Minggu, 15 Dec 2019
radarjombang
icon featured
Tokoh

Mengenal Kolonel (Purn) Drs H Affandi, Bupati ke-15 Kabupaten Jombang

07 Maret 2019, 15: 22: 15 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Kolonel (Purn) Drs H Affandi, mantan Bupati Jombang periode 1998-2003.

Kolonel (Purn) Drs H Affandi, mantan Bupati Jombang periode 1998-2003.

Share this      

JOMBANG - Bupati yang satu ini pernah memberikan sentuhan pada kehidupan politik dan pemerintahan Kabupaten Jombang dengan cukup apik. Ia adalah Kolonel (Purn) Affandi, pria asli kelahiran Jombang  19 Desember 1949.

Lahir sebagai anak desa kecil di Kecamatan Plandaan, Kabupaten Jombang, Affandi hingga dewasa dikenal sebagai sosok yang sederhana dan tak neko-neko dalam hidupnya. Bahkan dari berbagai penuturan orang yang mengenalnya, selain sederhana Affandi juga dikenal sebagai seorang yang sangat agamis dan seringkali mampu memberikan tausiyah.

Perjalanan kedinasannya di institusi militer pun cukup panjang. Meski demikian seperti kebanyakan pasukan militer, lahir di Jombang Affandi adalah salah satu tentara yang tak pernah berdinas di Jombang. “Kalau dinasnya, memang sering pindah-pindah mulai dari NTT, Bandung dan banyak kota lainnya setiap dua tahun memang kita pindah. Sebelum ditunjuk jadi bupati sendiri beliau sedang menjabat sebagai dosen di Sekolah Staf Komando Angkatan Darat (SESKOAD),” jelas Indarti, istrinya.

Makam Affandi di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Pulo, Kecamatan Jombang.

Makam Affandi di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Desa Pulo, Kecamatan Jombang. (Achmad RW/Jawa Pos Radar Jombang)

Kembalinya Affandi ke Jombang sendiri adalah atas penunjukan dirinya sebagai Bupati Jombang. Menggantikan bupati sebelumnya Soewoto Adiwibowo. Affandi dilantik tahun 1998 untuk memimpin  selama lima tahun hingga tahun 2003. Selanjutnya digantikan bupati pilihan masyarakat pertama, yakni Suyanto.

Pasca tak lagi menjabat sebagai Bupati, Affandi memang lebih banyak menghabiskan waktu bersama keluarga di rumah yang ada di kawasan Geneng Jombang yang kini jadi kantor salah satu parpol. “Kebetulan saat menjabat bupati itu bapak sudah dalam masa akan pensiun, sehingga ketika selesai menjadi bupati, bapak sudah pensiun. Dan seperti keinginan beliau sejak awal memang ingin pensiun di Jombang dan ternyata bisa terwujud,” lanjut Bu In, sapaan akrabnya.

Hingga meninggal dunia 22 Mei 2017 kemarin, Kolonel (Purn) Affandi dikaruniai 3 orang putra. Masing-masing Rakhmad Santoso, Yudha Hari Wibowo dan Yudhi Octavianto. “Hanya anak pertama yang melanjutkan kiprah ayahnya di militer, untuk yang kedua dan ketiga semuanya wiraswasta,” pungkas Indarti.

Bupati Affandi, menjabat bertepatan dengan tumbangnya Orde baru dan mulai pada pergeseran Orde Reformasi. Pada masa itu, dengan sangat terbukanya kesempatan bagi masyarakat, baik sebagai individu, komunitas, maupun kelembagaan, maka muncullah fenomena unik yaitu eforia demokrasi.

Disitulah peran Bupati Affandi dirasa cukup sentral dalam memimpin masayarakat yang berada dalam kondisi tak stabil kala itu. Beliau mampu mengajak masyarakat dan jajaran birokrasinya untuk mengendapkan diri dan meningkatkan upaya-upaya transenden. Beliau sadar, hanya dengan sebanyak-banyaknya mengingat Tuhan yang Maha Esa, semua kekisruhan dan keruwetan dapat diurai.

Dikutip dari buku Biografi Bupati Jombang, dalam sepanjang pemerintahannya Affandi memang lebih menekankan pentingnya penanaman nilai-nilai agama. Jombang yang punya julukan Kota Santri seperti benar-benar berusaha diwujudkan dalam kehidupan nyata. “Antara lain dengan anjuran pemakaian jilbab bagi karyawati di lingkup pemkab dan selalu menebar salam ketika pertemuan,” tulis Dian Sukarno dkk pada buku tersebut.

Tak saja itu, terobosan yang tak kalah hebat yaitu dengan dirinya yang mencoba untuk memaksimalkan kembali peran-peran Amil Zakat dan Sodaqah di Kabupaten Jombang. Bahkan mendorong organisasi serupa di masyarakat untuk memajukan ekonomi umat melalui pengelolaan zakat secara amanah dan profesional.

Maka sejak saat itu ada program pengentasan kemiskinan dan beasiswa bagi anak yang orangtuanya tidak mampu dari dana zakat, infaq, dan shodaqoh kaum  muslimin.

Yang juga mencolok pada saat kepemimpinannya adalah kembali digalakkannya majelis-majelis pengajian, juga memberikan pendidikan agama yang intens terhadap masyarakat. Bahkan untuk rutinan yang diadakan di dalam internal pemda pun mampu dilaksanakannya rutin setiap jumat.

Bahkan kembali dikutip dari biografi Bupati Jombang, salah seorang kerabatnya saat diwawancara menyebut keputusan yang sangat bisa dirasakan adalah penempatan bedug di salah satu sisi Pendopo Jombang.

“Begitulah semangatnya menerjemahkan konsep-konsep kepemimpinan islami sampai-sampai bedug masjid pun ditempatkan di sebuah sudut Pendopo Kabupaten, seolah bersanding mesra dengan gamelan yang dipajang di sisi lain ruang yang sama,” ucap Khoirudin salah satu kerabatnya. (*)

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia