Kamis, 27 Jun 2019
radarjombang
icon featured
Jombang Banget

Clorotan, Tradisi Petani Bareng Jelang Turun Sawah yang Masih Terjaga

02 Februari 2019, 14: 27: 32 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Warga Dusun Banjarsari, Desa/Kecamatan Bareng mengadakan tradisi clorotan jelang turun sawah.

Warga Dusun Banjarsari, Desa/Kecamatan Bareng mengadakan tradisi clorotan jelang turun sawah. (Anggi Fridianto/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG – Tradisi clorotan masih tetap dilakukan warga Dusun Kedungwinong, Desa/Kecamatan Bareng Kabupaten Jombang. Kemarin (1/2) warga berbondong bondong mengikuti tradisi colorotan sebagai bentuk rasa syukur menjelang musim turun sawah.

Sejak pukul 07.00 WIB, warga berjalan menyisir sawah menuju makam Mbah Kudus, yang diyakini sebagai tokoh pertama kali mbabat alas. Warga membawa asahan (berkat) jajanan tradisional, termasuk tiga jajanan khas clorotan yakni kue clorot, brondong dan pasung. Sebelumnya, mereka berziarah ke makam anggota keluarga.

Lewi, 75, tokoh masyarakat setempat menyampaikan tradisi clorotan merupakan peninggalan nenek moyang yang dipercaya bisa menghindarkan petani dari ancaman petir dan guntur, kala musim hujan saat dan petani mulai menanam padi.

Untuk terhindar dari petir, halilintar atau geledak, petani harus berdoa kepada Tuhan sembari membuat tiga jajanan tersebut sebagai bentuk rasa syukur jelang tanam.

”Pertama kue clorot terbuat dari tepung beras dicampur gulapasir bisa juga gula kelapa, kemudian dibungkus janur, atau daun kelapa muda. Bentuknya memanjang hampir menyerupai terompet,” ujarnya.

Selanjutnya, berondong alias jajanan yang terbuat dari jagung. Berondong jagung dalam hal ini diwujudkan sebagai bentuk geluduk alias halilintar yang gemelegar di langit.

”Saat turun hujan, pasti ada petir dan geluduk, selalu membahayakan petani,” jelasnya. Ketiga kue pasung yang  hampir sama dengan clorotan, terbuat dari tepung beras yang dikukus. Hanya saja, yang membedakan kue ini kemesannya.

Kue pasung dibungkus dengan daun nangka atau daun pisang. ”Kue pasung ibarat pelindung, sebagai bentuk doa kepada Tuhan agar petani diberi keselamatan saat menanam padi,” tandas dia.

Tiga jajanan tradisional itu harus disediakan petani untuk memohon keselamatan. Selama ini petani selalu nurut apa yang dikatakan sesepuh desa. ”Alhamdulilah selama ini tidak pernah terjadi hal yang tidak diinginkan,” pungkasnya. (*)

(jo/ang/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia