Jumat, 21 Feb 2020
radarjombang
icon featured
Tokoh

Pertunjukannya Sederhana, Namun Besut Penuh Kritik dan Pesan Sosial

19 Februari 2019, 17: 22: 30 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Pertunjukan Besut yang dilakukan salah satu kelompok di Jombang.

Pertunjukan Besut yang dilakukan salah satu kelompok di Jombang. (Achmad RW/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG - Sebagai sebuah pertunjukan, besutan pada awal keberadannya juga tampil sederhana dengan pembawaan seadanya. Tak ada panggung megah juga sorot lampu yang menyala terang di awal pertunjukannya dulu seperti ludruk saat ini.

Cucu Pak Santik, sang pencetus Besut, Suratin mengutarakan, bagaimana dulunya ia seringkali diajak kakeknya dalam bermacam-macam pertunjukan besutan. “Dulu semua masih sederhana, belum ada panggung mainnya juga di tanah lapang yang dikerobongi saja, saya kalau diajak, biasanya disuruh duduk di bawah pohon dulu,” kenangnya.

Tak hanya panggung dan pencahayaan, meski diikuti hingga 40 orang dalam setiap penampilan. Untuk mencukupi kebutuhan musik dan lainnya, musik sebagai pengiring saat itu belum menggunakan gamelan seperti pertunjukan tradisional seperti saat ini. “Yang saya tahu dulu musiknya masih pakai musik jidor, belum gamelan, wanitanya juga masih pakai waria karena tidak ada wanita yang main besutan,” ujar warga Plandi ini.

Meski demikian ia tak mampu lagi mengingat kapan terakhir kali Pak Santik yang juga kakek yang merawatnya sejak kecil ini melakukan pertunjukan besutan. “Wah nggak ingat lagi saya, yang pasti beliau memang asli dari dulu tinggal di rumah ini dan dimakamkan juga di desa ini,” pungkas bapak 6 anak ini.

Besutan kala itu mampu menunjukkan tajinya sebagai sebuah kesenian yang benar-benar merakyat. Tak hanya menyediakan hiburan semata, dalam cerita, percakapan, juga parikan serta kidungannya, para pemeran besut seringkali menyelipkan berbagai pesan sosial juga kritikan pedas terhadap pemerintahan kolonial Belanda kala itu.

Bahkan Nasrul Illah, kembali menyebut hal ini sebagai bukti kecerdasan mengelola pertunjukan yang ditunjukkan Pak Santik. Dirinya menyebut contoh lahirnya ritual besutan sebagai bukti, bahwa pak Santik kehabisan akal dalam melakukan pertunjukan.

Ritual besutan adalah ritual yang biasa dilaksanakan sebelum kegiatan dilaksanakan. Biasanya, diawali dengan munculnya seseorang dengan wajah putih yang membawa obor dengan tenang. Kemudian disusul besut dibelakangnya ngesot dengan mata tertutup juga mulut tersumpal susur (kapur sirih).

Tapi tak lama kemudian besut mulai bangkit mengendap-endap, sembari menoleh kanan kiri hingga akhirnya dengan kapur sirihnya, Besut mematikan obor pria bermuka putih, kemudian berteriak dan menari lepas.

Di waktu yang sama, pembawa obor akan tergeletak seakan mati setelah kehilangan obor. Orang muka putih membawa obor adalah simbol Belanda yang mendoktrin pribumi dengan obor pengetahuan. Besut ngesot di belakang adalah pertanda pribumi kala itu harus tunduk dan terus mengikuti arahan Belanda.

Simbol Besut menutup mata juga mulur tertutup susur artinya masyarakat pribumi tak boleh pintar, tidak boleh menuntut. Hingga ahirnya Besut mematikan obor dan merdeka dengan menari-nari sebagai simbol kebebasan.

“Tentu itu kan pemikiran yang sangat dalam dan luar biasa untuk sebuah ide pemberontakan secara halus, bahkan menurut saya sampai sekarang Jombang belum lagi bisa memunculkan kesenian sehebat itu,” ucapnya.

Sebuah contoh bagaimana sebuah pertunjukan hiburan bisa dipertontonkan tanpa muatan yang berat untuk masyarakat. meski seringkali kode-kode itu tak di pahami secara langsung oleh masyarakat saat itu.

Namun dengan metode yang melekat dengan kehidupan sosial, besutan yang juga penuh improvisasi. Didalamnya nyata tetap mampu menujukkan sifat membumi dengan mengangkat isu yang dekat dengan masyarakat.

Tentu tanpa meninggalkan kritik terhadap kehidupan sosial sesuai jaman. “Besutan itu sepertinya serius, padahal isinya juga bercanda juga banyak kritik dan pesan sosial didalamnya,” sambung Didik Purwanto. (*)

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP
©2020 PT Jawa Pos Group Multimedia