakui banyak seniman lain di Jombang, sebagai sebuah hal yang patut diapresiasi. Ia adalah Cucuk Suparno yang dikenal Cucuk Espe.

Pria kelahiran Gudo Jombang 19 Maret 1974 ini lebih dikenal dengan nama penanya Cucuk Espe. Rambut gondrongnya menjadi identik setiap tampilannya. Ia memang salah satu seniman yang bergerak di bidang teater, satra menulis dan masih aktif hingga kini.

Cucuk Espe ketika pementasan teater.

Cucuk Espe ketika pementasan teater. (Achmad RW/Jawa Pos Radar Jombang)

Saat ditemui Jawa Pos Radar Jombang, dia bercerita tentang kehidupan perjalanan keseniannya. Cucuk mengaku memulai kiprah sebagai seniman dan sastra ketika masuk SMP, diawali dengan menulis. “Waktu itu nulis esay artikel, nulis cerpen, dan dikirim ke berbagai media cetak yang ada. Awalnya saya mengirim di Surabaya ternyata tembus dan dapat uang, sejak itu mungkin saya mulai tertarik menulis,” ucapnya. 

Baru masuk bangku SMA, dirinya mulai berkenalan dengan dunia teater sekolah. Hingga kemudian kebiasaan baru itu terus ditekuninya hingga bangku kuliah, dan bahkan hingga saat ini. “Waktu SMA coba-coba teater dan waktu masuk kuliah, kebetulan juga di sastra, sampai saat ini jalan dan Alhamdulillah masih nyaman,” terang alumnus IKIP Malang ini.

Meski demikian, dia menyebut upaya untuk bertahan sebenarnya tidak mudah. Di awal perjalanannya merintis teater sekolah, orang tuanya sempat tidak setuju. “Tentu ini wajar dan banyak orang tua juga merasakan, ketika tahu anaknya masuk teater mungkin bayangan mereka anaknya akan jadi nyeleneh, dalam bahasa kasar dianggap gila,” ucapnya. 

Namun dengan pembuktian lain, dirinya tetap bisa bertahan hingga orang tuanya mengikhlaskan. “Tentu dengan kebiasaan menulis, apalagi bisa dimuat di media masa kala itu jadi pembuktian khusus kepada orang tua, saya bisa menjalani  berbarengan dengan sekolah. dan menurut saya teater juga tidak bisa lepas dari buadaya menulis, keduanya tidak boleh dipisahkan,” imbuh Cucuk.

Hingga kini, ayah dua orang anak ini telah menelurkan puluhan karya sastra. Mulai dari naskah drama, tulisan lepas cerpen hingga buku. Sebut saja beberapa naskah drama seperti Para Pejabat (1995), Monolog Sang Penari (1997), Bukan Mimpi Buruk (1998), Mengejar Kereta Mimpi (2001), Rembulan Retak (2003), Juliet dan Juliet (2004), 13 Pagi (2010), dan banyak naskah skenario film hingga buku dan karya novel lainnya. 

Sejumlah penghargaan pun pernah disabetnya. Seperti Aktor Teater Terbaik Peksiminas III di Jakarta 1995 hingga terpilih sebagai cerpenis terbaik 2 FolkFEST II Desember 2010 di Bangkok, Thailand. “Untuk saya, teater itu tidak hanya panggung dan pentas, disana ada naskah dan dokuman dan lahan lain yang bisa digarap, kalau memang ditekuni saya yakin bisa. Dan saya membuktikan,” pungkasnya.

CUCUK, memang salah satu orang yang dikenal teguh dalam pendirian. Tetap hidup dari kesenian dan penulisan yang dijalani hingga kini. Hal ini pun diakui sendiri oleh salah satu pekerja seni di Jombang, yang juga bergerak di bidang teater. 

Menurut Imam Ghozali, Cucuk Espe semenjak sekolah sudah terlibat dalam pergerakan komunitas Bengkel Pembinaan Teater Jombang (Kelbin Terbang) 980. Dalam beberapa kali pementasan, dirinya melihat Cucuk punya bakat terpendam. “Mas Cucuk itu anak buahnya Nahrowi, jadi diantara kelompok teater Ngoro itu, ia memang terlihat menonjol dari banyak temannya,” jelasnya, ditemui seniman teater senior di Jombang.

Bahkan ia menilai orang yang mudah beradaptasi dengan sistem baru. “Saya masih ingat betul ketika saya menangani pertama, saya dan gurunya Cucuk punya gaya berbeda ketika menyutradarai drama. Dia kan biasa main realis, ketika saya ajak main teater surrealis, ternyata dia bisa menyesuaikan diri dengan cepat, karena memang dia punya sens di situ,” lanjutnya.

Meski demikian, Imam juga menyebut Cucuk memang lebih dikenal sebagai penulis aktif dan produktif hingga sekarang. “Saya lebih mengenal sebagai penulis, baik catatan kebudayaan dan cerpen dan repertoar drama. Dia termasuk orang yang produktif dalam menulis banyak repertoar drama serta catatan kecil kebudayaan. Kalau main teater Cucuk memang lebih bergerilya monolog, sebagai pemain tunggal,” imbuhnya.

Lebih dari itu, Imam juga menyebut kagum dengan keteguhan bertahan di dunia kesenian dan sastra. Karena menurutnya, banyak orang bukan lahan yang menjanjikan terlebih untuk bisa hidup apalagi menghidupi orang lain. “Jejaringnya sudah sangat luas mungkin ya, sebagai seorang kawan tentu saya sangat mengapresiasi gerakannya. Tentu itu sebuah keberanian yang besar,” jelasnya. 

Saat disinggung keberaniannya, Cucuk mengakui jika hingga hari ini masih berkecimpung di dunia kesenian peran baik fil maupun teater dan menulis. Namun, menurutnya hal ini susah sangat baginya, bahkan untuk hidup dan menghidupi keluarganya. 

“Sampai hari ini saya mengandalkan menulis beberapa buku dan berteater. Beberapa tahun terakhir ini lagi aktif di perfilman dengan kawan-kawan. Dan yang jelas itu masih cukup untuk hidup saya, karena memang dilakukan dengan sungguh-sungguh, itu saja,” pungkasnya. (*)

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia