Senin, 23 Sep 2019
radarjombang
icon featured
Tokoh

KH Abdul Aziz Manshur, Ulama Salaf Pengasuh Pesantren Pacul Gowang

07 Maret 2019, 15: 26: 12 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

KH Abdul Aziz Manshur semasa hidup.

KH Abdul Aziz Manshur semasa hidup. (Achmad RW/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG - Sosok ulama ini begitu dicintai santri juga masyarakat sekitar. Ia juga ulama yang dikenal humoris dan telaten dalam memberikan pengayoman terhadap masyarakat. Kecintaannya kepada santri dan  pengajaran ilmu salaf di pesantren tidak diragukan lagi.

Kiai yang disebut memiliki paras rupawan dan identik dengan kaca mata ini adalah KH Abdul Aziz Manshur. Lahir tahun 1941, beliau adalah putra kelima dari 10 bersaudara, dari ayah dan ibu KH Manshur Anwar dengan Nyai Hj Salamah.

Dari garis keturunan ayah, KH Abdul Aziz Manshur adalah keturunan langsung dari pendiri pondok pesantren Tarbiyatunnasyiin Pacul Gowang Diwek Jombang KH Alwi. Sementara dari ibu, merupakan keturunan KH Abdul Karim Lirboyo.

KH Abdul Aziz Manshur saat masih berusia muda.

KH Abdul Aziz Manshur saat masih berusia muda. (Achmad RW/Jawa Pos Radar Jombang)

Sebagai seorang anak kiai, pendidikan agama memang telah dienyamnya sejak kecil. Baik dari ayahandanya sendiri di Pondok Paculgowang hingga kemudian melanjutkan tradisi pengembaraan ke banyak pesantren, laiknya banyak kiai besar dan putra kiai lain.

Dimulai dari pembelajarannya di pondok milik ayahandanya sendiri Paculgowang, berlanjut ke Pondok Pesantren Tebuireng, Sarang, Lasem, Watu Congol Magelang, Banten, Cirebon hingga mengakhiri pengembaraannya di Pondok pesantren kakeknya sendiri di Lirboyo Kediri.

Di Lirboyo sendiri, kiai Aziz menghabiskan masa mudanya hingga menamatkan pendidikan di usia 21 tahun. Kemudian ia melanjutkan pengabdiannya hingga usia 30 tahun. Di Lirboyo jugalah dia akhirnya menikah dengan  istri yang sangat dicintainya, nyai Hj Muslihah Marzuqi yang tak lain adalah adik dari sahabat dan saudaranya KH Idris Marzuqi yang juga  putri gurunya sendiri, yakni KH Marzuqi Dahlan.

Dari hasil pernikahannya, dikaruniai 3 putra putri yakni Hj Asromah Al-Alawiyah Aziz, KH. Muhammad Shobih Al Muayyad Aziz (Pengasuh Ponpes Tarbiyatunnasyiin kini, Red) dan Hj. Humairo Al-Muyassaroh Aziz.

Sebagai pengasuh pondok pesantren, kiai Aziz dikenal juga sebagai orang yang intensif dan istiqomah mengembangkan keilmuan salaf pada pesantren. Sehingga tak heran jika sepanjang kepemimpinannya, Paculgowang tercatat seringkali menjadi rujukan dalam kegiatan Bahtsul Masail di Jombang karena fokusnya pesantren ini pada kajian-kajian ilmu salaf. Selain Pengasuh Pondok Pesantren Tarbiyatunnasyiin, beliau juga pernah menjabat sebagai ketua Dewan Syuro salah satu partai Islam di Indonesia.

Kiai Aziz memang pernah tercatat sebagai pengasuh Pondok Pesantren Tarbiyatunnasyiin untuk menggantikan sang ayah KH. Manshur Anwar, yang telah tiada semenjak 1984 silam, hingga ia tutup usia di tanggal 7 Desember 2015.

“Meninggalnya beliau tentu meninggalkan kesedihan dan rasa kehilangan banyak orang, baik keluarga, santri juga masyarakat yang memang dekat dengan beliau,” ucap putranya KH. Muhammad Shobih Al Muayyad Aziz.

Sebagai seorang ulama, kiai Aziz di kalangan keluarga, santri dan masyarakat memang dikenal sebagai pribadi yang ramah dan santun. Selain gemar melempar joke-joke segar di berbagai ceramah, dirinya juga dikenal sebagai sosok kiai sekaligus pengayom masyarakat.

Kiai Shobih, putra beliau bercerita banyak tentang abahnya semasa hidup saat ditemui Jawa Pos Radar Jombang. Dalam pandangan Gus Shobih, kiai Aziz kepada anak-anaknya sendiri dikenal sebagai bapak yang sangat sabar dalam  mendidik anak. Ucapan yang meneduhkan juga perilaku yang menyenangkan masih diingatnya jelas ketika ia bercerita tentang ayahanda tercinta.

“Jarang sekali beliau marah-marah kepada anak-anaknya, bahkan kalau dulu saya dan saudara saya sedang dimarahi sama ibu, biasanya pasti lari ke abah. Sama abah nanti dihibur biasanya,” kenangnya.

Kesabarannya juga disebut Gus Shobih sangat kuat, abahnya bukan orang yang mudah mengeluh akan keadaan atau sekadar derita yang ditanggungnya. Demi tak menjadi beban keluarga dan siapapun yang dekat dengannya, kiai Aziz malah seringkali tak menunjukkan rasa mengeluh bahkan ketika dalam keadaan sakit.

“Kalau sakit jarang beliau ngomong, kebanyakan ditahan sendiri. Oleh karena itu kita memang seringkali tidak tahu kalau beliau sedang sakit,” lanjutnya.

Oleh karena itu, bukan saja kiai yang dihormati karena status sosialnya sebagai ulama. Namun penghormatan yang datang kepada kiai Aziz menurut anak keduanya ini adalah buntut dari sikap yang ditampilkan sang ayah sendiri. “Abah itu orang yang sangat gati (Perhatian), entah kepada anak, keluarga, santri juga kepada masyarakat,” jelasnya.

Hal itu tercermin jelas dari penghargaan masyarakat kepadanya. Memang sudah jamak diketahui selain mengurus pondok pesantren hingga kegiatan kepartaian, kiai Aziz juga sering diundang masyarakat untuk menyampaikan tausiyah hingga ceramah-ceramah di banyak tempat.

Bahkan, ketika sedang menderita sakit keras di hampir ujung hayatnya, undangan masih saja datang silih berganti meski tak ada lagi kemampuan untuk menghadiri undangan tersebut satu per satu. “Pengajian itu beliau hampir tidak pernah putus, Undangan seringkali datang, karena banyak orang yang senang dengan cara beliau berceramah.

Katanya memang mudah dipaham, santai dan penuh dengan motivasi cara-cara hidup yang memang mendasar. Bahkan ketika beliau sedang gerah saja, undangan tak berhenti datang, meski tetap ditolaknya secara halus karena pertimbangan kesehatan,” imbuhnya.

Bahkan, kecintaannya kepada santri dan masyarakat juga tercermin jelas ketika dirinya memutuskan untuk mau menjadi ketua majelis syuro salah satu partai. Meski menjadi pengurus di jajaran pusat, beliau tetap mengajukan syarat untuk mau menjadi dewan syuro, asal tidak banyak meingggalkan pondok dan santrinya.

Dikutip dari buku Napak Tilas Sesepuh Pondok Paculgowang, ucapan kiai Aziz yang cukup diingat santrinya adalah tentang keputusannya menjabat dewan syuro partai dengan tanpa meninggalkan amanahnya sebagai pengasuh pondok pesantren yang menerima amanah dari wali santri.

“Aku bersedia di jadikan dewan syuro partai, tapi saya tiak mau kalau disuruh menetap di Jakarta. Aku harus tetap di rumah mendampingi santri dan masyarakat. Kalau ada apa-apa yang berhubungan dengan kepentingan partai, cukup melalui telepon saja, tidak harus ke Jakarta. Jikapun terpaksa berangkat, kegiatan santri tidak akan libur,” ucap kiai Aziz dalam sebuah ceramahnya kala itu.

Tentu hal itu adalah sebuah contoh dimana ketika keputusan politik yang diambil seorang ulama tidak harus dengan mengorbankan amanah utamanya, sebagai pengasuh pesantren yakni membina santri. “Walaupun beliau pernah ikut partai juga bukan berarti kemudian meninggalkan pesantren,” pungkas Gus Shobih. (*)

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia