Kamis, 21 Feb 2019
radarjombang
icon featured
Berita Daerah

Kendaraan Overtonase Dinilai Jadi Penyebab Rusaknya Jalan Nasional

07 Februari 2019, 07: 55: 10 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Salah satu lubang yang ditemukan di jalan nasional yang melintasi wilayah Kabupaten Jombang.

Salah satu lubang yang ditemukan di jalan nasional yang melintasi wilayah Kabupaten Jombang. (Ainul Hafidz/Jawa Pos Radar Jombang)

JOMBANG – Rusaknya ruas jalan nasional di Jombang karena beberapa hal. Satu diantaranya, beban kendaraan yang melintas di ruas itu terlalu berlebih. Sehingga membuat kondisi jalan berubah.

Kepala BPTD (Balai Pengelola Transportasi Darat) Jatim, Hanura Kelana Iriano mengatakan, kondisi jalan nasional mulai dari arah Mojoagung hingga memasuki Kertosono memang tidak lagi mulus. Banyak terlihat ada kerusakan di beberapa titik. 

“Benar, kondisi jalan Mojokerto-Jombang itu seolah-olah loss. Ini sekarang PUPR mulai melakukan perbaikan, kemarin saya juga baru saja lewat sana mulai bergelombang,” kata Hanura kemarin (6/2). 

Menurutnya, kerusakan jalan itu muncul lantaran banyak hal. Selain kondisi jalan yang berbeda, beban kendaraan yang melintas juga diprediksi menjadi salah satu penyumbang kerusakan makin cepat. “Memang disitu jalan gerak, kedua mungkin akibat muatan. Itu pasti ada, jadi nggak bisa lepas dari itu,” imbuh dia. 

Biasanya, kerusakan akan semakin mencolok ketika musim penghujan seperti sekarang. Kubangan hingga gelombang sangat mudah dijumpai dan tertutup air. Meski berada masih satu ruas, rata-rata kerusakan parah terjadi di wilayah Jombang. “Sepanjang sejarah memang disitu saja, karena mungkin jalan gerak. Mulai dari dinas jalannya mulet-mulet,” sambung Hanura. 

Dia kemudian mencontohkan jalan nasional di wilayah Surabaya-Sidoarjo. Meski satu ruas, kerusakan tak separah di Jombang. “Coba dilihat di luar itu masih sama satu poros, semisal di Surabaya tidak ada masalah. Tapi ketika di Jombang jalannya begitu,” tuturnya. 

Lebih dari itu, ia menyebut ada empat lokasi jembatan timbang di Jawa Timur yang masih beroperasi. Namun ia menilai belum maksimal. Beberapa jembatan timbang belum difungsikan dengan baik sehingga menjadi salah satu penyumbang kerusakan jalan.

“Sesuai SK Dirjen Perhubungan Darat kita harus membuka 10 jembatan timbang. Namun kendalanya sampai saat ini belum bisa merekrut pegawai baru karena ada edaran KemenPAN-RB,” urai dia.

Meski begitu ia menyebut, berdasar data yang dia kantongi, jumlah kendaraan overtonase yang melintas mulai berkurang. Tidak seperti dulu jumlahnya tak terbatas. “Data empiris untuk pelanggaran mulai ada penurunan. Karena sudah ada sanksi yang diterapkan di masing-masing koridor empat wilayah  jembatan timbang,” pungkas Hanura. 

Seperti diberitakan sebelumnya, kondisi  jalan nasional yang melintasi kabupaten semakin parah. Meski sempat ada kegiatan penambalan lubang di beberapa titik, namun kerusakan di titik lainnya semakin parah. (*)

(jo/fid/mar/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia