Minggu, 18 Aug 2019
radarjombang
icon featured
Berita Daerah

Petani Kopi di Wonosalam Mulai Tinggalkan Pemanggangan Tradisional

27 Januari 2019, 17: 43: 29 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Petani kopi di Wonosalam tak lagi gunakan panggangan manual karena beralih ke mesin sangrai kopi.

Petani kopi di Wonosalam tak lagi gunakan panggangan manual karena beralih ke mesin sangrai kopi. (Anggi Fridianto/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG – Perkembangan teknologi modern lambat laun diikuti petani kopi Wonosalam. Salah satunya, proses roasting atau pemanggangan yang menggunakan mesin sangrai kopi. Cara ini pun dinilai menguntungkan karena lebih cepat, dan tingkat kematangan lebih merata.

Aroma harum kopi Wonosalam tercium dari sudut rumah sederhana di Desa Pucangrejo, Kecamatan Wonosalam, Kabupaten Jombang, kemarin pagi (25/1). Ya, aroma itu tercium dari proses roasting kopi jenis asisah yang dilakukan Endrias Bambang dengan mesin sangrai berukuran jumbo.

Tak seperti sebelumnya, ia tiap kali mengolah kopi selalu menggunakan cara tradisional. Kopi dipanggang di atas tungku dan bolak-bolik selama berjam-jam. Selain menguras tenaga, cara ini ternyata juga dinilai kurang efektif. Sebab, tingkat kematangan kopi hasil roasting tidak merata sepenuhnya. Namun, setelah menggunakan mesin sangrai kopi, hasil yang didapat lebih maksimal dan tidak perlu waktu berjam-jam.

”Kalau pakai pemanggangan manual memang lebih murah, tapi hasilnya kurang pas,’’ ujarnya sembari menunggu proses roasting selesai. Dengan menggunakan cara modern ini, jelasnya, petani bisa mengatur suhu, waktu dan hasil tingkat kematangan sesuai selera. ”Jadi kita bisa ngatur tingkat kematangan 50 persen atau 100 persen, dengan level light maupun dark,’’ terang dia.

Dibandingkan dengan cara tradisional, proses sangrai ini juga lebih cepat. Perbangdingannya cukup lama. Untuk 15 kilogram kopi cukup membutuhkan waktu 15 menit saja. ”Namun kalau cara lama, bisa memakan hampir dua jam,’’ jelasnya.

Pada dasarnya, kopi wonosalam bisa menghasilkan rasa yang bagus jika diproses dengan cara yang baik pula. Caranya mulai dari panen hingga roasting harus memerhatikan beberapa prosedur. ”Paling tidak biji yang dipanen adalah petik merah, lalu pengeringan dan terakhir proses yang paling menentukan adalah roasting,’’ tandasnya.

Sayangnya, tak begitu banyak petani Wonosalam yang mau beralih dengan menggunakan cara modern ini. Menurut ketua asosiasi kopi Wonosalam ini, ada beberapa faktor yang membuat petani enggan beralih. Salah satunya, harga mesin roasting mahal. Selain itu, tingkat kesadaran petani untuk mengolah kopi juga masih minim.

”Dari ribuan kopi petani di Wonosalam, hanya sebagian saja yang mau mengolah dengan brand (merk) mereka sendiri. Karena sebagian besar kopi wonosalam dikuasai pengijon dari tengkulak langganan mereka,’’ pungkas dia. (*)

(jo/ang/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia