alexametrics
Jumat, 23 Apr 2021
radarjombang
Home > Peristiwa
icon featured
Peristiwa

Serangan Hama Wereng dan Potong Leher Merata di Wilayah Jombang

15 Maret 2019, 08: 08: 16 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Petani di wilayah Kesamben yang mengeluhkan serangan hama wereng.

Petani di wilayah Kesamben yang mengeluhkan serangan hama wereng. (Ainul Hafidz/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG - Hama yang menyerang padi petani  terjadi di hampir semua wilayah di Jombang. Data yang ada di POPT (Pengendali Organisme Pengganggu Tanaman) Jawa Timur di Jombang tercatat ada dua jenis, masing-masing hama wereng dan penyakit potong leher.

Sutami, Koordinator POPT Jawa Timur di Jombang mengungkapkan, beberapa kecamatan yang terdampak dua organisme pengganggu itu. Di antaranya untuk hama wereng di Kecamatan Bandarkedungmulyo, Jombang, Diwek, Gudo dan Kecamatan Perak serta Kesamben. “Untuk wereng memang istilahnya tetap ada. Akan tetapi tidak sampai serangan,” kata Sutami dikonfirmasi kemarin (14/3).

Disebutkan,  rata-rata luas padi yang terserang hama di masing-masing kecamatan tak sampai lebih dari 10 hektare. “Kalau per kecamatan nggak ada, laporan yang kita terima itu ada yang satu hektare, ada juga tiga hekare. Paling banyak di Kecamatan Peterongan luasnya sampai 3,5 hektare,” imbuh dia.

Baca juga: Ganti Rugi Bangunan di Lahan PT KAI Diserahkan ke Dinas PU Bina Marga

Dari data itu lanjut dia, juga termasuk di wilayah Kesamben. “Sampai sekarang memang belum masuk seluruhnya, cuma kemarin sudah ada gerakan di Desa Pojokrejo,” sambung Tami. 

Sedangkan pengganggu tanaman lainnya yakni jamur pyrucularia oryzae atau potong leher, justru lebih banyak. Menyerang hingga tujuh kecamatan. “Jombang, Diwek, gudo, Tembelang, Peterongan, bareng dan Kecamatan Jogoroto,” sebut dia.

Meski tak menyebut luas lahan yang terserang, kata Sutami, sudah ada langkah yang dilakukan pihaknya. “Jadi sudah kita antisipasi melakukan gerakan masal. Sehingga tidak sampai terjadi serangan. Gerakan rutin dan terjadwal serta sesuai informasi petani di masing-masing wilayah,” tutur Tami.

Sebab dikhawatirkan, jika tak segera dilakukan, organisme pengganggu itu akan semakin menyebar ke tanaman lainnya, hingga berdampak pada produktivitas padi. “Memang ketika ada laporan dan informasi dari petani, kami langsung siap melakukan gerakan,” beber dia. 

Terlebih lanjut Tami, setelah panen raya padi,  masih ada MK (musim kemarau) pertama pada April. “Jadi setelah ini kan panen kemudian pembibitan. Kami terus melakukan pengamatan ke pembibitan. Karena khawatirnya wereng akan pindah ke bibit padi, diharapkan nanti tidak sampai menyebar,” pungkas Tami. (*)

(jo/fid/mar/JPR)

 TOP