Kamis, 21 Feb 2019
radarjombang
icon featured
Tokoh

Lukman-Yusnita; Pasutri Pegiat Literasi yang Sempat Dituduh Radikalis

28 Januari 2019, 16: 49: 14 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Lukman Hakim dan Yusnita Fitriati di perpustakaan yang mereka dirikan di rumah

Lukman Hakim dan Yusnita Fitriati di perpustakaan yang mereka dirikan di rumah (Achmad RW/Jawa Pos Radar Jombang)

JOMBANG - Rubrik tokoh Jawa Pos Radar Jombang kali ini mengangkat kisah sepasang suami istri di Jombang yang aktif bergerak di bidang edukasi dan literasi. Dengan tekad yang kuat keduanya mendirikan sebuah rumah baca hingga berkembang sekarang.

Mereka adalah Lukman Hakim dan Yusnita Fitriati. Keduanya menempati rumah di Jalan Ahmad Dahlan gang Masjid Jombang yang kini jadi rumah baca yang dikelola sendiri dengan puluhan anak. “Ini cuma penyaluran hobi, kegiatannya juga non profit, makanya kita buka tiap sore saja,” ucap Lukman, sapaan akrabnya mengawali pembicaraan.

Sanggar yang kemudian diberi nama Rumah Baca Gang Masjid (RBGM) merupakan bentuk kerisauannya atas banyaknya anak di sekitar yang tiap sore hingga malam kesulitan belajar dan mengerjakan PR.

Lokasi rumahnya memang berada tak jauh dari Alun Alun Jombang dimana banyak pedagang malam di lokasi tersebut yang kerap mengajak anaknya berjualan setiap hari. “Kami melihat tiap hari anak-anak tidak belajar dan tidak pernah mengerjakan PR, sedangkan keluhan orang tua, sudah nggak nutut pelajarannya,” lanjutnya.

Bersama istrinya, Lukman terbersit untuk mengadakan kelas pendampingan belajar sekaligus mengajak anak-anak tersebut untuk membaca. Memanfaatkan ruang kosong di depan rumah kecilnya, dia telaten mengajari setiap anak yang mau datang ke rumah, sejak 2012 lalu.

“Awalnya kita berangkat dengan modal cuma 50 buku, itu juga buku pribadi milik anak yang masih balita,” timpal Yusnita, istri Lukman. Kegiatan ini terus berlanjut dan terus berkembang, pendampingan belajar pun tak melulu anak mengerjakan PR. Akan tetapi anak-anak juga diajarkan untuk taat beribadah dengan wajib salat jamaah di masjid Jamik yang berada tepat di depan rumah.

Hal ini seiring dengan mulai banyaknya buku-buku baru yang masuk. “Hingga kini mungkin sudah ada 5000-an koleksi, mulai dari buku anak baik fiksi maupun non fiksi hingga buku dewasa. Ada yang kita beli sendiri, ada juga yang sumbangan,”  lanjut PNS di lingkup Pemkab Jombang ini.

Meski demikian, keduanya mengaku tak mau membuat ikatan resmi baik untuk anak-anak yang belajar maupun relawan yang membantu di rumah bacanya. “Baik anak yang ikut belajar maupun relawan ada saja yang keluar masuk tiap hari, yang jelas kegiatan ini tetap kami lakukan,” tambahnya.

Selama enam tahun terakhir, sejumlah cabang juga sempat dibuka, mulai Diwek dan Gudo. Namun karena mengaku kekurangan sumberdaya penjaga rumah baca, mereka akhirnya memilih menggunakan sistem kemitraan berbasis jaringan dengan mengajak orang untuk membuka rumah baca lain.

“Sekarang kita memilih untuk membantu teman-teman yang membuka rumah baca baru untuk menyuplai buku pinjaman, karena dengan itu lebih terjain kelanjutannya,” pungkas pria kelahiran Tulungagung ini.

Menjalankan pendampingan pembelajaran, bukan berarti berjalan mulus. Lukman mengaku sempat harus melawan gempuran anggapan miring terkit upayanya itu. Terlebih dirinya bersama istri pernah dianggap sebagai penganut paham radikalisme dengan menjadikan anak-anak sebagai target penyebaran ideologi.

Kejadian ini berlangsung sekira 2017 lalu. Kebijakannya yang keras agar anak-anak wajib salat berjamaah tiap hari, dianggap beberapa orang tua anak-anak sebagai bentuk pengamalan ajaran ekstrem.

“Kita memang keras kalau masalah jamaah, karena dekat masjid, ternyata sempat jadi rasan-rasan warga,” ucapnya diiringi tawa. Namun upaya mediasi sempat dilakukannya dengan baik.

Dengan petemuan dan penjelasan yang jelas kepada orang tua anak-anak yang belajar di rumahnya, tak ada lagi kegelisahan dari mereka. “Untungnya saat pertemuan ada pak RW yang bersedia jadi jaminan, beliau memang mendukung upaya kami,” lanjutnya.

Bahkan kini, di hari-hari libur tak jarang anak-anak memilih untuk menginap di rumahnya usai belajar. “Biasanya orang tua tidak masalah kalau memang pamitnya kesini,” pungkas Lukman. (*)

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia