Senin, 23 Sep 2019
radarjombang
icon featured
Tokoh

Muhammad Arifin, Tokoh Besar Bidang Olahraga Kabupaten Jombang

08 Maret 2019, 15: 44: 24 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Muhammad Arifin, tokoh Jombang yang aktif di bidang olahraga.

Muhammad Arifin, tokoh Jombang yang aktif di bidang olahraga. (Achmad RW/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG - Tak saja sebagai pengampu kebijakan keolahragaan, ia juga sejak kecil hingga pensiun sebagai orang yang benar-benar lekat dengan dunia olahraga. Namanya adalah Muhammad Arifin, pria ini lahir pada 19 September 1950 di Desa Sidokerto, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang. Olahraga baginya memang bukan sesuatu yang baru, karena dimulai sejak dirinya kecil.

Lahan di depan dan samping rumah orangtuanya kala itu memang masih luas, dan seringkali dijadikan ayahnya sebagai tempat latihan anak-anak kampung setempat. Berbagai bentuk kegiatan olahraga digelar, mulai badminton, bola voli hingga sepak bola.

“Memang sejak kecil, bapak saya sering melatih anak-anak di desa untuk berolahraga, depan rumah saya juga digunakan untuk bulu tangkis, voli dan sepak bola,” kisahnya saat ditemui di kediamannya.

Muhammad Arifin saat mendapat penghargaan dari Gubernur Jawa Timur.

Muhammad Arifin saat mendapat penghargaan dari Gubernur Jawa Timur. (Achmad RW/Jawa Pos Radar Jombang)

Menginjak usia remaja, Arifin kemudian mulai tertarik dengan ilmu bela diri pencak silat. Olahraga ini pun telah dikenalnya di lingkungan keluarganya sendiri. Maklum, sang kakek hingga paman-pamannya, telah lebih dulu menggeluti olahraga ini. “Kalau silatnya ya silat tradisional, yang juga ada ilmu kanuragan di dalamnya,” lanjut Arifin.

Bahkan kegiatannya ini kemudian mengantarkannya menjadi ketua IPSI di tahun 1980. Meski demikian, dia mengaku prestasinya yang cukup menonjol justru datang dari cabor atletik. Ya, M Arifin memang salah satu atlet atletik sejak masuk jenjang SMP.

Sejumlah kejuaraan atletik di tingkat Kabupaten pernah ia menangkan di usianya yang masih belia. Beberapa hambatan juga pernah diakuinya terjadi dalam aktivitas mengembangkan dan memperjuangkan olahraga tersebut.

“Termasuk ketika SMA itu saya harus latihan karena mau dikirim ke Jawa Timur, namun karena jarak rumah dan sekolah terlalu jauh, maka saya tidak sanggup,” kenang pria yang pernah menjabat wakil Kepala Dinas Pendidikan dan Kepala Parbupora Jombang ini.

Maklum saja, jarak antara Jombang dengan Desa Sidokerto di Mojowarno memang terpaut cukup jauh 12 kilometer. Dan aktifitas berangkat dan pulang sekolah harus ia lakukan setiap hari dengan naik sepeda ontel. “Tentu saja jangan dibayangkan jalannya sudah seperti sekarang, dulu jalannya tanah dan sangat sulit, itu pun saya tempuh dengan sepeda seadanya,” kenangnya lagi.

Lepas dari bangku sekolah, Arifin melanjutkan kiprahnya di dunia olahraga ketika masuk ke ranah birokrasi. Awalnya, dia menjabat staf TU di SMPP Jombang 1976, dan harus seringkali bolak-balik ke Surabaya untuk mengurus berbagai hal tentang olahraga. Hingga akhirnya setahun kemudian, 1978, dirinya di mutasi ke Dikbud Jombang mengisi posisi staf Binmudora (Pembinaan Pemuda dan Olahraga).

Kariernya pun melejit, hanya butuh waktu dua tahun berjalan, dirinya kemudian menjabat penilik di tempat yang sama untuk wilayah Kecamatan Jombang hingga berujung pada pengangkatannya sebagai Kasi Binmudora selama enam tahun (1986-1998). Ini jabatan paling lama yang pernah ia sandang.

Tak puas disitu, ia juga sempat ditunjuk mewakili Partai Golkar duduk di Kursi DPRD setahun setelah dirinya menjabat Kasi Binmudora, sejak 1987. “Saya sendiri di DPRD selama tiga periode,” imbuh istri Sukesih ini.

Setelah itu berbagai jabatan struktural penting juga pernah diemban bapak dua anak ini. Mulai dari Wakil kepala Dinas Pendidikan, kepala Kantor Parbupora (Sekarang Dispora) dan sebelum kemudian ia didapuk sebagai pimpinan tertinggi KONI (2008-2016).

Dan kini, setelah tak lagi menjabat sebagai pejabat struktural maupun organisasi keolahragaan, dirinya mengku lebih banyak menghabiskan waktu untuk bermasyarakat. Ia pun tak melupakan kebiasaannya berolahraga. Tak heran, di usianya yang sudah lanjut, kondisi fisiknya masih tetap prima meski ia mengidap penyakit gula sejak 20 tahun terakhir.

“Kalau olahraga ya masih rutin, seperti bersepeda dan lainnya, cuma kalau organisasi memang sudah saya lepas semua, paling sekarang penasehat saja di KONI,” lontarnya.

Meski jabatan sebagai Ketua KONI baru diembannya tahun 2008, bukan berarti mulai tahun itu juga dirinya aktif di organisasi keolahragaan. Arifin ternyata adalah tokoh yang telah sangat lama berkecimpung di dunia olahraga.

“Kalau di KONI sebenarnya sudah sejak tahun 1978, bahkan saat itu saya harus nggaro dengan posisi saya sebagai penilik Binmudora,” jelas Arifin.

Beberapa rekannya yang sempat mengenalnya lama di KONI juga menuturkan, bagaimana sosok ketua yang memimpin KONI Jombang hingga dua periode itu. Menurut Kwat Prayitno, yang dulu sempat menjadi ketua harian saat Arifin menjabat sebagai ketua KONI, sosok Arifin adalah orang yang sangat paham seluk beluk olahraga di Jombang.

“Kalau masalah olahraga apalagi KONI, orang yang paling paham pak Arifin, karena beliau juga yang ikut merintis keberadaan KONI di Jombang,” jelasnya. Bahkan dirinya tak ragu menyebut Arifin sebagai sosok penting dalam keberadaan KONI Jombang. Hal ini bisa dilihat dari perjuangannya hingga KONI berdiri sampai dengan pembiayaan yang dikatakannya jauh lebih mumpuni dari saat perjuangan.

“Dulu juga saat semua keuangan masih susah setengah mati, sampai jadi KONI yang sekarang punya sekretariat, tetap ya Pak Arifin,” lanjutnya. Bahkan sebagai Ketua KONI, Kwat mengenal M Arifin adalah pemimpin yang sangat tahu kebutuhan anak buahnya. Termasuk orang yang tidak akan takut tersaingi dengan kemampuan anak buahnya.

“Beliau itu orang yang luar biasa, sebagai seorang ketua, paham sekali setiap aspek. Kalau anak buahnya kesulitan pasti bisa dihandel secara sempurna. Mulai dari yang lapangan banget sampai managerial. Tapi, nggak mau menang sendiri, biarpun sebenarnya bisa, kalau ada orang yang mau mengerjakan dia akan kasih kesempatan,” bebernya.

Arifin juga dikenalnya sebagai orang yang sangat bertanggung jawab terhadap jabatan. Dirinya mencontohkan bagaimana Arifin mau meletakkan jabatan meski secara sah dirinya belum terganti pada posisi Ketua KONI, karena akan mencalonkan diri sebagai ketua DPRD. Bahkan Arifin pernah menyatakan kepada seluruh anggota KONI, saat dirinya mencalonkan diri sebagai anggota DPRD, semua urusan kantor akan dilanjutkan ketua harian tanpa ia mau memanfaatkan posisinya.

“Padahal bagi orang lain untuk mundur dari jabatan itu bukan hal yang mudah,” imbuh Kwat. Pengakuan sama juga disampaikan pengurus lain, Edy Danu Puspito, yang mengaku masa kepimpinan M Arifin semua cabor bermunculan dan langsung dihandel. Dia juga menyebut hal yang sangat dikenalnya adalah sifat kebapakan yang dimiliki Arifin. “Tentu, selain penerapan sistem keuangan yang sangat terbuka saat itu, saya kira beliau adalah tonggak pertama yang melaksanakan,” ucapnya.

Maka tak heran jika di tahun 2015 lalu, M Arifin dinobatkan oleh Gubernur Jatim sebagai salah satu tokoh olahraga Jawa Timur. “Saya kira sangat layak, memang beliau bisa dikatakan, orang yang menghabiskan hidupnya sampai saat ini untuk olahraga,” pungkasnya. (*)

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia