Kamis, 21 Feb 2019
radarjombang
icon featured
Tokoh

KH Abdul Wahid Hasyim; Tokoh Berwawasan Luas, Kecerdasannya Tinggi

28 Januari 2019, 16: 05: 53 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

KH Abdul Wahid Hasyim

KH Abdul Wahid Hasyim (Istimewa)

JOMBANG - Tokoh nasional yang satu ini juga tak asing lagi nama dan kiprahnya di Indonesia. Kemampuannya untuk menyerap ilmu pengetahuan untuk kemudian disebar luaskan sejak kecil juga telah masyhur. Kepiawaiannya dalam bidang organisasi serta sumbangsihnya di dunia pendidikan juga tak perlu dipertanyakan lagi.

Ya, beliau adalah KH Abdul Wahid Hasyim, putra dari Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari yang juga turut membantu dan meneruskan perjuangan ayahandanya hingga akhir hayat. Lahir di Jombang 1 Juni 1914, Pak Id, begitu keluarga akrab menyapanya, adalah putra kelima dari pasangan KH Hasyim Asy’ari dengan Nyai Hj Nafiqoh.

Lahir dari  keluarga yang taat beragama serta berdarah biru, Abdul Wahid Hasyim telah menunjukkan kemampuan luar biasa sejak kecil. Belajar berbagai ilmu baik Alquran dan hadits dari ayahnya sendiri, kiai Wahid kecil sudah menuntaskan pendidikannya pada usia sangat muda 12 tahun. “Bahkan di usia 13 tahun mulai mengajar di pesantren ini,” jelas putranya, KH Salahuddin Wahid.

Hal ini tentu tak lepas dari hobi dan kebiasaannya yaitu membaca. KH Wahid Hasyim memang dikenal sebagai orang yang sangat gemar membaca. Banyak tulisan yang menggambarkan beliau senang sekali membaca majalah dan buku dari berbagai bahasa baik Belanda, Inggris maupun Arab. Tak heran jika kemudian beliau sangat berpikiran terbuka dan mampu mengetahui berbagai hal yang bahkan mungkin belum banyak diketahui oleh pemuda seusianya di masa itu.

“Padahal untuk belajar huruf latin, di pondok tidak diajarkan, jadi memang harus belajar sendiri,” lanjut Gus Solah. Beliau juga menjadi orang yang memberikan perubahan di dalam ranah kajian ilmu dan kurikulum di Ponpes Tebuireng. Sistem salaf yang sebelumnya digalakkan oleh Mbah Hasyim, dilengkapi pula oleh pengajaran dan kurikulum umum oleh dirinya.

Sebagai seorang anak kiai besar yang haus ilmu pengetahuan, beliau juga melakukan tradisi mengembara ke berbagai pondok pesantren. “Pernah ke Pondok Siwalan Panji Sidoarjo,Pondok Lirboyo kediri dan lain sebagainya,” lanjutnya. Namun yang unik menurut Gus Solah, berpindah ke berbagai pondok itu berlangsung sangat singkat, karena masa pengembaraannya berlangsung 2 tahun untuk kembali ke pesantren Tebuireng. “Memang mondok menurut beliau untuk ngalap barokah saja,” sebutnya.

Selain sebagai pelajar yang baik, beliau juga dikenal sebagai tokoh pelopor pendidikan. Di pesantrennya juga penulis yang cukup produktif, terlebih ketika usianya menginjak 20 tahun dan baru saja pulang dari tanah suci untuk menunaikan ibadah haji dan menetap selama beberapa waktu di sana.  “Usia 20 tahun itu beliau sudah mendirikan Madrasah Nidhomiyah sendiri, pelajarannya di masjid dan beliau sendiri yang mengajar,” sebut Gus Solah kembali.

Selian itu KH Wahid Hasyim juga seorang penulis yang sangat produktif. Sejumlah tulisan berupa artikel-ertikel keagamaan, bahasa maupun politik maupun kegiatan surat menyurat seringkali ia lakukan untuk dirinya sendiri, juga untuk membantu ayahandanya. “Bapak itu sangat rapi juga orangnya bahkan surat yang diterimanya selalu dikumpulkan dan ditumpuk rapi,” kenang Gus Solah.

Namun meski kecerdasan diatas rata-rata, beliau harus dipanggil oleh Allah SWT di usia yang masih sangat muda. Tepatnya 39  tahun, pada 19 April 1953, saat perjalanan menuju Sumedang  untuk menghadiri  rapat pengurus Nahdlatul Ulama. “Waktu bapak meninggal itu saya masih usia 10 tahun. Bahkan anak terakhir lahir pasca meninggalnya KH Wahid Hasyim,” pungkasnya. (*)

(jo/riz/mar/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia