Minggu, 15 Dec 2019
radarjombang
icon featured
Berita Daerah

Kios Bantuan Pemkab untuk Pedagang Salak Tembelang Tak Lagi Dipakai

24 Februari 2019, 20: 28: 17 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Kondisi kios bantuan Pemkab untuk pedagang salak di Tembelang

Kondisi kios bantuan Pemkab untuk pedagang salak di Tembelang (ACHMAD RW/ JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG - Salak Sentul yang terkenal, sempat membuat Pemkab Jombang terkecoh. Yakni dengan membangun 26 kios semi permanen. Sayang, kios bantuan pemkab itu tak pernah digunakan oleh pedagang.

Deretan kios-kios itu telah hampir hilang sepenuhnya, saat Jawa Pos mendatangi lokasi ini kemarin. Kios-kios yang dulunya berbentuk bangunan semi permanen berbahan cor di bagian bawah dan dinding kayu serta atap asbes ini hanya tinggal beberapa saja.

Dari 26 kios yang dulunya dibangun, di lokasi ini hanya tersisa tiga kios yang masih berdiri. Itupun dengan kondisi seadanya. Dua kios di sisi utara nampak bisa berdiri, meski bangunan utama yang terbuat dari kayu sudah mulai ditambal. Sementara satu kios di bagian selatan telah miring dan nyaris ambruk dengan sebuah kayu penyangga.

Sementara sisanya, nyaris tak terlihat lagi. Ya, usai bertahun-tahun tak lagi digunakan, kios ini kini hanya menyisakan rangka cor berbentuk kubus di bagian bawahnya yang berbatasan langsung dengan sawah warga. “Ya memang tinggal tiga ini, satunya juga sudah nggak dipakai lagi, sisanya malah ditinggal sudah bertahun-tahun makanya rusak,” terang Isa, 45 pedagang salak di lokasi.

Ya, 11 tahun lalu pedagang salak yang awalnya berjualan di pinggir  jalan, diminta Pemkab Jombang kala itu untuk mau pindah berjualan ke sisi timur jalan provinsi. Mundur ke belakang di pinggir saluran irigasi.

“Kiosnya juga dibangun pas dengan pedagang 26 buah, kita waktu itu untuk bisa bertempat di situ juga harus membeli. Harganya sekitar Rp 4 juta dengan dicicil waktu itu,” ungkapnya.

Namun, pemindahan pedagang itu gagal total. Di awal-awal serah terima kios, para pedagang sempat menempati kios ini. Namun hanya bertahan beberapa bulan, karena dagangan salak yang dijajakan malah tidak ada yang mau beli.

“Pembeli enggan kalau harus nyeberang sungai kecil itu. Salak nggak ada yang laku,” ujar Isa.

Ya, karena terus sepi, pedagang akhirnya tidak mau berjualan, kiosnya ditinggal. Bahkan cicilan juga tak dilanjutkan. “Saya sendiri lupa sudah berapa kali nyicil,” imbuh ibu empat anak ini.

Karena ditinggal itulah, kios-kios ini mulai hancur.  “Ini sudah tiga kali bongkar pasang, sebelumnya juga rusak kena hujan, kayunya kan lapuk. Jadi ya pintar-pintarnya kita saja, direnovasi supaya tetap bisa untuk menyimpan barang dagangan itu,” pungkasnya. (*)

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia