Senin, 26 Aug 2019
radarjombang
icon featured
Tokoh

‘Bolet’ Amenan, Sang Maestro Tari Remo Boletan Asli Jombang

19 Februari 2019, 17: 47: 46 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Tarian remo boletan

Tarian remo boletan (Achmad RW/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG - Rubrik tokoh Jawa Pos Radar Jombang minggu ini akan kembali mengangkat kisah tokoh yang bergerak di bidang kesenian. Ia adalah Amenan, sosok seniman kreatif yang tak kenal lelah menciptakan aneka kreasi dalam pertunjukan ludruk yang dibawakannya.

Tidak saja sebagai pelakon ludruk biasa, dalam perannya dalam ludruk, dirinya adalah seorang pionir dalam hal penciptaan kreasi tari remo yang khas hingga tata musik dalam pertunjukan ludruk yang ada saat ini.

Pria kelahiran Asli Jombang ini memang agak kurang dikenal jika disebut nama aslinya. Karena sapaan akrabnya adalah Bolet ketika di panggung. Lahir dan besar di daerah di Sengon, Tawangsari, Kecamatan/Kabupaten Jombang tahun 30-an dirinya adalah orang yang sangat akrab dengan kehidupan kebudayaan sejak kecil, baik kesenian jaranan maupun pencak silat yang turut mewarnai kesenian yang ia ciptakan.

Makam Amenan, maestro tari remo boletan

Makam Amenan, maestro tari remo boletan (Achmad RW/Jawa Pos Radar Jombang)

Kegemarannya pada seni ini tak pernah ditinggalkannya hingga dia meninggal dunia pada 15 Agustus 1976. Perihal nama panggung yakni Bolet, banyak spekulasi yang digambarkan orang tentang nama ini. menurut Nasrul illah, Budayawan Jombang, nama Bolet muncul karena cara peampilan Amenan ketika manggung dalam menari, seringkali tidak memakai baju.

“Jadi mungkin mblolet-mblolet begitu karena tidak pakai baju, sehingga lama-lama disebutnya bolet,” jelas Cak Nas. Menurut murid yang ia didik sejak kecil, bernama Suhartono, nama bolet sendiri berasal dari makanan favorit Amenan semasa hidup.

“Bolet itu sebutan lain untuk ubi jalar, dan beliau memang sangat menyukai ubi tersebut sehingga dipakai untuk nama panggung,” ucapnya.

Terlepas dari asal usul nama bolet, dirinya tetaplah seorang seniman yang berdedikasi tinggi terhadap keberlangsungan dan perkembangan ludruk di Jombang. kembali Suhartono bercerita banyak tentang sosok pelawak dan penari ulung ini saat ditemui Jawa Pos Radar Jombang di kediamannya.

“Pak puh Bolet (Panggilan akrabnya) menurut saya sangat berdedikasi pada kesenian khususnya ludruk. Bahkan mungkin dalam pandangan saya, ludruk adalah istri pertamanya,” jelas Harno sapaan akrabnya.

Hal ini disebutnya karena Bolet awalnya adalah seorang pegawai Postel (sekarang PT Pos). Namun pekerjaan yang dinilai banyak orang mapan tersebut berani ia tinggalkan demi kecintaannya terhadap kesenian ludruk. Meskipun keputusan ini tidak serta merta mendapat dukungan dari keluarga.

“Apalagi pendapatan dari ludruk kan serba tidak pasti, dan karena kecintaannya pada ludruk memang kehidupan keluarganya harus dikorbankan. Tentu kalau bukan orang yang sangat berdedikasi hal ini tidak akan dilakukan,” lanjutnya.

Tak tanggung-tanggung, demi memudahkan mobilisasi grup ludruknya ketika itu, beberapa orang anggotanya harus disewakan rumah di sekitar kediaman Bolet, untuk mempermudah latihan. “Karena ide dari pak Puh ini seringkali muncul tiba-tiba dan kalau sudah begitu, biasanya anggota grup akan dipanggil dan ditatar langsung oleh beliau,” lanjut warga Perumahan Griya Jombang Indah ini.

Dalam kehidupannya sehari-hari, Bolet Amenan adalah orang yang dikenalnya sebagai orang yang santai namun tegas. Karena sebagai penari remo yang sudah diakui moncer,tak tampak sedikitpun dalam kehidupannya sehari-hari.

“Kayak orang biasa, tidak seperti pngreman (sebutan untuk penari remo) pada umumnya, baru kalau dipanggung semua akan kelihatan,” sebutnya. Dalam hal penampilan panggung, bolet biasa tampil dengan busana yang disebut Hartono identik dengan kebudayaan bali.

“Pak Puh biasa memakai stagen hingga di bawah dada, dengan posisi keris lurus di bagian belakang dan udeng model Bali, tapi bagian belakang tetap ada runcing model Jawa Timuran,” Hartono mendetail. Karena itulah di beberapa tempat seperti Mojokerto, Tari Remonya sering juga disebut sebagai Remo Bali. (*)

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia