Minggu, 15 Dec 2019
radarjombang
icon featured
Peristiwa

Debit Air Sungai Brantas Naik, Jasa Perahu Tambang Terganggu

08 Maret 2019, 08: 59: 37 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Dermaga perahu tambang Sungai Brantas di tanggul sisi Kecamatan Megaluh.

Dermaga perahu tambang Sungai Brantas di tanggul sisi Kecamatan Megaluh. (Achmad RW/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG - Dalam dua hari terakhir volume air Sungai Brantas sangat tinggi. Arus air juga semakin kencang. Kondisi ini berdampak pada operasional perahu penyeberangan. Kekuatan perahu jadi faktor penting untuk bisa menyeberangi Sungai Brantas saat banjir.

Siang itu, penumpukan kendaraan tampak mengular di salah satu dermaga perahu tambang Sungai Brantas di tanggul sisi Kecamatan Megaluh. Motor, mobil dan pejalan kaki nampak sabar menunggu perahu yang kala itu masih bersandar di tanggul sisi Jatikalen.

Kondisi dermaga pun tak terlihat seperti biasanya, tanah becek serta genangan air nampak menghiasi landasan menuju dermaga. Kondisi pelat penghubung dermaga juga tak nampak seperti biasa. Jika biasanya pelat besi ini dipasang lurus, kemarin pemasangannya terlihat menanjak dan mendongak ke atas.

Ya, pagi kemarin memang kondisi penyeberangan ini tengah berbeda. Air Sungai Brantas tengah dalam kondisi naik tinggi. Arusnya pun sangat deras, terlihat dari terseretnya ratusan rumpun enceng gondok yang terlihat hanyut terbawa air. Tingginya muka air, bahkan hingga meluber menutupi jalan menuju demaga perahu tambang.

Menurut salah satu warga, kondisi ini sudah terjadi sejak dua hari terakhir. Debit yang tinggi membuat air meluber ke bagian pinggir sungai di bawah tanggul hingga merendam beberapa dermaga lain.

“Ini sudah lumayan, kemarin bahkan lebih parah. Jadi banyak perahu yang tidak melayar, mau tidak mau ya jadi menumpuk di sini,” ucap Marianti, 35 salah satu pengguna jasa tambang.

Memang kemarin, hanya terlihat satu perahu saja yang berani beroperasi, yakni perahu Nogo Joyo. Di sekitar tanggul ini sebenarnya ada 5-6 perahu tambang namun hanya perahunya saja yang berani beroperasi. “Cuma kapal saya memang yang masih beroperasi. Ya kan air tinggi, jalan masuknya terendam tinggi, jadi tidak bisa dibuat melintas motor, jadi yang lain tidak berani,” ucap Habibudin, 62, pemilik perahu.

Selain itu, pertimbangan lain adalah kondisi perahu. Dari empat perahu besar dan dua perahu kecil yang ada di sepanjang tanggul itu, tak semuanya memiliki mesin dengan kekuatan dua diesel.

“Kalau diesel satu rentan nggak kuat kalau kena arus, lha kapal saya kan mesinnya dua, jadi kuat. Apalagi yang kapal kecil yang cuma bisa ngangkut motor, sudah pasti tidak berani kalau banjir begini,” lanjutnya.

Namun untuk tetap beroperasi, ia pun mengaku harus merogoh kocek lebih dalam. Pasalnya untuk mengarungi kedalaman genangan air, ia harus menguruk sisi bawah dermaga hingga melapisinya dengan anyaman bambu.  Selain itu, untuk mengurangi risiko, beban kendaraan yang masuk ke kapal juga disebutnya harus dibatasi.

“Ya memang modalnya tambah, kalau kendaraan pasti diatur. Misalnya kalau banjir begini tidak boleh terlalu banyak mobil, kalau motor sih masih aman,” pungkasnya. (*)

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia