Senin, 17 Jun 2019
radarjombang
icon featured
Tokoh

A Hafidz Ma’soem, Mantan Anggota DPR RI Periode 2004-2009

12 Maret 2019, 19: 01: 43 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

A Hafidz Ma’soem, Mantan Anggota DPR RI Periode 2004-2009

A Hafidz Ma’soem, Mantan Anggota DPR RI Periode 2004-2009 (Ricky Van Zuma/Jawa Pos Radar Jombang)

JOMBANG - Banyak tokoh terkenal dan memiliki peranan penting di Indonesia yang dilahirkan di Kabupaten Jombang. Salah satunya, A Hafidz Ma’soem, tokoh politik yang pernah menjadi  anggota DPR RI periode 2004-2009. Pria kelahiran Jombang 4 Nopember 1948 ini memang senang berorganisasi sejak di bangku sekolah. 

”Saya menjadi pengurus OSIS dan juga pengurus keluarga santri Darul Ulum saat masih pelajar. Tidak ada yang menyuruh tapi memang suka berorganisasi sejak dulu,” ujar A Hafidz Ma’soem kepada Jawa Pos Radar Jombang, kemarin.

Dia menambahkan dirinya kerap mengikuti aksi dan demonstrasi saat masih berusia belasan tahun. ”Tahun 1965 saya juga ikut aksi pembakaran kantor PKI di Jombang, dulu berada di depan Kodim Jombang. Waktu itu saya sudah jadi anggota IPNU dan kesatuan pelajar,” ucapnya mengenang. 

Foto A Hafidz Ma’some saat masih aktif sebagai anggota DPR RI.

Foto A Hafidz Ma’some saat masih aktif sebagai anggota DPR RI. (Ricky Van Zuma/Jawa Pos Radar Jombang)

Ia pun tak memungkiri jika berorganisasi itu mewarisi sifat ayahnya yang merupakan salah satu anggota konstituante. ”Konstituante itu sama seperti DPR saat ini, dulu saya masih ingat diajak ayah ikut ke Bandung. Tapi ayah meninggal sejak saya baru berusia 9 tahun,” sambungnya. Setelah lulus jenjang SMA, dia melanjutkan pendidikan di IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta tahun 1968. 

Di kampus itulah ia digembleng tentang organisasi dan kepemimpinan. Karir politiknya pun dimulai dari ia menjadi Ketua PMII Cabang Jogjakarta pada tahun 1973-1975. ”Setelah lulus Fakultas Tarbiyah 1974, saya juga sempat mengajar di sekolah, seperti SMA Darul Ulum dan sebagainya,” cetusnya. Hafidz mengaku jika tahun 1977 silam pernah diajak temannya yang aktif di Nahdlatul Ulama untuk bergabung di PPP. 

Keberanian dalam bersuara menjadi salah satu faktor yang membuat karir politiknya cemerlang. Hingga akhirnya pada 1982 dia terpilih menjadi anggota DPRD Kabupaten Jombang Fraksi PPP. Bapak tiga anak ini pun menjadi wakil ketua DPRD Kabupaten Jombang periode 1992-1997 dan 1997-1999. 

Meski berkarir di politik, dia tidak meninggalkan dunia pendidikan. ”Saya tetap mengabdikan diri di dunia pendidikan dengan menjadi dosen. Bagi saya dunia politik dan pendidikan itu seperti mata uang yang tidak terpisahkan,” bebernya. Pengalaman akademisnya diantaranya Dekan Fakultas Tarbiyah IKAHA (sekarang Unhasy, Red) Jombang 1988-1990, Dekan Fakultas Syariah Unhasy 1990-1992 dan Pembantu Rektor II Unhasy 1992-1996.

Pendiri Yayasan Roushon Fikr Jombang ini dua periode menjadi ketua DPC PPP Jombang selama 10 tahun sejak 1990-2000. Menjadi ketua DPW PPP Jawa Timur pada 1999-2003. ”Saya juga pernah menjadi ketua DPP PPP tahun 2003-2008,” paparnya. Ia juga terpilih menjadi anggota DPR RI pada 2004-2009 di era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Sementara itu, A Hafidz Ma’soem dikenal sebagai politisi yang santun dalam berpolitik. Meski ia sangat vokal dan nyaring dalam mengkritisi berbagai kebijakan pemerintah, ia mengaku tidak memiliki musuh. 

”Meski kerap silang pendapat, saya selalu mengajak dialog para pemimpin dan menunjukkan letak kelemahan kebijakan tersebut,” lontarnya. Sebab kebijakan yang diambil pemerintah itu menentukan nasib rakyat. Sehingga hal tersebut harus dipikirkan dan dikaji serius dan lebih hati-hati.

”Politik saat ini pragmatis, berbeda dengan politik dulu yang idealis. Tapi situasi politik saat ini lebih enak dibanding dulu,” ungkapnya menganalisa. Hanya saja menurutnya, DPR saat ini kurang nyaring dalam mengontrol dan mengevaluasi kinerja kebijakan pemerintah yang kurang pas. Padahal itu sangat dibutuhkan dalam  berdemokrasi. 

Mantan anggota DPR RI Komisi X ini mengatakan kinerja DPRD perlu ditingkatkan lagi dalam memperjuangkan suara rakyat. Dia menuturkan saat ini secara fisik memang telah meninggalkan politik. Tapi ia  tetap memantau dan mengikuti perkembangan politik di Kota Santri. ”Kekuatan eksekutif memang besar tapi legislatif harus selalu menyuarakan suara rakyat,” cetusnya. 

A Hafidz Ma’soem merupakan orang yang tegas dalam prinsip namun ia santun dalam menyampaikan gagasan. Hal inilah yang membuat ia cukup disegani para politisi lain. ”Dewasa dalam berdemokrasi itu masih belum tertata. Kondisi saat ini partai politik masih kurang memberi pendidikan politik kepada warganya,” ucap pria 69 tahun ini. 

Menurutnya pendidikan politik perlu dipertajam agar kepercayaan masyarakat kepada partai politik tidak luntur. Pengalaman di bidang organisasi sosial kemasyarakatan mulai dari PMII Cabang Jogjakarta, PCNU Jombang, GP Ansor Jombang, Yayasan Darul Aitam Nahdlatul Ulama Jombang, Yayasan Roushon Fikr Jombang dan sebagainya membuat ia semakin sadar pentingnya politik bagi umat.

Dikenal keras dan kritis, sosok yang satu ini tetap taat dan berbakti kepada kedua orang tuanya. Dia menjadi yatim sepeninggal ayahnya. Dia pun dididik ibunya sendiri yang selalu mendoakan dan memberi dukungan. 

”Ibu saya memang buta huruf tapi bisa mengaji, beliau sangat sayang kepada anaknya. Ibu sempat khawatir juga saat saya terjun di politik, apalagi kondisi politik dulu cukup mencekam,” ujarnya kemarin (16/9).

Ia mengaku kesuksesannya dalam berkarir hingga menjadi anggota DPR RI berkat doa kedua orang tua terutama ibunya. ”Banyak yang ibu ajarkan kepada saya, beliau selalu berpesan agar saya tidak meninggalkan ibadah dan banyak hal lain,” jelasnya. 

Putra KH Ma’sum Cholil dan Nyai Hasanah ini pun juga menerapkan hal yang sama dalam mendidik putra-putrinya. Kini ketiga anaknya telah dewasa dan berkarir di bidangnya masing-masing. ”Saya tidak pernah memaksa mereka untuk menekuni bidang apa. Selama bermanfaat untuk orang lain tentu saya dukung,” ungkapnya. 

Ia menuturkan jika tidak semua anaknya mengikuti jejak karirnya dibidang politik. Namun ada yang suka berorganisasi dan aktif di NU. Dadah Fuadah, isteri A Hafidz Ma’soem juga aktif berorganisasi sebagai Sekretaris Muslimat NU Jombang.

Meski usianya masuk 70 tahun di bulan Nopember ini, kesehatan A Hafidz Ma’soem masih cukup baik. Ia mengaku tetap aktif beraktifitas hingga kini. Meski ia memiliki riwayat asam urat dan diabet. Hafidz tetap mengatur pola hidup, rutin berolahraga setiap pagi dengan lari maupun bersepeda. ”Saat ini masih aktif menjadi dosen di Unhasy. Selain itu, saya juga menjadi pembina Yayasan Roushon Fikr,” pungkasnya. (*)

(jo/ric/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia