Selasa, 19 Nov 2019
radarjombang
icon featured
Tokoh

KH M Yusuf Hasyim, Sosok Kiai, Pejuang dan Politisi Asal Tebuireng

07 Maret 2019, 06: 39: 31 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

KH M Yusuf Hasyim, anak bungsu dari Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.

KH M Yusuf Hasyim, anak bungsu dari Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari.

Share this      

JOMBANG - Tak sekadar ulama, kiai yang satu ini juga seorang pejuang nan gigih dalam berbagai perjuangan kemerdekaan. Baik perjuangan dalam perang melawan komunisme di kala itu serta pernah juga terlibat dalam kegiatan politik sebagai anggota DPR RI.

Ya, sosok itu adalah KH M Yusuf Hasyim, anak kandung seorang ulama besar kharismatik Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari. Lahir pada 3 Agustus 1929 di Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Pak Ud sapaan akrabnya, merupakan bungsu dari 10 bersaudara, Hannah, Khairiyah, Aisyah, Azzah, Abdul Wahid, Abdul Hakim (Abdul Khaliq), Abdul Karim, Ubaidillah, Mashurroh, dan Muhammad Yusuf dari pernikahan Hadratussyikh dengan Nyai Nafiqah.

Hingga meninggal pada 14 Januari 2007, Pak Ud dikaruniai lima anak. Masing-masing Muthia F, Muhammad Reza, Nurul Hayati, Muhammad Irfan, dan Nurul Amin istrinya Siti Bariyah.

Nama ‘Ud’ sendiri merupakan panggilan kesayangan untuk KH M Yusuf Hasyim dari ayahnya sendiri. Panggilan tersebut muncul ketika Yusuf Hasyim masih kecil dan belum lancar berbicara, menyebut nama sendiri dengan nama Usud bukan Usuf atau Yusuf.

Putra seorang kiai biasanya dipanggil dengan sapaan Gus, begitu pula dengan Yusuf Hasyim akrab dipanggil dengan sapaan Gus Ud. Namun, setelah dewasa Yusuf Hasyim lebih dikenal dengan sapaan Pak Ud.

Dilihat dari ayahanda Pa Ud, yakni KH Hasyim Asy’ari adalah seorang ulama besar. Silsilah dari jalur ayah ini bersambung hingga Joko Tingkir, tokoh yang kemudian lebih dikenal dengan Sultan Hadiwijaya yang berasal dari kerajaan Demak. Sedangkan dari pihak ibu, silsilah itu bertemu 23 pada satu titik, yaitu Sultan Brawijaya V, yang menjadi salah satu raja Kerajaan Majapahit.

KH Muhammad Yusuf Hasyim memang dikenal sebagai salah satu dari sedikit tokoh NU yang menonjol. Ada beberapa faktor yang menyebabkan ia menjadi seperti itu. Selain karena putra KH Hasyim Asyari, ia juga lebih dikenal pemberani dan gemar sekali membaca pola kemasyarakatan. Bahkan menurut riwayat keluarga, di kamar pribadinya lebih banyak terlihat surat kabar dan kliping-kliping daripada kitab-kitab kuning yang biasa melekat pada keluarga kiai.

Hal ini ternyata pun berlanjut hingga dirinya dewasa. Semangat untuk tetap dekat dan lekat di kehidupan luar pesantren membawanya menjadi sosok pejuang semenjak kecil. Dimulai dari masuknya dirinya ke dalam organisasi IPNU hingga kemudian menjadi bagian dari pasukan Hisbullah, sebelum akhirnya dilebur dalam TNI ketika Indonesia merdeka.

Meskipun dia akhirnya lebih memilih pensiun dini ketika posisinya masih menjabat letnan satu. Pak ud juga pernah tercatat sebagai anggota Banser, bahkan pernah menjadi komandan organisasi paramiliter milik NU tersebut.

Sebagai keturunan Bani Hasyim, Pak Ud juga adalah salah satu pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang. Bahkan, di pesantren ini KH M Yusuf Hasyim termasuk salah satu pengasuh yang memegang jabatan terlama, mulai tahun 1965 setelah menggantikan kakak kandungnya KH Abdul Kholik Hasyim hingga 2006. Kini posisi pengasuh digantikan KH Solahuddin Wahid keponakannya.

Di kancah politik, perannya juga tak kalah besar. Pak Ud pernah tercatat ikut sebagai anggota Parlemen DPRGR hingga DPR RI di tahun 1967-1977. Salah satu kader Partai NU hingga dirinya pernah mendirikan sebuah partai yang dinamai PKU meski tak berhasil memenangkan pemilu di tahun 1999 lalu.

Sebagai anak kiai besar, KH M Yusuf Hasyim juga dikenal sebagai orang yang tangguh dalam memperjuangkan kemerdekaan juga berperang lapangan. Sikapnya ini disebut banyak orang telah ada semenjak dirinya kecil, jiwanya yang memang jiwa pejuang dengan keberanian yang tinggi, Pak Ud memang akhirnya lebih sering berkiprah sebagai pejuang dan tentara di usia remaja hingga menginjak dewasa.

Menurut KH M Irfan Yusuf putra keempatnya, sang ayah memang telah merasakan masa-masa kehidupan yang keras sejak kecil. Tak heran, pengalaman itu membuat ayahnya menjadi orang tak tak kenal takut. “Pengalaman beliau memang cukup keras, sejak usia 6 tahun sudah ditinggal ibunya wafat dan di usia 15 bapak sudah ikut perang,” terangnya.

Sebut saja perang kemerdekaan melawan penjajah Jepang dan Belanda, perang mempertahankan kemerdekaan kala dirinya menjadi bagian dari pasukan Hisbullah, hingga perang dengan sesama anak bangsa saat dirinya memimpin Banser yang kala itu getol memerangi PKI.

“Dan perang yang beliau lakukan bukan perang statemen atau dibalik layar, beliau merasakan langsung perang yang berhadap-hadapan di medan tempur,” lanjut pengasuh Pondok Pesantren Al Farros Tebuireng ini.

Bahkan menurut Gus Irfan, sapaan akrabnya, untuk masalah PKI tersebut Pak Ud menaruh perhatian khusus. Hal ini dikarenakan dirinya tahu betul bagaimana proses PKI dalam melakukan aksi pemberontakannya di tahun 1948 dan 1965.

Pak Ud disebut Gus Irfan juga sering terlibat langsung dalam kontak senjata hingga infiltrasi ke tahanan-tahanan yang dikuasai PKI untuk melakukan pembebasan sandera secara langsung.

“Masalah PKI beliau memang perhatian betul, karena beliau memang mengalami sendiri dan bukan katanya-katanya,” imbuhnya. Terbukti hingga akhir hayatnya, Pak Ud memang salah satu orang yang tetap memegang teguh keyakinanya tentang bahaya PKI bila berkembang di Indonesia. Hingga Gus Irfan mencontohkan beberapa kali ayahnya pernah terlibat langsung dalam upaya untuk penolakan, terhadap upaya pemberian hak dan perubahan sejarah tentang PKI di Indonesia.

“Waktu bapak sudah dalam kondisi sakit dulu, beliau pernah langsung mendatangi menteri pendidikan untuk melakukan klarifikasi terkait sebuah buku yang berisi sejarah PKI yang diyakini bapak salah,” sambungnya.

Dalam mempertahankan keyakinannya tersebut memang upaya KH Yusuf Hasyim mendatangi Mahkamah Konstitusi, untuk menyampaikan gagasan agar membatalkan lembaga KKR (Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi) pernah dilakukannya.

Dikutip dari buku Tokoh Jombang, Menurut Yusuf Hasyim, KKR hanya akan menjadi pembenar bagi mantan anggota PKI untuk kembali aktif dan kegiatan politik praktis. “Padahal PKI telah nyata-nyata akan membawa bangsa ini ke arah komunisme yang ia yakini akan menghancurkan bangsa,” pungkasnya.

Meski  pernah menjadi pejuang hingga berkiprah di kalangan militer, namun Pak Ud tak serta merta menerapkan pola pengasuhan yang keras kepada keluarganya. Kembali pengakuan dari Gus Irfan, di mata keluarga, Pak Ud adalah sosok bapak yang sangat demokratis dalam mengasuh anak-anaknya.

“Bapak itu orangnya demokratis, beliau itu longgar sekali ke putra- putrinya walaupun tetap diawasi,” sebut Gus Irfan langsung saat ditanya perihal ayahandanya. Hal ini mengacu pada kebiasaan Pak Ud yang menerapkan sistem pengasuhan yang terbuka kepada anak-anaknya. Baik dalam keputusan terkait pilihan pendidikan ataupun keputusan lain. “Ya tetap diberi arahan, tapi keputusannya tetap pada anaknya sendiri,” lanjutnya.

Dimata anaknya tersebut, Pak Ud juga dikenal sebagai seorang yang irit nasehat namun tak berarti abai terhadap keluarga. Pendidikan dan pengasuhan lebih diberikannya melalui isyarat-isyarat dan contoh langsung yang kemudian ditangkap oleh anaknya.

“Seperti saat dulu saya pernah tergoda dengan pilihan politik ketika pemilu, tanpa banyak kata abah cuma bilang terserah tapi kalau kamu ambil ya itu hargamu. Dari itu saya langsung paham artinya bapak tidak berkenan saya kesitu,” ucapnya  menirukan sang ayah. Pola-pola tersebut dikatakannya diberikan agar anak-anak Pak Ud mampu tumbuh mandiri dan berpikir sendiri.

Selain demokratis, pendidikan kemandirian juga diterapkan. Bahkan untuk yang satu ini, Pak Ud juga menerapkan dalam manajemen Pondok Pesantren Tebuireng selama ia pegang dulu. Kemandirian ini dapat dilihat dengan keengganan Pak Ud untuk meminta sumbagan kepada siappun dan dari pihak manapun.

“Padahal tawaran juga sangat banyak ketika itu, tapi Bapak selalu menolak jika kami harus membuat proposal. Kalau mau memberi ya silahkan, tapi kalau kami yang harus meminta bapak tidak akan mau,” lanjutnya.

Sehingga, dalam 42 tahun kepemimpinannya di pesantren Tebuireng, praktis semua kebutuhan pondok dicukupi dengan cara sendiri dan dari sumber dana mandiri. Baik dari lahan dan sawah yang dimiliki pondok serta dari iuran SPP Santri. Hal ini tentu saja berimbas langsung kepada pembangunan yang terkesan lama dan tidak monumental seperti kebanyakan pesantren saat ini.

“Pembangunan memang lama dan tidak cepat, tapi kami pastikan saat itu semua pembiayaan berasal dari uang pondok seratus persen. Bapak tidak ingin mencontohkan ke santri kemalan minta-minta,” pungkas Gus Irfan. (*)

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia