Senin, 26 Aug 2019
radarjombang
icon featured
Peristiwa

Kualitas Jelek, Rumah Hasil Realisasi PID di Mundusewu Tak Dihuni

03 Februari 2019, 16: 16: 27 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Kondisi rumah hasil realisasi PID milik salah satu warga di Mundusewu

Kondisi rumah hasil realisasi PID milik salah satu warga di Mundusewu (Azmy Endiyana/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG – Bantuan bedah rumah yang bersumber dari Pagu Inisiatif Desa (PID) di Desa Mundusewu, Kecamatan Bareng dikeluhkan. Bahkan, bangunan yang baru selesai dua bulan dibangun, sudah muncul retakan di lantai.

Saadah, salah satu penerima bantuan di Desa Mundusewu mengatakan, dirinya sangat kecewa dengan bantuan bedah rumahnya. Meski, sudah selesai,  dirinya tidak bisa menempati rumah tersebut. Memilih tinggal di rumah gubuk lamanya.

”Saya memilih tinggal di sini (rumah gubuk), karena rumah yang dibangun belum bisa ditempati,” ujarnya saat dikonfirmasi kemarin.

Menurutnya, selain lantai muncul retakan, pemasangan saja juga tidak beraturan. ”Bisa dilihat sendiri bangunannya seperti apa, apakah layak ditempati apa belum,” imbuhnya.

Tidak hanya itu, dirinya juga tidak mengetahui pasti berapa nilai nominal  bantuan. Dirinya hanya mendapat material saja yang langsung dikirim ke rumahnya. ”Saya tidak tahu dapat berapa, yang jelas material langsung dikirim ke rumah sama pak lurah,” ungkapnya.

Tak jauh berbeda dengan Saadah, kebanyakan penerima bantuan bedah rumah di Mundusewu tidak mengetahui berapa nominal bantuan yang didapatkan.

Purwadi, yang juga mendapat bantuan bedah rumah mengatakan, untuk bantuan tersebut dirinya tidak mengetahui berapa nominal yang diterima.  ”Jadi material langsung dikirim sama Pak Lurah,” katanya.

Pada bantuan tersebut, lanjut Purwadi, dirinya mendapat bantuan berupa semen 42 sak, batako 1.200 biji, batu kumbung 100 biji, besi ukuran 8 mm enam biji, ukuran 6 mm delapan biji.

”Untuk koral setengah engkel, pasir tiga engkel, bendrat satu kilogram, jendela dan gawangnya dua, dan pintu dan gawangnya satu buah,” ungkapnya. Bedah rumah dilakukan tiga pekerja selama kurang dari dua minggu. Untuk pembangunan dirinya juga dibantu dengan tetangganya.

”Saya juga dibantu tetangga jadi pembangunan kurang lebih 10 harian. Selain itu, saya juga mendapat uang sebesar 641 ribu, karena kata Pak Lurah materialnya masih kurang,” bebernya.

Sementara dikonfirmasi terpisah, Kepala Desa Mundusewu, Selamet, mengatakan, rata-rata penerima bantuan bedah rumah di Desa Mundusewu mendapat Rp 20 juta dalam bentuk material dan ongkos tukang.

”Rata-rata mendapat bantuan Rp 20 juta, akan tetapi belum dipotong pajak,” ujarnya saat dikonfirmasi kemarin. Ia juga memaparkan, untuk potongan pajak sebesar Rp 1.548.000 dan Rp 500 ribu untuk yang membuat RAB dan SPj.

”Kan itu sudah tidak menjadi rahasia lagi, masak yang membuat SPJ tidak diberi. Siapa mas nanti yang buat SPj-nya,” pungkasnya. (*)

(jo/yan/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia