Kamis, 18 Jul 2019
radarjombang
icon featured
Kota Santri

Sebagian Santri TPQ di Masjid Al Ikhlas Adalah Anak Eks PSK dan Germo

06 Februari 2019, 11: 03: 34 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Kegiatan mengaji di masjid Al Ikhlas Dusun Klubuk, Desa Sukodadi, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang.

Kegiatan mengaji di masjid Al Ikhlas Dusun Klubuk, Desa Sukodadi, Kecamatan Kabuh, Kabupaten Jombang. (Mardiansyah Triraharjo/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG - Keberadaan masjid yang berdiri di lokalisasi bisa jadi adalah pemandangan langka, terutama di Kabupaten Jombang. Meski warga di kawasan itu ‘terbelah’ menjadi dua poros, antara masjid dengan lokalisasi tidak pernah ada masalah. Sebaliknya, mereka justru saling menunjukkan toleransi dan saling menghormati.

Muriyadi, tokoh masyarakat sekaligus Takmir Masjid Al Ikhlas mengatakan, pada saat masjid akan dibangun warga di kompleks juga tidak menolak. “Sejak awal memang tidak ada masalah. Cuma seandainya masjid tidak jadi dibangun, mungkin di atas lahan ini akan ada toko yang menjual bir,” katanya.

Sebab saat izin pendirian masjid disampaikan ke kantor Kecamatan Kabuh, dalam waktu yang sama juga datang usulan untuk mendirikan toko bir. “Ceritanya dulu mau didirikan koperasi, dan salah satu usahanya adalah toko bir,” ungkap  purnawirawan polri ini. Hingga akhirnya usulan yang disetujui adalah pendirian masjid.

“Masjid tidak pernah menganggu kompleks, sebaliknya kompleks juga tidak pernah menganggu masjid. Kita saling toleransi dan menghormati perbedaan prinsip, itu alasannya kenapa tidak pernah ada masalah antara masjid dan kompleks,” imbuhnya. 

Sebaliknya justru warga yang tinggal di kompleks, ramai-ramai mendaftarkan anaknya untuk bisa mengaji di masjid. “Tahun 2007 berdiri lembaga TPQ, namanya Miftahul Huda. Saat itu kompleks masih aktif dan belum ditutup,” imbuhnya. Bahkan jumlah santri TPQ semakin bertambah sejak kompleks ditutup Pemkab pada 2010 lalu. 

“Karena jumlah santri semakin banyak, pengurus masjid memutuskan untuk membangun gedung TPQ di belakang masjid. Sampai sekarang masih berlangsung pembangunannya,” tambahnya. 

Sejak berdiri hingga sekarang, masjid juga banyak mengalami perubahan. Salah satunya, manajemen pengelolaan masjid yang meliputi keuangan, tata kelola administrasi, dan kegiatan harian. “Dibanding dulu, sekarang lebih baik kondisinya,” lanjutnya. Ditambah, jika sebelumnya jumlah jamaah yang salat di masjid sangat sedikit, saat ini sudah cukup banyak. 

“Sejak kompleks ditutup, banyak warga yang salat di masjid. Anak-anak yang mengaji, jumlahnya mencapai 65 anak,” pungkasnya. Sementara itu lokalisasi Klubuk memang sudah ditutup Pemkab Jombang sejak 2010, atau sejak keluarnya Perda Nomor 15 Tahun 2009 tentang Pelarangan Pelacuran di Wilayah Kabupaten Jombang. Namun meski sudah lama ditutup, denyut nadi eks lokalisasi Klubuk masih terasa. 

Setidaknya itu yang dirasakan Pujianto, guru mengaji di TPQ Miftahul Huda, Masjid Al Ikhlas Dusun Klubuk, Desa Sukodadi. “Mengajar TPQ di wilayah ini, dengan di Jawa Tengah sangat berbeda. Terutama kultur budaya masyarakatnya,” ujar laki-laki asal Kabupaten Pati, Provinsi Jawa Tengah, yang sudah lima tahun berdomisili di Dusun Klubuk ini. 

Dengan kultur budaya masyarakat yang berbeda, Pujianto mengaku dirinya juga menerapkan cara mengajar yang berbeda. “Pendidikan akhlak tentu yang menjadi paling utama, disamping pendidikan tentang bab lain yang juga sama-sama penting. Karena kenalakan anak-anak di wilayah ini lebih dipengaruhi lingkungan sosial,” imbuhnya. 

Dia mengaku ia bisa datang ke Dusun Klubuk setelah diajak Suparto, yang tak lain masih kerabatnya. “Saya diajak merantau ke Jombang oleh beliau, katanya di Klubuk butuh guru mengaji,” tambahnya. Menjadi guru mengaji mungkin bagi sebagian orang bukan profesi yang menguntungkan secara materi. 

Namun bagi Pujianto, justru dengan menjadi guru mengaji ia bisa melakukan pengabdian. “Niatnya cari pahala saja, rejeki sudah ada yang mengatur,” jawabnya lagi. Selama lima tahun menjadi guru mengaji di Dusun Klubuk, banyak pengalaman yang dialami Pujianto. 

Termasuk menghadapi wali santri dengan berbagai karakter dan latar belakang sosial. Apalagi santri yang mengaji di TPQ Miftahul Huda, sebagian merupakan anak dari eks PSK, mucikari atau germo. “Anak-anak harus dibina agar ilmu yang didapat bisa mengubah masa depan mereka jadi lebih baik,” pungkasnya. (*)

(jo/mar/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia