Senin, 17 Jun 2019
radarjombang
icon featured
Peristiwa

Padi Mati Akibat Sawah Kebanjiran, Petani Jombang Terpaksa Tanam Ulang

05 Februari 2019, 15: 34: 08 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Sejumlah buruh tani yang melakukan tanam ulang, karena tanaman padi yang sebelumnya mati terendam banjir.

Sejumlah buruh tani yang melakukan tanam ulang, karena tanaman padi yang sebelumnya mati terendam banjir. (Ainul Hafidz/Jawa Pos Radar Jombang)

JOMBANG – Petani di Kecamatan Kesamben yang padinya mati terendam banjir, masih  kesulitan mencari benih. Kalau pun ada bibit, harganya sangat mahal. 

Seperti dikatakan Sulkhan, petani di Dusun Karandegan, Desa Kedungmlati, Kecamatan Kesamben. Umur padi 10 hari yang ditanamnya rusak semua, kini dia mulai berencana kembali tanam ulang.

“Hampir semuanya mati, ada sisa tetapi tidak normal. Harus diganti, tanam lagi. Cari bibitnya sulit banget. Kemarin sudah cari ke Krian (Sidoarjo), di sana masih ada,” kata dia kemarin (4/2).

Itu pun dengan jumlah tak sebanyak yang dibutuhkan. Hanya mendapat puluhan ikat benih. Harganya juga terbilang tak seperti sebelumnya. “Satu bongkok (satu ikat, Red) Rp 3 ribu, itu yang di Krian,” imbuh Sulkhan. Rata-rata petani di wilayah nya mencari benih ke luar kabupaten.

“Ada juga yang ke Trowulan (Mojokerto),” sebut dia. Untuk kebutuhan itu belum termasuk buruh tani. Menurut dia, dari sekitar 1.400 meter persegi sawah miliknya membutuhkan lebih dari 30 ikat benih. 

Hal serupa dirasakan Ikhsanudin petani lainnya. Menurut dia, tanam padi miliknya merupakan kali ketiga yang dilakukan. “Jadi sebelumnya sudah pernah banjir, paling parah ya kemarin itu,” sahut Ikhsan. Sama dengan petani lainnya, dia juga kembali tanam ulang. “Dapat dari Sidoarjo juga,” beber dia. 

Sementara itu, meski sebelumnya Disperta Kabupaten Jombang sudah mengajukan bantuan ke provinsi, bantuan itu tak bisa diterima langsung. Justru diprediksi akan diterima pada tanam berikutnya. 

“Jadi kita ini mengajukan kalau ada kerusakan itu turunnya paling cepat tanam berikutnya. Jadi tidak bisa langsung,” kata Hadi Purwantoro, Kepala Disperta Kabupaten Jombang.

Sehingga, dipastikan petani yang saat ini kesulitan mencari benih harus menangung beban sendiri. “Jadi kita sudah upaya mengusulkan, nanti kapan ya nunggu dari sana. Biasanya memang begitu paling cepat tanam berikutnya,” imbuh dia.

Lebih lanjut dia menyebutkan, bantuan yang diajukan itu hitungannya 25 kilogram per-hektare. “Yang kita ajukan kemarin tanaman yang mati 105,5 hektare,” tutur dia. Jika dikalkulasi total pihaknya mengajukan 2.625 kilogram atau 2,6 ton. 

Meski begitu Hadi juga tak bisa memastikan apakah nantinya bentuk bantuan itu berupa benih padi atau tanaman lainnya. “Jadi entah itu nanti benih padi atau diganti yang lain kita sendiri tidak tahu,” beber Hadi. 

Hal ini menurut Hadi, tidak hanya terjadi kali ini. Tahun sebelumnya juga demikian. Ketika pihaknya mengajukan bantuan, untuk realisasi pada tanam berikutnya. “Tahu lalu dapatnya juga sama, ketika ada bantuan juga begitu. Tidak langsung turun,” pungkas Hadi. (*)

(jo/fid/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia