Senin, 17 Jun 2019
radarjombang
icon featured
Berita Daerah

Khusnul Romadoni, Penderita Neurofibromatosis yang Butuh Uluran Tangan

08 Februari 2019, 09: 24: 02 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Khusnul Romadoni bersama ibunya, Mursini sata ditemui di rumahnya kemarin (7/2).

Khusnul Romadoni bersama ibunya, Mursini sata ditemui di rumahnya kemarin (7/2). (Mardiansyah Triraharjo/Jawa Pos Radar Jombang)

JOMBANG - Nasib kurang beruntung dialami Khusnul Romadoni, pemuda berusia 23 tahun asal Dusun Ingas Pendowo RT 01/RW 02, Desa/Kecamatan Sumobito, Kabupaten Jombang. Ia menderita neurofibromatosis atau kelainan genetik yang muncul pada kulit dan bagian tubuh lainnya.

Penyakit ini berupa benjolan seperti daging yang berasal dari jaringan saraf. Anak dari pasangan Jainuri dan Mursini ini menderita penyakit ini sejak masih berusia tiga bulan.

Awalnya benjolan yang muncul di bawah mata kirinya tidak terlalu besar. “Dulu dikira hanya benjolan biasa, tapi ternyata semakin membesar,” kata Mursini, 56, ibu dari Khusnul Romadoni, kepada Jawa Pos Radar Jombang, kemarin (7/2).

Khusnul lahir dari keluarga yang berpenghasilan rendah. Jainuri, 60, hanya bekerja sebagai pedagang es krim keliling. Sedangkan ibunya merupakan buruh serabutan, apa saja dikerjakan asal ada upahnya.

Kadang sebagai buruh tani, kadang juga sebagai pembantu rumah tangga. Penghasilan keluarga yang rendah ini menjadi penyebab minimnya penanganan medis terhadap Khusnul.

Mursini mengatakan, saat masih duduk di bangku SD, anaknya sempat ‘viral’ setelah sejumlah media massa lokal dan nasional memberitakan kondisi yang dialami anaknya. “Saat itu tahun 2006, bu Wiwik (istri mantan Bupati Jombang Suyanto saat itu, Red) memberi bantuan,” lanjutnya.

Mendapat perhatian dari pemkab, Khusnul pun mulai sering menerima penanganan medis. Tak hanya di RSUD Jombang, Khusnul juga sempat dirujuk ke Surabaya.

Sampai 2009, Khusnul tercatat sudah menjalani lima kali operasi. Operasi keenam baru akan dijalani Khusnul dalam waktu dekat ini, jika sudah mendapat panggilan dari pihak RSUD dr Soetomo Surabaya.

Artinya dalam rentan 2009 sampai sekarang, tak ada penanganan medis sama sekali yang diterima Khusnul atas penyakitnya tersebut. “Tidak punya biaya, mas,” keluh Mursini.

Saat itu, untuk biaya berobat atau operasi Khusnul menggunakan kartu Jamkesda Pemprov Jawa Timur. Kartu tersebut ditandatangani dr Pawik Supriadi, Kepala Dinas Kesehatan saat itu.

Namun kartu Jamkesda tersebut kemudian tidak bisa digunakan Khusnul untuk berobat atau operasi, menyusul adanya program Kartu Indonesia Sehat (KIS). Tetapi yang aneh meski sebelumnya terdaftar di Jamkesda Provinsi, Khusnul tak terdaftar di KIS.

“Sampai sekarang nama anak saya tidak masuk KIS, jadi tidak punya kartu untuk dipakai ke rumah sakit,” lanjutnya.

Agar tetap bisa berobat namun dengan biaya terjangkau, Mursini pun mendaftarkan anaknya sebagai peserta mandiri BPJS Kesehatan, dengan membayar iuran sebesar Rp 25.500 setiap bulan untuk jasa pelayanan kelas tiga.

Meski sudah memiliki kartu BPJS Kesehatan dengan kepesertaan mandiri, Mursini mengaku masih bingung mencari biaya tambahan untuk berobat dan operasi anaknya ke Surabaya.

Terutama untuk memenuhi kebutuhan obat dan biaya operasional yang tidak ditanggung BPJS Kesehatan. “Harta sudah habis semua. Inginnya itu operasi di Jombang saja, supaya tidak jauh-jauh,” pungkas Mursini. (*)

(jo/mar/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia