Minggu, 15 Dec 2019
radarjombang
icon featured
Tokoh

Mengenal Sosok KH Salahuddin Wahid, Sang Pembaharu Pesantren Tebuireng

12 Maret 2019, 19: 04: 33 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

KH. Salahuddin Wahid, pengasuh pesantren Tebuireng.

KH. Salahuddin Wahid, pengasuh pesantren Tebuireng. (Achmad RW/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG – Sosok yang satu ini adalah salah seorang ulama, tokoh politik, tokoh Hak Asasi Manusia (HAM), juga tokoh pemikir yang asalnya dari Jombang. Tokoh yang juga salah satu putra daerah dari trah keluarganya menghasilkan banyak tokoh besar.

Ia adalah KH Salahuddin wahid atau akrab disapa Gus Solah, lahir di Jombang tanggal 11 september 1942. Putra ketiga dari enam bersaudara putra-putri KH Wahid Hasyim dan Nyai Hj. Sholihah putri KH. Bisri Sansuri. Ia juga adik kandung dari Mantan presiden ke empat, KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Meski menjadi putra kiai, Gus Solah memperoleh pengajaran cukup berbeda dengan saudaranya Gus Dur. Jika Gus Dur lebih banyak menghabiskan masa kecilnya di lingkungan pesantren, Gus Solah malah banyak menempuh pendidikan umum mulai dari SD Perwari Salemba, SMP Negeri 1 Cikini lanjut SMA Negeri 1 Budi Utomo hingga menamatkan kulaihnya di jurusan Arsitek ITB. 

“Saya di Jombang memang tidak lama, karena setelah tahun 1950, saya harus pindah ke Jakarta bersama ayahanda yang saat itu menjabat menteri agama. Otomatis secara pendidikan saya memang menghabiskan pendidikan di umum, meski di sore harinya biasanya tetap ada kegiatan mengaji untuk mengisi ilmu agama,” ceritanya saat ditemui di kediamannya.

Tak saja itu, kehidupannya usai lepas dari kampus juga banyak bergerak di bidang arsitektur. Gus Solah adalah salah satu arsitek handal dan pernah mengepalai beberapa perusahaan konstruksi besar hingga akhirnya berhenti di tahun 1998, setelah krisis moneter melanda Indonesia. Selain juga bergerak di beberapa organisasi dan partai politik, bahkan sempat juga digandeng Wiranto untuk menjadi calon wakil presiden 2004.

“Bisa dibilang hampir 57 tahun saya tidak lagi hidup di Jombang dan memang sibuk di Jakarta. Saya baru pulang kampung ke Jombang ketika usia sudah 64 tahun dan ditunjuk langsung menjadi pengasuh Tebuireng,” lanjutnya.

Meski mengaku sempat kagok dengan dipilihnya dirinya untuk memimpin pesantren. Dirinya terbukti mampu menjalankan tugas dengan baik. Bahkan, seringkali disebut sebagai pembaharu Pesantren Tebuireng. Ini terlihat dari pembangunan dan revitalisasi hampir di segala bidang di Tebuireng, mulai berjalan secara masif. 

“Tentu kalau disebut memodernkan, sudah jauh-jauh hari dilakukan ayah saya yang mulai memasukkan pelajaran umum di kurikulum pesantren. Bahkan di Jaman Pak Ud (KH. Yusuf Hasyim, Red) sekolah juga sudah mulai dibangun. Hanya di era saya intensitas dan percepatannya saja naik,” ujarnya.

Terhitung sejak 2007, sejumlah wisma baru dibangun menggantikan pemondokan lama. Masjid baru Tebuireng juga dipugar. Bahkan sejumlah kamar baru dibangun dengan konsep modern dan tertata rapi. “Kalau ditanya kenapa ya memang saya ingin pondok ini berkembang, ini bisa diukur dengan makin banyaknya santri, dan untuk bisa menampung santri, ya bangunanya harus dipersiapkan. Selain itu agar semua tertata dan santri nyaman dan bisa disiplin,” sebutnya.

Tak saja di sisi fisik, di ranah pendidikan, sejumlah kebijakan baru diterapkan. Kurikulum ditata sedemikian rupa hingga dibuatnya lembaga khusus bernama penjamin mutu untuk mengawasi langsung kurikulum yang berjalan. Sejumlah sekolah baru juga didirikan. Sebut saja madrasah Muallimin hingga Sma Trensains. Juga tak ketinggalan Unhasy yang berhasil dibangkitkan setelah sempat mengalami kemunduran saat bernama Ikaha.

Saat ditanyai hal ini, Gus Solah menyebut faktor perbedaan latar belakang yang mempengaruhi hal ini bisa terjadi dengan cepat. “Saya kan seorang insinyur, sehingga terbiasa bekerja dalam target dan capaian yang terukur. Kalau tidak dengan target bagaimana kita mengukur, karena itu dengan target yang jelas upayanya juga akan jelas, dan terbuki itu berhasil,” lanjut suami dari Nyai Hj Farida ini.

Dan setelah 11 tahun menjadi Pengasuh Tebuireng, dirinya kini mulai menata kehidupannya sendiri. Bahkan ia menyebut kemungkinan besar tahun depan dirinya akan segera melepas jabatan sebagai pengasuh, dan akan lebih konsen untuk menikmati hari tua. “Mungkin sudah saatnya tahun depan saya akan berhenti, memberikan kepada orang yang layak memimpin dan tentunya dari kalangan Dhuriyyah, setelah itu mungkin saya akan lebih berkonsentrasi untuk menjalani masa tua,” pungkasnya.

Tak saja KH Wahid Hasyim yang dikenal jago menulis dan membaca. Kebiasaan ini ternyata juga menurun ke Gus Solah. Ya, kebiasaan Gus Solah menulis sebenarnya baru muncul ketika dirinya mulai menutup kantor jasa kontraktornya karena krisis moneter 1998 silam.

Di tahun-tahun itu, Gus Solah mengaku sempat menganggur setelah ditutup kantornya. Masa itulah yang menjadi titik tolak kehidupannya. Ia mengaku menjadi lebih sering menghabiskan waktu untuk membaca dan belajar menulis. “Saya benar-benar belajar dari nol menulis, karena saya memang tidak terbiasa dan tidak berbakat, berbeda dengan Gus Dur yang punya bakat sejak kecil,” sebutnya.

Bahkan disebutnya untuk berhasil menembus surat kabar kala itu, dirinya harus sampai 20 kali lebih mengirim tulisan. “Setelah itu baru saya mulai bisa terbiasa dan sampai sekarang menjadi kebutuhan,” lanjutnya.

Hal ini diakui pula Nyai Farida, istrinya. Ia menyebut di awal penulisan, Gus Solah bukan orang yang pandai merangkai kata. Dirinya menganggap hal ini sebagai hal yang wajar, mengingat background Gus Solah dari kalangan eksakta dan tak terbiasa dengan tulisan yang berkembang.

“Di awal, tulisannya memang kaku sekali, bahkan untuk menulis surat saja tidak akan bisa lebih dari tiga baris. Malah saya sendiri juga tidak tahu kenapa dulu beliau itu mulai suka menulis, padahal sebelumnya tidak pernah, karena lebih banyak menggambar sebagai seorang arsitektur,” jelasnya.

Bahkan, di awal Gus Solah menulis, dirinya seringkali jadi korektor atas tulisan sang suami sebelum akhirnya bisa benar-benar berkembang. “Saya selalu diminta beliau untuk mengecek tulisannya, sebelum dikirim ke surat kabar. Beruntung beliau adalah orang yang sangat mau belajar dan menerima kritik, sehingga tidak pernah merasa tersinggung kalaupun diingatkan. Beliau itu orang yang tidak pernah mau berhenti belajar,” lanjutnya.

Bahkan hingga kini, dikediamannya ada ruang tersendiri untuk Gus Solah melakukan aktifitas unik yakni mengliping surat kabar setiap hari. “Setiap hari beliau akan membaca koran dan mengguntingnya untuk dikliping menjadi satu berkas khusus dan diindex per kasus,” ucapnya. Hal ini disebutnya biasa dilakukan setiap hari dan akan mempermudah ketika membutuhkan sebuah kajian dan harus diungkapkan dalam ceramah.

Selain itu, kebiasaan menulis yang seolah tak bisa ditinggalkan Gus Solah juga bisa dilihat dengan terus menerusnya mengetik meski sambil beraktifitas. “Beliau itu punya dua HP, yang satu itu memang khusus untuk nulis, jadi seringkali meski di kendaraan atau sedang bersantai dan memegang handphone tersebut, beliau pasti sedang mengetik. Mungkin terlihat seperti orang SMS, padahal beliau sedang menulis,” lanjutnya. (*)

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia