Selasa, 19 Nov 2019
radarjombang
icon featured
Tokoh

Urusan Kebangsaan, Kiai Muchtar Kerap Punya Cara Pandang Beda

26 Februari 2019, 18: 15: 05 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Bangunan bertuliskan salah satu hadist di PP Shiddiqyyah Jombang

Bangunan bertuliskan salah satu hadist di PP Shiddiqyyah Jombang (Achmad RW/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG - Keunikan cara pandang kiai Muchammad Muchtar Mu’thi dalam beberapa hal juga dipaparkan salah seorang santrinya yakni Kushartono. Pria yang kini menjabat sebagai pimpinan media dibawah payung Shiddiqyyah Jombang ini menceritakan banyak hal tentang kekagumannya terhadap keberanian yang diambil oleh gurunya tersebut.

“Pak kiai (Pangilannya kepada kiai Muchtar) itu saya kira orang yang cukup berani untuk mengambil sikap, tapi beliau juga tidak asal sebut saja, pasti punya dalil,” jelas Kushartono.

Contoh pertama yang diberikannya adalah dawuhnya tentang hukum salat Jumat yang menurut kiai Muchtar posisinya tidak bisa menggantikan salat duhur seperti kebanyakan ulama pada umumnya. “Tentu waktu itu serangan banyak muncul dari sana-sini, tapi pak kiai punya pedoman untuk itu dan sampai beliau mengarang 4 buku besar,” lanjutnya.

Dalam pandangan kiai Muchtar, salat Jumat adalah bentuk salat wajib tiap minggu selain yang wajib dalam lima kali sehari. “Kan ada juga yang tiap tahun bentuknya 2 salat hari Raya, bahkan beliau bisa membuka pendapat 4 madhab untuk itu,” papar Kushartono. Langkah yang disebutnya kontroversial lainnya adalah ketika pesantren Majmaal Bahrain yang beberapa waktu lalu mengadakan kajian untuk kitab sutasoma.

Meskipun banyak penolakan dari berbgai pesantren lain karena dianggap membahayakan akidah dan lain-lain kala itu. “Padahal yang dibahas adalah konsep Bhineka Tunggal Ika, dan hasilnya adalah Persaudaran Cinta tanah Air yang berdiri atas berbagai agama di dalamnya dengan toleransi yang tetap terjaga,” imbuhnya.

Bahkan pandangan kiai Muchtar tentang Kemerdekaan Republik Indonesia yang selama ini diperingati setiap tanggal 17 Agustus adalah salah besar. “Menurut pak kiai, itu adalah kemerdekaan Bangsa Indonesia, karena Republik kala itu belum terbentuk,” lanjutnya.

Meski demikian dirinya menyebut segala pandangan berbeda yang disampaikan gurunya tersebut tak pernah dipaksakan kepada siapa pun. Sekalipun kepada muridnya, karena bagi kiai Muchtar, perbedaan itu hal biasa, yang menjadikan perpecahan adalah nafsu yang menyertai perbedaan tersebut.

“Seringkali juga beliau berkata, apa yang saya katakan, jangan keburu diterima, pikir dulu benar apa tidak. Ini tentu sebuah pelajaran berharga bagimana kita harus menyikapi perbedaan untuk saya,” ucap pria asli Kediri ini.

Semua pandangan tersebut, diakuinya adalah buah keyakinan dari kiai Muchtar sendiri yang meyakini bahwa orang Jombang adalah orang yang berani bersikap. Namun tetap punya pegangan dan tidak ngawur.

“Seringkali juga dicontohkan bagaimana kiai Hasyim, Gus Dur, Cak Nun, Nurcholis Madjid, mereka adalah orang Jombang dan berani berbeda dengan orang lain tanpa perlu menyalahkan lainnya. Karena menurut kiai, pada dasarnya orang Jombang adalah pemberani dan beliau ingin jadi bagian dari orang-orang itu,” pungkasnya. (*)

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia