Senin, 23 Sep 2019
radarjombang
icon featured
Tokoh

Kwat Prayitno, Sang Mahaguru Karateka di Kabupaten Jombang

12 Maret 2019, 19: 28: 00 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Kwat Prayitno (kiri), sang mahaguru karateka Jombang.

Kwat Prayitno (kiri), sang mahaguru karateka Jombang. (Wenny Rosalina/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG - Kwat Prayitno, sumbangsihnya di bidang karate sangat luar biasa. Kecintaannya kepada karate, membawa Kabupaten Jombang sangat disegani, bahkan hingga hingga ke tingkat Nasional, kayaknya hanya karate yang mampu menggelar kejuaraan nasional secara konsisten.

Pria kelahiran Jombang 28 Agustus 1960 ini, mulai mencintai olahraga bela diri sejak tahun 1973, saat dirinya masih duduk di bangku SMP. Tidak hanya belajar dalam sekolah melalui ekstrakurikuler, tapi juga belajar di luar jadwal latihannya di sekolah. Sejak itu ia mulai menguasai ilmu-ilmu karate.

Namun,  ia tak ingin disebut sebagai atlet. Pasalnya, ia hanya beberapa kali saja ikut kejuaraan. Selebihnya ia lebih kepada pembinaan-pembinaan juniornya yang belajar kepadanya. “Zaman dulu dunia olahraga tidak seperti sekarang yang banyak sekali kejuaraan,” ujarnya. 

Foto masa kecil Kwat Prayitno.

Foto masa kecil Kwat Prayitno. (Wenny Rosalina/Jawa Pos Radar Jombang)

Dia pernah memenangkan Gubenur Cup dari tim Jombang pada 1978. Kejuaraan memang sangat jarang saat itu, setelah ada Gubernur Cup, bertahun-tahun kemudian baru ada kejuaraan lagi di tempat yang lain.

“Kalau sekarang kan hampir setiap bulan ada, makanya anak-anak sekarang yang sering ikut kejuaraan lebih pantas disebut atlet dibandingkan dengan saya,” katanya.

Selain menjuarai beberapa kejuaraan, dirinya juga pernah mendapatkan Jawa Pos Radar Mojokerto Award di bidang olahraga pada 2006 silam sebagai pembina olahraga prestasi Jawa Timur. Itu tahun kedua setelah Radar Mojokerto Award yang pertama  2005. “Tahun pertama di olahraga didapat sepak bola kalau tidak salah,” ungkap tamatan SDK Wijana Jombang 1971 ini.

Di dunia olahraga ia tak hanya beberapa kali berhasil mengharumkan nama Jombang. Saat ia menempuh pendidikan S1 di STIE Satya Widya Surabaya ia pernah  menjadi anggota senat dan BPM di kampusnya pada  1984-1986. Ia juga pernah menjabat sebagai Sekretaris Lemkari Pengda Jatim 1989-2003. Kemudian ia menjadi bendahara  KONI Jombang pada  1999-2003.

Setelah masa jabatannya sebagai bendahara usai, ia kemudian menjadi ketua dua KONI cabang Jombang periode 2004-2008. Ia juga terdaftar sebagai ketua dua komisi teknik MSH Lemkari Cabang Jombang periode 1980-2004.

Pada 2004 sampai sekarang ia masih menjadi penasehat lemkari cabang Jombang, menjadi bendahara Inkanas Jatim dan menjadi penasehat Inkanas Jombang  2005 sampai sekarang. Selain itu sampai sekarang ia masih aktif menjadi ketua harian Forki Jombang.

Jabatan yang pernah dijalaninya juga sebagai penasehat sukarela PMI sebanyak 71 kali serta menjadi ketua dewan guru budokan karate-do Australia perwakilan Indonesia. Itu sebabnya ia tak pernah mau disebut sebagai seorang atlet karena pengabdiannya bukan pada kejuaraan-kajuaraan dan mencetak prestasi sebanyak-banyaknya, waktunya banyak ia dihabiskan dalam kegiatan olahraga sebagai pengurus serta pelatih.

Ia juga tak ingin disebut sebagai pejuang olahraga karena sebagai pelatih yang sudah mencetak beberapa karateka andalan Jombang. “Saya juga bukan pejuang, karena saya tidak pernah memperjuangkan apapun, saya hanya menjalankan amanah yang diberikan saja, selebihnya saya mengalir saja. “Saya adalah saya sendiri dan saya bukan siapa-siapa,”  katanya.

Tidak hanya dikenal sebagai pelatih dan atlet yang hebat di Jombang. Kwat juga merupakan salah satu dosen program studi olahraga di STKIP PGRI Jombang sejak 2009 sampai sekarang. Ia juga merupakan seorang pembisnis sukses.

Bakat bisnisnya mengalir dari darah keluarga yang turun temurun menjadi pembisnis. Sehingga dimulai  1990 dirinya sudah bisa berbisnis dengan cara berdagang. dirinya pernah memiliki sebuah toko emas yang terbakar. Dan, sekarang pemilik toko bangunan di beberapa tempat. Maklum saja, selain keturunan pembisnis, ia juga merupakan sarjana ekonomi dan mengambil pasca sarjana di Universitas Brawijaya Malang. 

Namun meski ia belajar dan menekuni dunia ekonomi, ia mengajar di program studi penjaskes. “Tapi saya tidak mau mengajar yang sulit-sulit, yang mudah-mudah saja, seperti pelajaran karate begitu saya biasanya mengajar,” ungkap Kwat.

Salah satu mahasiswanya menyatakan jika Kwat merupakan salah satu dosen yang sangat ia segani. “Beliau merupakan dosen yangn murah senyum dan selalu memberikan contoh disiplin saat beliau mengajar dalam kelas,” ungkap Hasan Saifuddin, salah satu mahasiswa Kwat yang sekarang juga sudah menjadi dosen olahraga di salah satu universitas di Bojonegoro. (*)

(jo/wen/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia