Minggu, 15 Dec 2019
radarjombang
icon featured
Jombang Banget

Pernah Jadi Markas Brimob, Gedung SDN Banyuarang 1 Berarsitektur Lawas

05 Maret 2019, 10: 26: 28 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Gedung SDN Banyuarang 1 Kecamatan Ngoro yang berarsitektur lawas, karena sebelumnya menjadi markas Brimob.

Gedung SDN Banyuarang 1 Kecamatan Ngoro yang berarsitektur lawas, karena sebelumnya menjadi markas Brimob. (Azmy Endiyana/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG - Tak banyak yang tahu, jika bangunan SDN  Banyuarang 1, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang pernah dijadikan markas Brimob saat agresi militer Belanda. Kini, kondisinya masih terawat dengan baik.

Dilihat dari depan, SDN Banyuarang 1 tidak jauh berbeda dengan sekolah dasar lainnya. Namun,  saat masuk ke dalam, ada pemandangan yang berbeda.  Yang paling mencolok terlihat pada gedung sekolahnya. Gaya arsitekturnya lawas dengan sentuhan khas gedung-gedung zaman Belanda.

Misalnya, atap yang berbentuk joglo dan memiliki jendela yang cenderung bergaya terbuka hingga separo dinding. Tentunya ada juga tiang kayu jati yang masih sangat kokoh menopang teras sekolah.

Juga dinding tembok batu setinggi sekitar 70 cm sebelum batu bata. Tatanan batu yang dicat hitam dengan nat (sambungan) dicat putih, semakin menambah kesan bangunan lawasnya. Ada lorong antar bangunan semakin menambah suasana tempo dulu. 

”Sekolah ini dulunya hadiah dari Brimob untuk warga Pelemahan, karena tempat ini dijadikan markas Brimob untuk mengatur siasat untuk mengusir Belanda pada saat agresi militer Belanda tahun 1949,” ujar Sudarsono, Kepala Dusun Pelemahan.

Setelah kemerdekaan selesai, Brimob menghadiahkan dua pilihan kepada masyarakat, dipergunakan untuk pasar apa sekolah. Pada saat itu, masyarakat lebih memilih sekolah untuk pendidikan anak cucu mereka. ”Pada tahun 1965 akhirnya sekolah tersebut dibangun dan satu tahun kemudian sekolah tersebut mulai ada aktivitas belajar mengajar,” imbuh pria yang juga menjadi komite SDN  Banyuarang 1 tersebut.

Tidak hanya dari segi bangunan yang berarsitektur Belanda. Terdapat monumen polisi yang tingginya kurang lebih tiga meter dengan membawa sejata laras panjang. ”Monumen itu dibangun juga pada waktu pembangunan sekolah ini,” tuturnya.

Slamet Riyadi, Kepala SDN Banyuarang 1 menambahkan, memang pada 2016 lalu ada renovasi sekolah. Hanya saja   untuk bentuknya tidak dirubah sama sekali, karena itu kesepakatan dari tokoh masyarakat dan pemangku wilayah ini. ”Jadi yang diubah genteng, tingginya dan hanya menambah lantai saja,” ujarnya.

Sehingga, bangunan dari mulai jendela, pintu maupun atap tidak merubah apapun. Meski begitu kondisinya masih sangat bagus. ”Karena memang kayunya sangat bagus sekali. Sehingga meski tidak diubah, tetap kokoh dan masih bisa digunakan,” imbuhnya.

Bahkan, setiap November, SDN  Banyuarang 1 seringkali dijadikan tempat upacara Brimob. ”Setiap bulan November memang sering dijadikan upacara untuk mengenang hari jadi Brimob,” bebernya

Adanya gedung sekolah bersejarah ini juga bisa mengingatkan para murid untuk mengingat jasa pahlawan. Sehingga, mereka juga bisa berlajar sejarah. ”Memang sekolah ini harus dipertahankan sampai kapanpun,” pungkas Slamet. (*)

(jo/yan/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia