Senin, 18 Nov 2019
radarjombang
icon featured
Tokoh

Laksamana TNI Slamet Soebijanto, KSAL 2005-2007 yang Besar di Denanyar

05 Maret 2019, 15: 33: 21 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Laksamana TNI Slamet Soebijanto, Kepala Staf TNI Angkatan Laut (2005-2007)

Laksamana TNI Slamet Soebijanto, Kepala Staf TNI Angkatan Laut (2005-2007) (Google Image)

Share this      

JOMBANG - Jombang memang banyak melahirkan tokoh nasional dan cukup berpengaruh. Kali ini, Laksamana TNI Slamet Soebijanto. Tidak banyak yang tahu, jika Kepala Staf TNI Angkatan Laut (2005-2007) ini pernah tinggal di gang sempit yang berada di Desa Denanyar, Kecamatan/Kabupetan Jombang. 

Slamet sendiri lahir di Mojokerto, 4 Juni 1951. Namun sejak duduk di bangku SD, ia bersekolah dan besar di Kota Santri. Sejak kecil, masa muda dan remajanya, Slamet dikenal sebagai anak yang pendiam dan tidak terlalu banyak tingkah.

“Dia tidak suka nongkrong-nongkrong seperti anak muda jaman sekarang, dirumah saja, hanya berkumpul saat ada kegiatan saja,” ujar Abdul Cholik, salah satu keponakan Slamet saat ditemui Jawa Pos Radar Jombang.

Setelah lulus dari SDN Denanyar Selatan, Slamet kemudian melanjutkan ke jenjang pendidikan SMP di Jombang kota. Kemudian dilanjutkan ke SMAN 2 Jombang. Selama mengenyam pendidikan di sekolah, Slamet memang memiliki prestasi yang cukup menonjol, baik akademis maupun non akademis.

“Sayangnya saya lupa nama SMP-nya dulu mana, pokoknya di Jombang kota,” tambah Cholik. Selepas lulus SMA, Slamet kemudian melanjutkan ke pendidikan militer TNI Angkatan Laut tahun 1969 dan lulus tahun 1973. Slamet dikenal sebagai seseorang yang sederhana, ia tidak begitu muluk-muluk bercita-cita menjadi seorang perwira.

Ia menceritakan, selama mengikuti masa pendidikan, pembiayaan Slamet ditanggung sepenuhnya Siti Maryam, kakak sulungnya. Slamet memang terlahir dari keluarga sederhana. Saat mengenyam pendidikan pendidikan kemiliteran, sang ayah baru memasuki masa pensiun dari pekerjaann lamanya di pabrik gula. Sementara sang ibu hanya berjualan tahu. 

Kehidupan yang sederhana juga dicerminkan Slamet hingga kini. Ia sendiri tidak pernah menampakkan jika dirinya sudah menjadi pelindung Negara dari wilayah laut. Ia pun tidak pernah memakai seragam dinas jika sedang berkunjung ke kampung halamannya di Denanyar Jombang.

“Kalau orang-orang kadang kan bangga sudah jadi tentara, pulang-pulang ke rumah pakai pakaian dinas atau pakai baju yang menunjukkan jika dia tentara, tapi Slamet justru sama sekali tidak pernah melakukan itu, pakaiannya ya sederhana seperti orang biasa,” lanjut Cholik.

Jika dilihat dari silsilah keluarga, lanjutnya, Slamet tidak mewarisi darah pejuang dari orang tua maupun nenek moyang terdahulu. Begitu juga darah pejuang yang mengalir darinya juga tidak diwarisi 5 anak, dari pernikahannya dengan keturunan Belanda yang bernama Sonya Heny.

Anak pertamanya yang bernama Panji Prabowo sudah sukses menjadi dokter umum. Memilih profesi berbeda, anak kedua bernama Wisnu Wardana menjadi wiraswasta. Pekerjaan ini juga dijalani anak ketiga, Lesmono yang juga berwiraswasta. Sedangkan, Sari, sebagai anak keempat dan anak perempuan satu-satunya lebih memilih menjadi dokter.

Sebenarnya, dari kelima anaknya, hanya anak bungsu bernama Pandu yang dijagokan sebagai pewaris darah perjuangan dari sang ayah, untuk menempuh pendidikan kemilitiren. Namun perjuangan Pandu harus kandas karena tidak memenuhi persyaratan. Sehingga Pandu mengikuti jejak kedua kakaknya yang berwiraswasta. “Anak-anaknya sudah sukses semua, dan sudah menikah,” ungkap Cholik. 

Lebih lanjut ia menyampaikan, setelah lulus pendidikan militer tahu 1973, Slamet kemudian melanjutkan pendidikan di Alut Baru/Ops School di Belanda tahun 1980. Kemudian melanjutkan pendidikan Operational Art di Yugoslavia tahun 1990 dan KRA-33 di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) hingga tahun 2001.

Ia kemudian dimandat dan dipercaya sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Laut ke-19 tahun 2005, menggantikan Laksamana TNI (purn) Bernard Kent Sondakh dan digantikan Lakmsamana TNI (purn) Sumardjono tahun 2007.

Selama menjadi Kepala Staf TNI AL, ia selalu menekankan kepada jajaran TNI AL agar melaksanakan tugas menjaga kedaulatan Negara dengan maksimal. Kesabaran dan kesederhanaan dalam kehidupan sehari-harinya, tidak tampak saat ia menjadi KSAL. Meski begitu, ia tetap sangat tegas dibalik kesabaran saat menjadi pemimpin. Bahkan ia sendiri tidak pernah memarahi anak buahnya, jika tidak ada kesalahan fatal. (*)

(jo/wen/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia