Senin, 17 Jun 2019
radarjombang
icon featured
Berita Daerah

23 Tahun Mengidap Neurofibromatosis, Khusnul Tak Menyerah Jalani Hidup

08 Februari 2019, 09: 28: 43 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Khusnul Romadoni bersama ibunya, Mursini sata ditemui di rumahnya kemarin (7/2).

Khusnul Romadoni bersama ibunya, Mursini sata ditemui di rumahnya kemarin (7/2). (Mardiansyah Triraharjo/Jawa Pos Radar Jombang)

JOMBANG - Semangat hidup yang tinggi tetap ditunjukkan Khusnul Romadoni sudah 23 tahun hidupnya mengidap neurofibromatosis. Betapa tidak, meski dengan kondisi tak sehat Khusnul bisa menyelesaikan pendidikannya hingga jenjang SMK.

Dorongan dan dukungan moral yang kuat dari orang tuanya membuat Khusnul tak menyerah dalam menjalani hidup. “Saya diminta orang tua tetap sekolah, meski di sekolah sering diejek teman,” ungkap Khusnul kepada Jawa Pos Radar Jombang, kemarin (7/2).

Anak bungsu dari empat bersaudara ini menempuh pendidikan dimulai dari SD Sumobito 3, SMPN 1 Sumobito, dan terakhir di SMK Khoiriyah Sumobito lulus 2015.

Dengan kondisi tubuh tak sempurna, Khusnul harus mengubur impiannya bekerja membantu mencari nafkah keluarga. “Sebenarnya ingin kerja, tapi kalau kondisi seperti ini sulit dapat pekerjaan,” lanjutnya.

Khusnul sempat mengalami rasa putus asa, karena meski sudah lima kali menjalani operasi penyakitnya tak juga hilang. “Setelah operasi biasanya membaik, tapi setelah itu tumbuh lagi,” imbuhnya.

Benjol yang semula hanya tumbuh di wajah, kini juga tumbuh di dada, perut, tangan, dan punggung. Akibat pembengkakan di wajah, Khusnul juga harus rela kehilangan mata kirinya. Akibatnya, pandangan matanya jadi menurun tajam.

“Melihat pakai satu mata terasa rabun, kalau membaca atau melihat HP harus didekatkan,” tambahnya. Belum lagi dengan rasa nyeri dan gatal, yang harus ia rasakan setiap malam menjelang tidur.

Tak hanya itu, pembengkakan juga membuat kualitas pendengaran pada telinga kiri jadi terganggu. Ia juga sempat mengidap penyakit hernia, tapi akhirnya sembuh setelah menjalani operasi.

Khusnul pun masih memiliki semangat untuk mencapai sembuh. Namun dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan, diakui Khusnul sebagai kendala terbesar.

Ia juga sudah berulang kali menghadap pemerintah desa agar bisa menjadi peserta program KIS, tapi belum ada hasil hingga sekarang. “Katanya yang bisa mengeluarkan KIS hanya dari pusat,” pungkas Khusnul. (*)

(jo/mar/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia