Senin, 25 Mar 2019
radarjombang
icon featured
Berita Daerah

Pendapatan Rendah, RSUD Jombang Berencana Naikkan Tarif Parkir

19 Februari 2019, 10: 30: 03 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Direktur RSUD Jombang Pudji Umbaran

Direktur RSUD Jombang Pudji Umbaran (Anggi Fridianto/Jawa Pos Radar Jombang)

JOMBANG – Direktur RSUD Jombang Pudji Umbaran menyebut pendapatan dari retribusi parkir setiap tahunnya masih rendah dan belum mencapai target yang diinginkan. Pihaknya berencana akan menaikan tarif parkir dengan mengusulkan perbup tentang tarif khusus parkir RSUD kepada Bupati Jombang Mundjidah Wahab.

Dijelaskan, tarif parkir di RSUD Jombang saat ini masih mengacu perda nomor 31 tahun 2010 tentang retribusi tenpat khusus parkir. Yakni untuk sepeda dikenakan Rp 500, sepeda motor Rp1000, dan mobil Rp 2000. Dia menganggap nilai itu masih rendah.

”Tarifnya parkir kita mengikuti Perda Jombang, jadi akhirnya kita rugi. Sehingga pendapatan kita dari parkir tidak bisa banyak,” ujar Pudji kemarin. Yang membuat pihaknya merasa rugi, misalnya saat sepeda motor menginap 10 hari pun tarifnya hanya dikenakan satu kali.

Padahal harusnya bisa dioptimalkan dengan memberi biaya tambahan bagi keluarga pasien yang kendaraannya menginap lebih dari satu hari. ”Ini kita lakukan juga sebagai upaya untuk mereduksi penumpukan, sehingga para pasien tidak seenaknya membawa kendaraan pribadi,” papar dia lagi.

Dalam waktu dekat, kata Pudji, RSUD bakal menyampaikan hasil kajian tentang pengelolaan parkir kepada bupati Mundjidah. Draf tentang peningkatan tarif parkir di RSUD sudah disiapkan.

”Kemarin kita sudah melakukan paparan dengan bupati. Dan sebentar lagi akan kita usulkan draf itu. Dan harapan kita bupati menyetujui sehingga pendapatan dari parkir kita lebih maksimal dan disamping itu bisa menyumbang PAD,” jelas dia.

Pihaknya menilai, pendapatan parkir di RSUD masih rendah. Padahal, jika diakumulasi total pendapatan dari parkir saja per tahunnya mencapai Rp 800 juta sampai Rp 900 juta. Angka tersebut tidaklah kecil untuk ukuran sebuah retribusi parkir.

”Jadi kami melihat, tarif parkir RSUD ini tidak bisa disamakan dengan umum. kalau parkir di mall saja diatur per jam, kenapa kita tidak memberlakukan seperti itu. Namun tetap dengan acuan kita tidak memberatkan pasien. Hanya nanti nilainya kita usulkan dinaikkan sedikit,” beber dia.

Pudji mengakui, meski pendapatan parkir per tahun mencapai Rp 800 juta sampai Rp 900 juta, namun pihaknya belum bisa sama sekali menyumbang untuk PAD. Semua pendapatan parkir dikelola oleh managemen rumah sakit dan dipakai untuk keperluan pengembangan dan peningkatan di rumah sakit  tersebut. termasuk menggaji petugas harian lepas yang berjaga di parkiran dan operasional di parkiran.

Hanya saja, misalnya nanti tarif bisa dinaikan akan lebih maksimal. ”Dan kami yakin, bisa lebih tinggi nanti pendapatan kita,” tuturnya. Setelah pendapatan maksimal, RSUD juga berencana koordinasi dengan BPKAD untuk masalah sumbangan ke PAD.

Meski tidak semua disetorkan ke PAD namun Pudji berharap hal tersebut setidaknya bisa memberi kontribusi untuk pemkab. ”Yang penting nanti regulasinya dulu harus kita tata,” tandasnya. (*)

(jo/ang/mar/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia