Senin, 23 Sep 2019
radarjombang
icon featured
Tokoh

KH Muhammad As’ad Umar, Penggebrak Pendidikan Pondok Pesantren

08 Maret 2019, 15: 07: 13 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

KH Muhammad As’ad Umar, pengasuh ke-7 Pondok Pesantren Darul Ulum.

KH Muhammad As’ad Umar, pengasuh ke-7 Pondok Pesantren Darul Ulum. (Achmad RW/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG - Ulama ini pernah tercatat memimpin dan mengasuh Pondok pesantren Darul Ulum Jombang. Namanya adalah KH As’ad Umar. Kiai ini dinilai sebagai sosok yang melakukan banyak perubahan monumental.

Lahir di Jombang pada 18 Agustus 1933 dengan nama lengkap Muhammad As’ad Umar, Kiai As’ad begitu akrab dipanggil adalah putra dari KH Umar Tamim, pengasuh ke-7 Pondok Pesantren Darul Ulum dan juga cucu dari pengasuh Pertama sekaligus pendiri Pondok pesantren Darul Ulum yakni KH Tamim Irsyad.

Lahir dan tumbuh di lingkungan Pondok pesantren, pendidikan Kiai As’ad sejak kecil diperolah dari ayahnya KH Umar Tamim dan paman-pamanya di Darul Ulum sampai tingkat SMA. Selepas SMA, As’ad melanjutkan pendidikannya di beberapa pesantren, antara lain di Pondok Al-Mu’ayyat Jamsaren Solo.

Pada 1958, beliau menimba ilmu di Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN) Yogyakarta sambil mondok di pondok pesantren al-Munawir Krapyak di bawah asuhan KH Ali Ma’sum, KH Abd. Qodir dan KH Abdullah. Namun tidak sampai meraih gelar sarjana karena keburu dipanggil ayahandanya untuk membantu mengelola pesantren.

Sebagai seorang ulama, bukan berarti kiai As’ad tidak aktif dalam organisasi baik yang bersifat kegamaaan, nasionalis maupun partai politik. Sejumlah organisasi dan jabatan mentereng baik level lokal maupun nasional pernah digelutinya. Sebut saja Front Nasional Kabupaten Jombang Persatuan Petani NU Jombang, Majlis Dakwah Islamiyah Jawa Timur pernah dipimpinnya.

Bahkan yang tentu masih sangat diingat adalah keputusannya menyusul pamannya yakni masuk ke Partai Golkar di tahun 70-an yang juga sempat membuat geger dunia pesantren kala itu.

Meski demikian, dari pilihannya tersebut kiai As’ad sempat menjadi anggota dewan baik tingkat kabupaten provinsi hingga DPR RI dari partai Golkar. Sejumlah gebrakan di ranah pendidikan juga pernah dibuatnya, dengan menggabungkan keilmuan pesantren dengan ilmu umum yang di masa itu belum terlalu banyak dipilih pesantren lain.

Kiai As’ad telah berhasil mendirikan beberapa sekolah yang hingga kini terbukti mampu memberikan pendidikan tak cuma bernilai agama, namun juga ilmu pengetahuan umum secara utuh dan menghasilkan santri yang siap menghadapi tantangan zaman.

Sebut saja SMA 2 Unggulan BPPT yang pernah menarik BJ Habibie untuk ikut menyokong pembangunannya. Juga Akper DU yang kala itu bahkan hingga kini masih menjadi karya monumentalnya untuk perkembangan pendidikan pesantren yang mungkin di masanya masih tak terpikirkan oleh banyak pesantren lain.

Hingga meninggal dunia 5 Desember 2010 lalu, tepatnya di usianya yang ke 77 tahun, kiai As’ad memiliki 8 putra putri dari pernikahannya dengan  Hj. Azzah. Ke-8 putra putri tersebut Zaimuddin, Zulfikar, Zainul ibad, Niswah Qonita, Zulhilmi, Zahrul Jihad, Uswatun Qoyyimah, dan Zahrul Azhar. Sedangkan pemakamannya di kompleks makam pendiri dan keluarga Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang yang bisa dilihat hingga kini.

Sebagai pengasuh pondok pesantren, kiai As’ad memang dikenal sering mengambil keputusan nyeleneh dan tak umum bagi banyak orang ketika itu. Namun semua dilakukannya dengan penuh keteguhan hati dan ia siap menerima segala resikonya.

Hal ini diungkapkan putranya HM Za’imudin Wijaya saat ditemui di kediamannya kemarin (8/7). Menurut Gus Zuem, sapaan akrabnya, sang ayah memang orang yang seringkali berpikiran maju ke depan dan masih bertolak belakang dengan kondisi saat itu. Bahkan keberaniannya ini tak sering mendatangkan keadaan yang tidak mengenakkan baginya bahkan pondok pesantren.

“Beliau memang tidak pernah takut dengan dampak dari langkahnya, semboyannya yang masih sangat kami ingat tentu jagung bakarane, tanggung pekarane (Jagung bakarannya, akan menganggung akibat dari perkara yang diperbuatnya, Red),”  katanya.

Dirinya mencontohkan bagaimana pendirian SMA unggulan Darul Ulum yang memang diinisiasi ayahandanya tesebut untuk menaggulangi santri yang kala itu hanya belajar agama dan kemudian perilakunya cenderung kurang disiplin. “Jaman dulu anak pondok kan memang seenaknya, masuk jam 07.00 anak-anak biasa datang jam 08.00 atau 07.30. Untuk itu abi membangun SMA unggulan dengan sebelumnya melakukan kajian di SMA taruna,”  lanjutnya.

Namun pada pertama, penerapan sistem baru dengan cara yang cukup disiplin mengundang cibiran dan pandangan miring dari warga juga komunitas pondok pesantren sekitar. Penerapan sistem pendidikan ini dinilai nganeh-nganehi dan tidak umum sehingga banyak yang meragukan.

Namun, pandangan miring itu mulai berubah ketika pendirian sekolah ini kemudian dilirik BJ Habibie yang kala itu menjabat Menristek dikti. Program pendidikan yang ditawarkan SMA ini nyatanya membuat pemerintah menggelontorkan dana untuk sekolah yang sebelumnya dianggap anehn ini.

“Sempat membuat Pak Habibi tertarik, sehingga membuat Insan Cendikia yang murid pertamanya mengambil bibit dari sini. Lulusannya juga terbukti bisa masuk ke PTN 90 persen. Setelah itu baru semua orang berubah pandangan, ternyata ide itu bukan isapan jempol belaka,” imbuh Ketua Yayasan Pesantren Tinggi Darul Ulum ini.

Gus Zuem menyebut langkah tersebut adalah sebuh pemikiran ayahandanya yang tidak mau mendikotomikan pendidikan agama dan ilmu umum. Ayahnya berpendapat jika semua ilmu pada dasarnya adalah dari Allah dan wajib dipelajari. “Abi ingin anak-anak darul ulum memang tidak lulus dan dipanggil modin saja di masyarakat, abi itu kepingin santri nanti yang lulus bisa menghafal Alquran tapi juga dokter, dia pilot tapi juga pinter istighosah,” tegasnya.

Hal lain yang juga tak kalah menggemparkan adalah keputusan kiai As’ad bersama kiai Mustain Romly untuk masuk partai penguasa di zaman orde baru. Pilihan yang sempat mendapat banyak tentangan dari banyak pihak baik umat dan ulama lain, ternyata juga mampu dijawab dengan baik kiai As’ad.

Padahal kala itu, Pondok Pesantren Darul Ulum juga sempat mendapatkan imbas yang cukup besar pada awalnya. Seperti berkurangnya jamaah tarikat hingga pengurangan santri yang sangat signifikan. “Santri pernah habis karena itu, cibiran juga terus datang. Bayangkan saja asalnya 7.500 tinggal 1.500 waktu itu santrinya, tapi beliau tetap kekeh karena menganggap yang dipilihnya tak melangar syariat,” ucapnya.

Karena bagi kiai As’ad pilihan masuk Golkar saat itu adalah usaha untuk berdamai dengan keadaan. Kondisi kekuatan Soeharto yang kala itu absolut dengan dukungan penuh ABRI yang mustahil untuk dikalahkan dengan mudah, membuat dua kiai besar Darul Ulum kala itu memilih jalan lain yang dianggap sebagian besar orang ekstrim bahkan penghianatan.

“Beliau yakin tidak melanggar agama, kalau dibiarkan begitu siapa yang akan mewarnai. Dan menurut beliau kalau memang tidak mungkin memukul maka harus bisa merangkul dan terbukti pilihan tersebut tepat dan beliau juga konsisten,” pungkasnya.

Seperti kebanyakan ulama lain, kiai As’ad juga ternyata punya kegiatan rutin yang hampir tak pernah ditinggalkannya. Salat maghrib berjamaah di masjid Pondok Pesantren Darul Ulum. “Yang rutin dan tidak pernah ketinggalan tentu ya jamaah maghrib, karena beliau juga pasti jadi imamnya,” beber Gus Zuem putranya.

Kebiasaan ini terbilang cukup spesial. Sebab, kebiasaan dan adat di masjid tersebut, imam salat biasa dilakukan secara bergiliran. Artinya beberapa kiai sepuh memang diberi waktu khusus untuk menjadi imam salat fardu tiap hari. “Di pondok ini kan kalau subuh kiai Mustain yang jadi imam, maghrib itu abi (kiai As’ad, Red) dan isya kiai Cholil,” ucapnya merinci.

Karena itulah, sesibuk apapun kiai As’ad dengan berbagai kegiatannya di luar, untuk urusan jamaah maghrib baginya adalah hal yang tidak akan pernah dilewatkannya. “Biasnya kalau sudah mepet maghrib, beliau akan langsung minta pulang karena kewajibannya ini,” lanjutnya.

Rutinitas ini juga terus diusahakannya ketika kiai As’ad sudah tak mampu menjadi imam secara penuh. Setelah menderita serangan stroke, ia memang lebih mengurangi beberapa aktifitas baik di ranah politik maupun sebagai imam masjid. Meski demikain, ia tetap mendelegasikan putra-putranya untuk menggantikannya.

“Itupun beliau tetap datang, mungkin untuk mengawasi apakah tanggung jawab beliau tetap dijalankan atau tidak oleh anaknya,” pungkas Gus Zuem. (*)

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia