Kamis, 21 Feb 2019
radarjombang
icon featured
Tokoh

KH Abdul Wahid Hasyim; Sosok Organisatoris Handal, Pandai Berpidato

28 Januari 2019, 16: 19: 20 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Makam KH Abdul Wahid Hasyim di PP Tebuireng Jombang

Makam KH Abdul Wahid Hasyim di PP Tebuireng Jombang (Achmad RW/Jawa Pos Radar Jombang)

JOMBANG - Selain dikenal cerdas dan berpengetahuan luas, KH Wahid Hasyim juga dikenal sebagai seorang organisator ulung serta pandai berpidato. Bahkan banyak cerita yang menggambarkannya sejak kecil, bahwa beliau seorang gus dari keluarga terpandang yang tetap mau bermain serta bergaul dengan masyarakat umum.

Di berbagai organisasi level nasional yang ia ikuti ketika dewasa juga menunjukkan pengaruh yang cukup mumpuni. Meski usianya saat itu masih relatif muda dan termasuk paling muda.  Memulai kiprahnya di organisasi dengan membentuk wadah bagi pelajar islam bernama IKPI yang digawanginya sendiri.

Dalam tempo yang sangat singkat telah menunjukkan perkembangan cukup menggembirakan, dengan masuknya ratusan anggota serta berhasil membangun sebuah taman bacaan  atau dikenal dengan bibliotheek untuk warga setempat.

Ratusan buku dan kitab bacaan dengan berbagai mahasa disediakan, demi membantu pemuda disekitarnya untuk mampu maju dengan bacaan-bacaan yang ada. Di tataran organisasi  NU lokal, KH Wahid Hasyim yang kala belum lama pulang dari tanah suci, dengan kemauan yang berapi-api dan ide yang cemerlang, mampu membangun organisasi lebih baik.

”Beliau masuk di tataran paling dasar dulu, yaitu dari cabang Diwek setelah itu naik terus,” sebut Gus Solah. Hingga akhirnya ia menduduki pucuk pimpinan PBNU bagian Maarif di tahun 1940. KH Wahid Hasyim juga tercatat menjadi delegasi untuk ayahnya KH Hasyim Asy’ari, di berbagai bidang organisasi seperti Majelis  al-Islam  al-A’la  Indonesia (MIAI). Di jaman Jepang menjadi wakil ketua Shumubu (Kantor Urusan Agama Jepang) juga Masyumi.

Ditunjuknya beliau ini tentu tak lepas dari ayahnya yaitu KH Hasyim Asy’ari. “Kalau di MIAI itu memang aslinya Mbah Hasyim yang diminta, namun karena urusan di pesantren dan tidak bisa meninggalkan pesantren, maka putranya jadi perwakilan. Walaupun faktor putra Hadratussyaikh memang ada, namun kalau dianggap tidak cakap tentu tidak akan bisa mengisi jabatan itu,” jelasnya.

Bahkan di Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), beliau juga menjadi salah satu dari anggota tim 9 yang merumuskan Pancasila dan menghilangkan kata penting di sila satu Pancasila dan lahirlah piagam Jakarta. “Di situ (BPUPKI, Red) bapak juga kan anggota termuda, namun terpilih iku tim 9, berarti perannya nggak main-main,” papar Gus Solah.

Tak berhenti disitu, KH Wahid Hasyim juga seringkali mengader orang yang dianggapnya mampu dan memiliki potensi untuk melanjutkan perjuangannya. “Seperti mertua saya, KH Saifudin Zuhri, yang juga diajak sendiri dengan surat pribadi untuk bertemu karena kagum dengan beberapa tulisan mertua saya,” lanjut Gus Solah.

Kebiasaan ini seringkali dilakukannya ke berbagai orang lain karena murni kepedulian akan pentingnya penerus perjuangan. “Semua anak didiknya juga dilatih sendiri dan diajar sendiri, dan beliau sama sekali tidak takut tersaingi,” pungkasnya bangga. (*)

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia