Senin, 18 Nov 2019
radarjombang
icon featured
Kota Santri

Di Dusun Ngepeh; Masjid, Gereja, dan Pura Hanya Berjarak 100 Meter

25 Januari 2019, 09: 54: 04 WIB | editor : Mardiansyah Triraharjo

Masjid Quba di Dusun Ngepeh, lokasinya berada di sisi Jalan Raya Jombang-Kandangan

Masjid Quba di Dusun Ngepeh, lokasinya berada di sisi Jalan Raya Jombang-Kandangan (Mardiansyah Triraharjo/Jawa Pos Radar Jombang)

Share this      

JOMBANG - Masjid Quba’ yang berada di Dusun Ngepeh, Desa Rejoagung, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, mencerminkan kerukunan antar umat beragama. Tak jelas sejak kapan masjid ini berdiri. Namun masjid yang pernah direnovasi 1983 ini berdekatan dengan gereja dan pura.

Jaraknya, hanya kurang lebih 100 meter. Meski dekat, umat beragama di tiga tempat ibadah ini tak pernah ribut apalagi terlibat konflik atas nama agama. Mayoritas bisa mengayomi minoritas, sebaliknya yang minoritas mampu menghormati mayoritas. Hal ini menjadi tradisi masyarakat Ngepeh turun temurun.

Kepala Dusun Ngepeh, Sungkono mengatakan, di dusun yang ia mimpin memang terdapat tiga umat beragama yaitu Islam, Kristen, dan Hindu. Menurutnya, sejak lama tiga umat beragama ini mampu tumbuh dan hidup dengan sangat toleran. “Jaman nenek moyang, tiga agama ini sudah ada di Ngepeh. Tidak tahu ceritanya dulu bagaimana kok bisa hidup bersama,” katanya kepada Jawa Pos Radar Jombang, sore kemarin (24/1).

Kerukunan umat beragama di Dusun Ngepeh menurut Sungkono juga sangat kuat, meski ada beberapa peristiwa konflik atas nama agama yang terjadi di Indonesia. “Saat terjadi peristiwa 98 pun, masyarakat Dusun Ngepeh tidak terpengaruh. Begitu juga dengan peristiwa SARA lainnya, disini tetap hidup rukun dan damai,” lanjutnya.

Sementara jumlah penduduk di Dusun Ngepeh kurang lebih 1.500 jiwa. Untuk masyarakat yang beragama Kristen, terdapat kurang lebih 80 jiwa. Sedangkan yang beragama Hindu terdapat kurang lebih 60 jiwa. Sisanya adalah masyarakat Muslim. “Mereka yang Kristen atau Hindu, tak pernah merasa terganggu dengan speaker (pengeras suara, Red) masjid. Warga muslim juga tak pernah risih dengan adanya kebaktian di gereja dan sembahyang di pura,” imbuh Sungkono.

Bahkan dalam urusan makam pun, umat Islam dan Kristen di Dusun Ngepeh ini sepakat menggunakan satu lahan. “Makam satu lokasi, tidak ada perbedaan antara Islam dan Kristen. Ketika ada warga Kristen meninggal, warga Islam juga ikut mengantarkan ke makam. Ini sudah tradisi di dusun kami,” pungkasnya. (*)

(jo/mar/mar/JPR)

 TOP
©2019 PT Jawa Pos Group Multimedia