Senin, 18 Nov 2019
radarjombang
icon featured
Tokoh

Mengenal KH Musta’in Romly, Sosok Kharismatik dan Arif Bijaksana

27 Februari 2019, 20: 02: 16 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

KH Musta’in Romly, kiai yang lahir di Jombang dan banyak berperan mewarnai kancah pendidikan pesantren serta politik.

KH Musta’in Romly, kiai yang lahir di Jombang dan banyak berperan mewarnai kancah pendidikan pesantren serta politik. (Achmad RW/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG - Tokoh kiai yang lahir di Jombang dan banyak berperan mewarnai kancah pendidikan pesantren serta politik, baik lokal maupun nasional, adalah KH Musta’in Romly. Anak pertama dari KH Romly Tamim ini lahir di Rejoso pada 31 Agustus 1931.

Sampai wafat pada tanggal 21 Januari 1985, kiai Musta’in meninggalkan beberapa putra dan putri yaitu M Rokhmad (almarhun), H Lukman Haqim dari ibu Chafsoh Ma’som, Hj Choirun Nisa dari ibu Dzurriyatul Lum’ah, H Abdul Mujib, Ahmada Faidah, Chalimatussa’diyah dari ibu Nyi Hj Djumiyatin Musta’in serta Siti sarah dan Dewi Sanawai dari ibu Hj Latifa.

Dididik oleh ayahnya sendiri sejak kecil di pesantren yang dibangun kakeknya, kiai Musta’in baru memulai perjalanan pengembaraan ilmu ke beberapa wilayah Nusantara di usia 18 tahun. Hingga dirinya membentuk sebuah wadah khusus untuk pelajar Islam yang berasal dari Jombang, dilokasinya belajar di Demak Jawa Tengah.

Meski potensi yang dimilikinya cukup besar namun seperti juga ayahnya, KH Romly Tamim, beliau tak menyandang jabatan fungsional di tubuh organisasi NU selain sebagai pengurus IPNU di tahun 1954-1956. Sebagai putra Mursyid Thariqoh, dirinya juga harus meneruskan perjuangan ayahandanya sebagai penerus jamiyah tarekah, sekaligus pula menjabat sebagai pimpinan tertinggi Pondok Pesantren Darul Ulum sepeninggal ayahandanya tahun 1958.

Hal ini tak lepas dari jiwa kiai Musta’in yang gigih berjuang juga tak takut berbeda. “Buya (Panggilan ayah untuk anaknya, Red) itu orangnya biasa saja, beliau akan melakukan hal yang diyakininya benar tanpa takut dipandang jelek atau baik oleh orang,” jelas Lukman Hakim Mustain, anak tertua KH Mustain Romly.

Bahkan di beberapa kesempatan dirinya seringkali disangka sebagai etnis cina karena matanya yang sipit serta kerap tampil layaknya masyarakat biasa. “Seringkali buya  itu memang lepas kopyah, apalagi kalau ke Surabaya. Seringkali malah sampai dipanggil koko karena matanya yang sipit,” lanjut Gus Luk, panggilan akrabnya.

Sebagai seorang tokoh kharismatik juga berpengaruh di masanya, dia dikenal juga sebagai orang yang plural dan arif menghargai perbedaan. “Sering juga kok beliau dapat kunjungan tamu dari berbagai latar belakang dan agama, tapi beliau ya santai saja, tidak ada alasan membeda-bedakan orang, meskipun seorang kiai juga mursyid thariqat,” sambungnya.

Hal ini disebutnya adalah inspirasi yang didapatkan kiai Mustain dari anak kiai Hasyim Asy’ari yaitu KH Wahid Hasyim. “Karena buya pernah cerita saat KH Wahid Hasyim berkunjung ke Rejoso, dirinya diperintahkan ayahandanya KH Romly untuk salaman, lalu ditanya sama kakek saya koen opo ra kepingin koyo gus Wahid iko (apa kamu tidak kepingin seperti Gus Wahid?),” ucapnya menirukan cerita sang buya.

Terlihat memang bagaimana sepak terjang KH Mustain Romli memang terhitung cukup kontroversial. Termasuk saat pendirian Undar Jombang juga masuknya beliau ke ranah politik dengan kendaraan partai, yang kala itu dikenal sebagai partai pemerintah dan non agama. “Tentu langkah itu diambil penuh pertimbagan dan hasilnya kini sangat nyata berhasil,” tutup Gus Luk. (*)

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia