Minggu, 15 Dec 2019
radarjombang
icon featured
Jombang Banget

Prasasti Gurit, Salah Satu Peninggalan Raja Airlangga di Jombang

12 Maret 2019, 15: 43: 17 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Prasasti Gurit Di Desa Katemas, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang.

Prasasti Gurit Di Desa Katemas, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang. (Wenny Rosalina/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG - Menjadi salah satu peninggalan Raja Airlangga, Prasasti Gurit yang terletak di Dusun Sumbergurit, Desa Katemas, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang sampai saat ini masih sering dikunjungi warga. Ada yang sekedar ingin belajar sejarah, tapi ada juga yang melakukan ritual khusus.

“Pengunjung tidak banyak, hanya ada beberapa yang datang, satu dua orang setiap hari, kebanyakan ingin tahu sejarah seperti pelajar atau mahasiswa, tapi ada juga yang melakukan ritual atau berdoa menyampaikan hajatnya disini,” kata Badri, juru pelihara Prasasti Gurit.

Meski seringkali didatangi untuk melakukan ritual tertentu, prasasti ini tidak pernah dijadikan tempat maksiat seperti pacaran atau yang lainnya. Sebab, prasasti gurit terletak tepat di tengah perkampungan warga. Sehingga tidak pernah lepas dari pengawasan. 

“Kalau hanya berkunjung tidak masalah, asal tidak digunakan untuk hal yang macam-macam seperti pacaran, atau minum-minum, agar tidak meresahkan warga,” tambahnya. 

Selain bernama prasasti gurit, banyak juga yang menyebut prasasti ini dengan sebutan Prasasti Munggut. Pasalnya isi dari prasasti gurit menetapkan pembebasan pajak untuk daerah Munggut. ”Munggut itu nama dusun di tengah hutan, Munggut masuk wilayah Desa Cupak Kecamatan Ngusikan,” jelasnya. 

Pembebasan pajak saat itu ditetapkan pada tanggal 14 Krisnapaksa, Bulan Caitra, Tahun 944 Saka (3 April 1022 M). Meski hanya penetapan sima bebas pajak, prasasti ini dinilai cukup penting sebagai wujud dari eksistensi Raja Airlangga. 

Prasasti Gurit ini berbentuk segilima dimana setiap sisinya  terpahat tulisan-tulisan kuno yang sebagian sudah tidak terbaca lagi. Mulai dari sisi depan, kanan, kiri, belakang hingga atas  pun penuh dengan pahatan. Prasasti ini ditulis dalam bahasa sansekerta dipahat di atas batu andesit. 

Letak prasasti ini pun masih asli dan tidak berubah sejak dulu. Warga sekitar hanya melakukan pemeliharaan saja, dan tidak pernah memindah. Prasasti gurit sendiri termasuk salah satu cagar budaya di Jombang yang terdaftar di BPCB Jawa Timur. Hanya saja belum banyak masyarakat Jombang yang mengetahui keberadaan prasasti ini. 

“Padahal prasasti ini terletak di tengah pemukiman warga, lokasinya juga tidak jauh dari Sendang Made, namun antusias pengunjung ke prasasti gurit lebih rendah dibanding ke Sendang Made, sehingga prasasti ini semakin tak dikenal,” terangnya.

Kegiatan warga sendiri di sekitar prasasti gurit masih cukup banyak. Beberapa ada yang meletakkan sesajen di sekitar prasasti sebelum mengadakan hajatan. Bahkan sedekah bumi juga masih bertahan diselenggarakan setiap tahun di sekitar prasasti. Namun untuk penetapan waktunya berubah-ubah tergantung kebijakan dusun/desa. 

Kondisi cagar budaya ini cukup bersih dan terawat. Hanya saja papan yang berisi penjelasan mengenai sejarah prasasti belum ada. Sehingga pengunjung harus bertanya kepada juru kunci untuk mengetahui sejarah prasasti gurit. 

”Ini merupakan peninggalan nenek moyang kita. Sudah seharusnya kita jaga dan lestarikan, dan ada baiknya generasi muda belajar tentang sejarah terutama yang ada di Jombang untuk terus bisa melestarikan sejarah,” pungkas Badri. (*)

(jo/wen/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia