Minggu, 15 Dec 2019
radarjombang
icon featured
Berita Daerah

Penanganan Lamban, Kerusakan Jalan Nasional Trans Jawa Semakin Parah

05 Februari 2019, 15: 18: 46 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Kondisi jalan nasional di sepanjang Jalan Basuki Rahmad masih ditemukan lubang yang cukup lebar dan dalam.

Kondisi jalan nasional di sepanjang Jalan Basuki Rahmad masih ditemukan lubang yang cukup lebar dan dalam. (ANGGI FRIDIANTO/JAWA POS RADAR JOMBANG)

Share this      

JOMBANG - Kondisi jalan nasional yang melintasi Kabupaten semakin parah. Meski sempat ada kegiatan penambalan lubang di beberapa titik, namun kerusakan di titik lainnya juga masih banyak.

Pantauan Senin (4/2) kemarin, jalan berlubang bisa ditemukan di sepanjang jalan nasional sepanjang 42 kilometer ini. Seperti di Jalan Raya Gambiran, Kecamatan Mojoagung.

”Bahaya sekali, apalagi saat musim hujan seperti sekarang ini. Sering ada korban jatuh, khususnya kalau malam,” beber Ismail, 37, warga Desa Jogoloyo, Kecamatan Sumobito.

Bahkan, menurutnya, di ruas jalan nasional yang belum genap setahun dibangun, sudah rusak lagi. ”Ingat saya waktu itu mendekati Idul Fitri aspalnya dibongkar, diganti aspal baru. Tapi kok belum setahun sudah banyak yang ambrol,” bebernya.

Tidak menutup kemungkinan, selain dipengaruhi kualitas pengerjaan jalan, kerusakan jalan disebabkan banyaknya kendaraan yang melanggar batas muatan. ”Bisa jadi pemicunya kendaraan-kendaraan muatan berat, melebihi batas muatan,” ujar pedagang di pinggir jalan nasional ini. 

Kerusakan juga terlihat Jalan Basuki Rahmad yang baru ditambal sepekan lalu, kemarin (4/2) sudah berlubang lagi. Bahkan, kondisi lubang di jalan kembali membesar. 

Pantauan di lokasi kemarin, kondisi lubang yang sebelumnya ditambal karena ditanami pohon pisang warga kini sudah mulai melebar. Lapisan aspal sudah mulai mengelupas. ”Iya baru seminggu kemarin ditambal,” celetuk Rozak, salah satu sopir truk. 

Menurut pria asli Ngoro ini menyebut, penambalan jalan tersebut tak awet karena derasnya hujan yang mengguyur Jombang beberapa hari terakhir. Kondisi aspal yang belum mengering membuat kondisinya mudah hancur saat terkena hujan.

”Mungkin kena hujan terus terus, sehingga rontok dan tak kuat. Apalagi setiap hari kan dilewati kendaraan besar besar,” jelas dia. Ia menambahkan, harusnya perbaikan yang dilakukan tidak sekedar tambal sulam. ”Mungkin dilakukan pembongkaran disekitar sisi yang rusak, baru diperbaiki,” pungkasnya. (*)

(jo/naz/ang/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia