Selasa, 24 Sep 2019
radarjombang
icon featured
Tokoh

Miliki Karomah, KH Adlan Aly Juga Dikenal Tak Suka Pamer

26 Februari 2019, 17: 48: 04 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

MA Perguruan Muallimat

MA Perguruan Muallimat (Achmad RW/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG - Seperti kebanyakan kiai kuno lain, banyak cerita yang menggambarkan KH Adlan Aly mampu menunjukkan kemampuan lebih dari kabanyakan manusia. Dengan memiliki karomah yang tinggi, namun penampilannya sederhana sehingga tak diketahui banyak orang. Karomah itu akan muncul tanpa sadar dan memang tak berusaha untuk dipamerkan.

“Kalau secara badan, mbah yai itu memang nggak  mawak’i (sebutan Jawa bagi orang hebat), bahkan mungkin masuk kategori ringkih dan tidak gagah, tapi kemampuannya tidak seperti apa terlihat ditubuhnya,” kenang Hamdan lagi, sopir pribadi mbah yai.

Ia mengakui kemampuan kiai seringkali muncul jika dalam keadaan darurat. Cerita yang paling terkenal mungkin, ketika KH Adlan sedang menempuh perjalanan dari Jawa Tengah, tiba-tiba mobil yang dikendarainya kehabisan bensin di tengah jalan. Saat itu jarum jam menunjukkan pukul 01.00 dini hari.

Hamdan Afnan, sopir pribadi KH Adlan Aly

Hamdan Afnan, sopir pribadi KH Adlan Aly (Achmad RW/Jawa Pos Radar Jombang)

“Karena tak menemukan penjual bensin, beliau turun dan membeli kelapa muda, airnya kemudian dimasukkan ke tangki dan menyuruh sopir membaca Bismillah. Dan kenyataannya sampai di rumah,” lanjutnya.

Lebih lanjut dia menyebut kemampuan KH Adlan Aly, selalu bisa tepat waktu. Cerita ini dialaminya sendiri setiap mengantar kiainya tersebut ke berbagai acara. “Saya sendiri juga heran kaetika mengantar ke Pasuruan, kami berangkat pukul 9 malam dan acaranya jam 11 malam, walaupun jalannya dibawah 50 km/jam, kami tetap bisa tepat waktu, dan itu sering sekali,” lanjut Hamdan.

Karena dirinya juga menyebut bahw Kiai adlan bukan orang yang suka terburu-buru. “Beliau memang tidak suka ngebut, sekali saya memacu agak cepat pasti diingatkan agar dipelankan laju mobilnya,” imbuhnya.

Kemampuan lain yang banyak disaksikan santri, adalah ketika dirinya memimpin pengajian kitab Fathul Qorib di Masjid Pesantren Tebuireng di bulan suci Ramadan. “Tiap masuk bab salat istisqo (salat meminta hujan), sambil praktik pasti langsung saat itu juga turun hujan,walaupun cuaca sebelumnya panas,” sambung Gus Jamil.

Kejadian ini terus berulang setiap tahun sehingga semua santri Tebuireng yang ikut ngaji waktu itu menjadi tahu. Meski demikian, dari sekian banyak kemampuan ini kedua orang ini menyebut tak selalu dikeluarkannya setiap hari.  Kemampuannya akan muncul disaat kondisi terdesak. “Tentu saat usaha sudah mentok, kalau masih bisa dengan usaha lain pasti ya seperti biasa, beliau tidak suka pamer orangnya,” pungkas Hamdan. (*)

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia