Senin, 17 Jun 2019
radarjombang
icon featured
Jombang Banget

Kisah Sukses Zulaikah Produksi Telur Asin Meski Sempat Dilarang Suami

01 Februari 2019, 18: 31: 25 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Zulaikah, warga Desa Tanjunggunung, Kecamatan Peterongan, jalankan usaha telur asin.

Zulaikah, warga Desa Tanjunggunung, Kecamatan Peterongan, jalankan usaha telur asin. (M.Nasikhuddin/Jawa Pos Radar Jombang)

JOMBANG - Bermula dari jualan telur eceran keliling, Zulaikah, perlahan sukses menapaki usaha  telur asin. Kini produknya jadi langganan sejumlah rumah makan.

Tak terasa sudah sepuluh tahun berlalu, usaha produksi telur asin yang digelutinya masih bertahan. Jika di awal merintis, dirinya sempat tertatih-tatih, kini ibu tiga anak ini bisa menyambut hari-hari tuanya tanpa harus berkeliling jualan telur.

Pasalnya, omzet yang didapat dari penjualan telur asin sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya sehari-hari. Ya, itulah sekelumit cerita perjalanan Zulaikah, warga asal Desa Tanjunggunung, Kecamatan Peterongan yang sukses menekuni usaha   telur asin.

“Sekarang sudah tidak melayani warung-warung eceran, Sudah tidak perlu keliling untuk jualan, sebab sudah punya banyak pelanggan,” beber Zulaikah saat ditemui Jawa Pos Radar Jombang di rumahnya beberapa waktu lalu.

Ibu tiga anak ini menuturkan, awal dirinya merintis produksi telur asin sekitar 2010 lalu. Saat itu dirinya tergerak membantu Tabar, 58, suaminya mencari tambahan nafkah. Maklum saja, pendapatan yang didapat suaminya dari berjualan kerupuk keliling dinilai minim.

Tak ingin berdiam diri di rumah, dengan modal seadanya, Zulaikah mulai menggeluti jual beli telur. ”Kalau tidak salah, modal waktu itu Rp 40 ribu. Saya beli telur kampung dari tetangga sekitar, terus saya jual keliling, ya sering ke warga perumahan naik sepeda ontel,” bebernya.

Melihat istrinya berjualan keliling seperti itu, Tabar suaminya pun tidak tega, sehingga melarang Zulaikah berjualan telur keliling, terlebih saat itu Zulaikah berkeliling sambil membonceng anaknya yang masih kecil. ”Waktu itu sama suami dilarang, mungkin kasihan. Tapi saya tidak mau menyerah, sambil naik sepeda ontel saya tetap jualan,” bebernya.

Meski hasilnya tidak seberapa, Zulaikah terus bersemangat berjualan telur keliling. Hingga sekitar 2011, salah satu pelanggannya menyarankan dirinya berjualan telur asin.

Meski belum memiliki pengalaman, Zulaikah mulai berani mencoba memproduksi telur asin. ”Saya cari orang jual telur bebek sampai ke beberapa tempat, ke Kesamben,” bebernya.

Sesampainya di rumah, dirinya pun segera membersihkan telur bebek yang akan dijadikan produk telur asin. ”Waktu awal coba-coba, sekitar lima kilo telur,” bebernya.

Usai telur dibersihkan, langkah selanjutnya   menyiapkan tong berukuran sedang, di dalamnya diisi air dan garam grosok secukupnya. Proses selanjutnya, memasukkan telur bebek ke dalam tong, dan setelahnya menutupnya rapat dan dibiarkan selama beberapa hari. ”Waktu itu saya coba rendam tujuh hari,” bebernya.

Memasuki hari ketujuh, Zulaikah mengeluarkan telur dari tong dan mencucinya kembali dengan air bersih. ”Setelah itu di masak seperti membuat pentol begitu, ditunggu sampai matang,” bebernya.

Sesuai harapan, produk telur asin buatannya dirasa enak. ”Saya jual ke pelanggan saya, katanya enak, akhirnya saya kembangkan sampai sekarang,” bebernya.

Seiring produknya semakin dikenal, Zulaikah pun banyak kebanjiran permintaan, sampai-sampai kuwalahan. ”Akhirnya suami putuskan berhenti jualan kerupuk, dan bantu-bantu saya jualan telur asin ke pasar,” bebernya.

Tidak jarang lanjut Zulaikah, dirinya menerima pesanan dalam jumlah besar. ”Khsususnya mendekati hari raya, atau orang pesan buat hajatan, pernah sehari permintaan sampai seribu lebih telur asin,” imbuhnya.

Uniknya, Zulaikah berhasil mengembangkan kreasinya menciptakan ragam produk telur asin. ”Jadi telur asin rasanya beragam. Ada yang minta asin, atau rasa asin minta sedang juga bisa, tergantung permintaan. Tinggal metode waktu merendam telur dan  takaran garamnya kita otak-atik, nanti menghasilkan rasa berbeda,” imbuhnya.

Jika sebelumnya, dirinya banyak melayani warung-warung eceran. Seiring bertambahnya pelanggan, dia memutuskan berhenti berjualan keliling. ”Sekarang beberapa rumah makan di Jombang ambil telur asinnya dari saya. Terus lagi, langganan di pasar juga banyak,” bebernya.

Untungnya, sekarang ini dirinya tidak perlu lagi kesulitan mencari stok bahan baku telur bebek, sebab dirinya sudah memiliki sejumlah langganan peternak bebek. (*)

(jo/naz/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia